Aurelia Adhisti sudah terbiasa menjadi bahan pembicaraan. Sejak semester pertama, tubuhnya yang gemuk, pipinya yang berisi, dan kacamata tebalnya selalu menjadi alasan bagi sebagian mahasiswa untuk melontarkan komentar yang tidak perlu. Ada yang menyebutnya lemari berjalan. Ada yang memanggilnya bola beras. Ada pula yang terang-terangan bertanya bagaimana mungkin seorang gadis dengan penampilan seperti dirinya bisa begitu percaya diri menjawab pertanyaan dosen.
Aurelia tidak pernah benar-benar memahami mengapa sebagian orang merasa berhak menentukan nilai seseorang hanya dari bentuk tubuhnya.
Namun, ia juga tidak punya cukup waktu untuk memikirkan pendapat semua orang. Ia datang ke kampus untuk belajar.
Bukan untuk memenangkan kontes kecantikan.
Pagi itu, ketika Aurelia berjalan menyusuri koridor gedung fakultas sambil membawa setumpuk buku, suara tawa beberapa mahasiswi terdengar dari dekat tangga.
"Eh, itu dia."
"Siapa?"
"Siapa lagi? Si gembrot penggemar berat Nathaniel."
Aurelia tetap berjalan.
Ia sudah mengenali suara-suara itu.
Salah satu mahasiswi, Vanessa Clarissa, sengaja melangkah ke tengah koridor untuk menghadangnya. Vanessa terkenal cantik, modis, dan selalu dikelilingi teman-teman yang mengikuti ke mana pun ia pergi. Ia juga salah satu perempuan yang terang-terangan menyukai Nathaniel.
Sayangnya, ketertarikan Vanessa kepada Nathaniel tidak pernah membuat pria itu memberikan perhatian khusus kepadanya.
Dan entah mengapa, hal itu membuat Vanessa semakin mudah merasa terganggu oleh siapa pun yang dikabarkan menyukai Nathaniel termasuk Aurelia.
"Aurelia, boleh tanya sesuatu?" Vanessa memasang senyum manis yang tidak mencapai matanya.
Aurelia berhenti.
"Boleh. Asal pertanyaannya masuk akal."
Beberapa mahasiswi di belakang Vanessa saling pandang.
Vanessa mengabaikan sindiran itu.
"Aku dengar kamu suka sama Nathaniel."
Aurelia mengerjapkan mata.
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba.
"Memangnya kenapa?"
Vanessa mengangkat bahu.
"Enggak apa-apa. Aku cuma penasaran. Kamu benar-benar percaya Nathaniel bisa suka sama kamu?"
Koridor yang semula ramai perlahan dipenuhi mahasiswa yang mulai memperhatikan mereka.
Aurelia menarik napas pelan.
"Aku enggak pernah bilang Nathaniel suka sama aku."
"Tapi kamu suka sama dia, kan?"
"Itu urusan pribadi."
Vanessa tertawa kecil.
"Ya ampun, jangan marah begitu. Aku cuma bertanya. Lagipula, kamu seharusnya realistis. Nathaniel itu punya banyak pilihan."
Aurelia menatapnya dari balik kacamata.
"Kalau begitu, kenapa kamu repot-repot membahas pilihannya denganku?"
Senyum Vanessa memudar.
"Apa maksudmu?"
"Kalau Nathaniel punya banyak pilihan, seharusnya kamu enggak perlu mengkhawatirkan siapa yang menyukainya. Bukankah begitu?"
Seseorang di belakang Vanessa terkekeh.
Wajah Vanessa memerah.
"Kamu—"
"Maaf, aku ada kelas."
Aurelia melangkah melewatinya.
Namun, belum sampai tiga langkah, suara Vanessa kembali terdengar.
"Jangan terlalu percaya diri! Belum tentu Nathaniel mau melihatmu kalau kamu berdiri di sebelahnya!"
Langkah Aurelia terhenti.
Ia menoleh perlahan.
Untuk sesaat, koridor menjadi sunyi.
"Aku tahu penampilanku bukan seperti yang kamu anggap ideal," jawab Aurelia tenang. "Tapi aku tidak pernah meminta siapa pun untuk menyukaiku. Lagipula aku rasa Nathaniel pasti akan melihatku kalau ada di sebelahnya dengan badanku yang besar begini."
