Pukul sepuluh pagi, kafe paling ramai di Universitas Atmadja dipenuhi suara percakapan mahasiswa. Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur dengan tawa dan denting sendok yang beradu dengan cangkir.
Di sudut kafe dekat jendela, seorang pria duduk dengan santai sambil memainkan ponselnya. Kemeja putih yang dikenakannya tergulung sampai siku. Rambut hitamnya tertata sedikit berantakan, justru membuat penampilannya semakin menarik. Sesekali, beberapa mahasiswi yang melewati meja itu melirik diam-diam, lalu berbisik kepada teman mereka.
Pria itu adalah Nathaniel Atmadja.
Nama yang hampir tidak pernah absen dari pembicaraan mahasiswa Universitas Atmadja. Tampan, cerdas, berasal dari keluarga kaya, dan memiliki pesona yang membuat banyak perempuan rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatiannya. Nathaniel bahkan tidak perlu berusaha keras untuk menjadi pusat perhatian. Cukup dengan duduk diam, keberadaannya sudah mengundang banyak pasang mata.
Namun, pagi itu Nathaniel sama sekali tidak tertarik memperhatikan orang-orang yang meliriknya.
Ia sedang membaca pesan dari ayahnya ketika sebuah suara mengganggu konsentrasinya.
"Nat, gue punya sesuatu yang menarik buat lo."
Kevin Alvaro menjatuhkan tubuhnya ke kursi di seberang Nathaniel. Senyum jahil menghiasi wajahnya, seolah-olah ia baru saja menemukan hiburan yang akan membuat hari mereka jauh lebih menyenangkan.
Di sebelah Kevin, Dimas Pradipta ikut duduk sambil membawa dua gelas kopi.
Nathaniel tidak mengangkat kepala.
"Kalau lo mau ngajak gue ke klub malam lagi, jawabannya enggak."
"Siapa juga yang ngajak lo ke klub malam?" Kevin mendengus. "Hidup lo membosankan banget akhir-akhir ini. Kuliah, rapat organisasi, pulang. Memangnya lo robot?"
"Gue lebih suka jadi robot daripada mendengarkan ocehan lo."
Dimas terkekeh.
Kevin memutar bola mata, tetapi bukannya tersinggung, ia malah semakin menyeringai. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto, lalu menyodorkannya tepat di depan Nathaniel.
"Lihat ini."
Nathaniel akhirnya mengangkat wajah.
Di layar ponsel itu terdapat foto seorang mahasiswi bertubuh gemuk dengan rambut hitam panjang yang diikat sederhana. Kacamata berbingkai besar bertengger di hidungnya. Ia mengenakan kardigan berwarna krem dan membawa beberapa buku tebal di depan d**a.
Gadis itu sedang berjalan di koridor kampus, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang telah mengambil fotonya.
Nathaniel mengerutkan kening.
"Siapa dia?"
Kevin langsung tertawa.
"Serius, Nat? Lo enggak tahu dia?"
"Memangnya gue harus kenal semua mahasiswa di kampus ini?"
"Itu Aurelia Adhisti. Mahasiswi jurusan Manajemen Bisnis. Katanya, otaknya encer banget. Nilainya hampir selalu sempurna, dosen-dosen juga suka sama dia."
Kevin berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada mengejek.
"Tapi sayang, penampilannya begitu."
Nathaniel kembali melihat foto itu sebelum mengembalikan ponsel Kevin ke atas meja.
"Terus?"
Kevin mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Gue punya tantangan buat lo."
"Enggak tertarik."
"Belum dengar juga tantangannya, lo langsung nolak."
"Enggak perlu. Biasanya ide lo enggak jauh-jauh dari kebodohan."
Dimas kembali tertawa, sementara Kevin mengabaikannya.
"Lo tahu enggak? Aurelia itu suka sama lo."
Kali ini Nathaniel benar-benar mengangkat alis.
"Sama gue?"
"Iya. Sudah lama, katanya. Teman-teman sekelasnya juga tahu. Setiap lo lewat, dia selalu memperhatikan lo. Kalau lo bicara, dia langsung diam dan mendengarkan. Bahkan waktu lo jadi pembicara di seminar fakultas bulan lalu, dia duduk paling depan."
Nathaniel terdiam beberapa saat.
Ia mencoba mengingat wajah gadis dalam foto itu. Samar-samar, ia memang pernah melihatnya di perpustakaan, ruang kuliah umum, dan beberapa acara kampus. Namun, mereka tidak pernah berbicara.
Baginya, Aurelia hanyalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang berbagi ruang dengannya setiap hari.
"Jadi, apa masalahnya?" tanyanya.
Kevin menyeringai lebar.
"Terima cintanya."
Nathaniel menatapnya seolah-olah Kevin baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
"Apa?"
"Kalau dia benar-benar menyatakan cinta kepada lo, terima. Jadilah pacarnya selama tiga bulan."
Dimas yang sedang menyesap kopi mendadak berhenti.
"Kevin."
"Apa?"
"Lo serius?"
"Serius banget."
Kevin kembali menatap Nathaniel.
"Bayangin, seorang cewek yang bahkan enggak pernah berani bermimpi bisa jadi pacar lo tiba-tiba mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia pasti merasa seperti memenangkan lotre."
Nathaniel menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Dan setelah tiga bulan?"
"Kita lihat saja sampai kapan dia sanggup mempertahankan hubungan itu."
Kevin tertawa kecil sebelum menambahkan kalimat yang membuat suasana meja mereka berubah.
"Pada akhirnya, lo putusin dia di depan teman-teman kampus. Biar dia sadar diri. Biar dia tahu kalau enggak semua keinginan bisa jadi kenyataan."
Dimas meletakkan gelas kopinya dengan agak keras.
"Menurut lo itu lucu?"
Kevin menoleh.