Vanessa menyilangkan tangan.
"Bagus kalau kamu sadar."
Aurelia tersenyum tipis.
"Dan satu lagi, Vanessa."
"Apa?"
"Kalau kamu ingin mendapatkan perhatian Nathaniel, cobalah membuatnya tertarik kepadamu. Bukan menghabiskan waktu untuk memastikan perempuan lain merasa tidak pantas berada di dekatnya."
Tawa kecil terdengar dari beberapa mahasiswa.
Vanessa membeku.
Aurelia kembali berjalan, meninggalkan koridor dengan kepala tegak meskipun jari-jarinya mencengkeram buku sedikit lebih erat.
Ia tidak menangis.
Tidak di hadapan mereka tetapi ketika sampai di sudut tangga yang sepi, Aurelia berhenti sebentar dan mengembuskan napas panjang.
Terkadang, ia lelah. Lelah berpura-pura bahwa semua perkataan orang lain tidak menyakitkan. Lelah harus membuktikan bahwa dirinya pantas dihormati hanya karena orang-orang lebih dulu memutuskan bahwa tubuhnya membuatnya kurang berharga.
Namun, setiap kali perasaan itu datang, ia selalu mengingat pesan ibunya.
Lia, kamu tidak perlu menjadi cantik menurut semua orang untuk layak dicintai. Kamu hanya perlu menjadi seseorang yang tidak kehilangan dirinya sendiri demi mendapatkan cinta.
Aurelia tersenyum kecil. Ia akan baik-baik saja. Suatu hari nanti, ia akan bertemu seseorang yang melihat dirinya lebih dari sekadar penampilan. Seseorang yang menyukai kecanggungannya, menghargai pikirannya, dan tidak membuatnya merasa harus meminta maaf karena menjadi dirinya sendiri. Tanpa disadarinya, pikiran Aurelia justru kembali kepada satu nama.
Nathaniel Atmadja.
Ia tahu perasaannya kepada pria itu mungkin tidak akan pernah terbalas. Nathaniel terlalu jauh dari dunianya.
Namun, bukankah menyukai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya?
Bagi Aurelia, melihat Nathaniel tersenyum dari kejauhan saja terkadang sudah cukup membuat hari yang melelahkan terasa sedikit lebih baik. Ia tidak pernah meminta lebih. Setidaknya, sebelum pria itu datang dan mengubah segalanya.
---
Siang harinya, Aurelia duduk di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas analisis bisnis. Di sekelilingnya, beberapa mahasiswa sibuk berdiskusi. Ada yang mengetik di laptop, ada yang membuka buku referensi, dan ada pula yang diam-diam bermain ponsel.
Aurelia sedang memeriksa sebuah perhitungan ketika suara kursi bergeser terdengar di hadapannya.
"Tempat ini kosong?"
Ia mendongak.
Dan seketika, pikirannya berhenti bekerja. Nathaniel Atmadja berdiri di hadapannya sambil membawa sebuah buku. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh meja kayu panjang. Aurelia menatap pria itu dengan mata membulat di balik kacamatanya.
Nathaniel mengangkat alis.
"Kenapa?"
Aurelia buru-buru menggeleng.
"Enggak. Kosong."
"Kalau begitu, gue duduk di sini."
Nathaniel menarik kursi tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Aurelia segera menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga ia khawatir Nathaniel bisa mendengarnya.
Kenapa dia duduk di sini?
Bukankah ada banyak meja kosong lainnya?
Aurelia mencoba kembali menatap layar laptop, tetapi konsentrasinya sudah berantakan. Sementara itu, Nathaniel membuka bukunya. Ia sempat melirik gadis di hadapannya. Dari dekat, Aurelia tampak berbeda dari kesan yang selama ini ia dengar melalui komentar orang-orang. Gadis itu tidak mencoba menarik perhatian siapa pun. Ia bahkan tampak begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga sesekali menggigit ujung pulpen ketika sedang berpikir.
Nathaniel tidak tahu mengapa ia memperhatikannya sedikit lebih lama. Mungkin karena ia baru saja mendengar namanya pagi tadi.
Atau mungkin karena gadis itu sama sekali tidak berusaha memulai percakapan dengannya seperti kebanyakan orang yang duduk berdekatan dengannya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Sampai Nathaniel melirik layar laptop Aurelia.
"Analisis arus kas?"
Aurelia tersentak.
"Eh?"
"Itu tugas Manajemen Bisnis?"
Aurelia mengangguk.
"Iya."
Nathaniel memperhatikan tabel yang terbuka di layar.
"Menurut lo, perusahaan ini masih bisa diselamatkan?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi Aurelia langsung mengalihkan perhatiannya dari rasa gugup kepada soal di hadapannya.
Ia memperbaiki posisi duduk.
"Bisa, tapi bukan dengan strategi yang dipakai sekarang."
Nathaniel menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena masalah utamanya bukan cuma penurunan penjualan. Struktur biayanya terlalu besar, sementara mereka mempertahankan tiga lini produk yang sama-sama merugi. Kalau mereka hanya meningkatkan promosi tanpa memperbaiki efisiensi, pengeluaran akan semakin besar."
Aurelia menunjuk beberapa bagian di layar.
"Menurutku, mereka harus mengevaluasi produk yang paling banyak menghabiskan biaya, mengalihkan anggaran pemasaran ke produk dengan margin keuntungan lebih tinggi, dan menegosiasikan ulang kontrak dengan pemasok."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Tapi kalau ini perusahaan sungguhan, aku tetap perlu memeriksa data lengkapnya. Angka di tugas ini terlalu terbatas untuk menentukan keputusan akhir."
Nathaniel terdiam.
Ia tidak menyangka gadis yang tadi hanya menjawab dengan gugup itu akan menjelaskan persoalan bisnis dengan begitu runtut.
"Lo yang ngerjain semua ini?"
Aurelia mengangguk.
"Iya."
"Sendiri?"
"Iya. Teman kelompokku sedang mengurus bagian presentasi."
Nathaniel memperhatikan tabel itu sekali lagi.
"Analisis lo bagus."
Aurelia tertegun. Dua kata sederhana.
Analisis lo bagus.
Namun, bagi seorang gadis yang lebih sering mendengar komentar tentang tubuhnya daripada kemampuan berpikirnya, pujian itu terasa begitu berbeda.
"Terima kasih," jawabnya pelan.
Nathaniel kembali membuka bukunya.
"Jangan terlalu banyak begadang. Kesalahan kecil bisa bikin analisis yang bagus jadi berantakan."
Aurelia menatapnya dengan bingung.
Kemudian, sebelum sempat menahan diri, ia bertanya, "Kamu sering begadang juga?"
Nathaniel mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya, Aurelia menyadari bahwa ia baru saja berbicara dengan Nathaniel seolah-olah pria itu adalah mahasiswa biasa bukan idola kampus.
Bukan pria yang selama ini hanya berani ia kagumi dari kejauhan.
Nathaniel tersenyum tipis.
"Sering."
"Kalau begitu, kamu juga jangan terlalu banyak begadang."
Kalimat itu keluar begitu saja. Aurelia langsung ingin menutup mulutnya sendiri.
Namun, Nathaniel justru tertawa kecil.
"Oke. Gue usahakan."
Senyum itu hanya berlangsung beberapa detik.
Setelah itu, Nathaniel kembali membaca bukunya, sementara Aurelia menunduk dan berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar tidak karuan. Ia tidak tahu bahwa percakapan sederhana tersebut kelak akan menjadi salah satu kenangan yang paling menyakitkan baginya.
Karena suatu hari nanti, ketika semua yang terjadi di antara mereka telah berakhir, Aurelia akan mengingat bagaimana Nathaniel pernah duduk di hadapannya, mendengarkan pendapatnya, dan memujinya tanpa sedikit pun mengejek penampilannya.
Ia akan mengingat hari ketika ia mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, Nathaniel Atmadja tidak sama dengan orang-orang lainnya.
Dan Nathaniel sendiri belum menyadari bahwa gadis di hadapannya bukan sekadar bagian dari taruhan yang ia terima pagi tadi.
Sore menjelang ketika Aurelia meninggalkan perpustakaan.
Ia berjalan melewati halaman kampus dengan setumpuk buku di pelukannya. Langit mulai berubah keemasan, sementara beberapa mahasiswa duduk di bangku taman sambil menikmati udara sore.
Aurelia baru saja hendak menuruni tangga ketika seseorang memanggil namanya.
"Aurelia!"
Ia menoleh.
Nathaniel berdiri beberapa meter darinya.
Aurelia hampir menjatuhkan buku-bukunya.
"I-iya?"
Nathaniel berjalan mendekat.
"Lo mau ke gedung fakultas?"
Aurelia mengangguk.
"Iya. Ada kelas tambahan."
"Gue juga ke sana."
Nathaniel mengambil satu buku dari tumpukan yang dibawanya sebelum Aurelia sempat bereaksi.
"Biar gue bantu."
Aurelia menatap buku yang kini berada di tangan Nathaniel, lalu menatap wajah pria itu.
"Enggak usah. Aku bisa bawa sendiri."
"Gue tahu lo bisa."
Nathaniel melirik buku-buku yang masih dipeluknya.
"Tapi gue bisa bantu, kan?"
Aurelia kehilangan kata-kata. Ia akhirnya mengangguk kecil. Mereka berjalan berdampingan melewati halaman kampus.
Bagi Nathaniel, itu hanya perjalanan singkat menuju gedung fakultas. Ia tidak memikirkan apa pun selain percakapan ringan tentang kelas dan tugas kuliah.
Namun, bagi Aurelia, beberapa menit itu terasa seperti potongan adegan dari mimpi yang tidak pernah berani ia bayangkan.
Pria yang selama ini hanya ia kagumi dari jauh berjalan di sampingnya. Pria itu bahkan membawa salah satu bukunya. Ketika mereka sampai di persimpangan koridor, Nathaniel menyerahkan buku tersebut.
"Ini."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Nathaniel hendak pergi, tetapi tiba-tiba berhenti.
"Oh, ya."
Aurelia mendongak.
"Apa?"
"Nama lo Aurelia, kan?"
Gadis itu terdiam.
Nathaniel sudah mengetahui namanya. Tentu saja ia tahu. Mereka berada di universitas yang sama.
Namun, entah mengapa, mendengar Nathaniel menyebut namanya secara langsung membuat dadanya terasa hangat.
"Iya," jawabnya pelan. "Aurelia Adhisti."
Nathaniel mengangguk.
"Oke, Aurelia. Sampai ketemu."
Kemudian, ia pergi.
Aurelia berdiri di tempatnya selama beberapa detik, memandangi punggung Nathaniel yang semakin menjauh.
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada kemungkinan kecil bahwa sesuatu yang indah bisa terjadi dalam hidupnya.
Ia tidak tahu bahwa Nathaniel sudah membuat keputusan tentang dirinya. Ia tidak tahu bahwa perhatian kecil yang baru saja diterimanya merupakan bagian dari sebuah permainan.
Sementara itu, di ujung koridor, Nathaniel mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan dari Kevin sudah menunggunya.
Kevin: Gimana? Udah mulai deketin target kita?
Nathaniel mengetik jawaban singkat.
Nathaniel: Baru ngobrol.
Balasan Kevin datang hampir seketika.
Kevin: Jangan lupa, tiga bulan. Bikin dia jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Nathaniel membaca pesan itu, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke saku. Entah mengapa, kali ini ia tidak merasa ingin tertawa. Ia teringat bagaimana Aurelia menjelaskan tugasnya dengan begitu serius. Bagaimana gadis itu mengingatkannya agar tidak begadang. Bagaimana senyum kecil muncul di wajahnya ketika ia menawarkan bantuan membawa buku. Hal-hal sederhana yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Nathaniel mengembuskan napas. Ia hanya perlu menjalani permainan ini selama tiga bulan. Setelah itu, semuanya akan kembali seperti semula.
Setidaknya, itulah yang masih ia percayai.
Di sisi lain koridor, Aurelia melangkah menuju kelas dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya.
Ia belum pernah sebahagia itu hanya karena percakapan singkat.
Dan jika suatu hari Nathaniel benar-benar mengatakan bahwa ia menyukainya, Aurelia mungkin akan menjadi gadis paling bahagia di dunia.
Sayangnya, ia belum tahu bahwa terkadang, hal paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang menolak cinta kita.
Melainkan ketika seseorang menerima cinta itu, membuat kita percaya bahwa kita akhirnya dipilih, lalu menghancurkan semua keyakinan yang telah kita bangun.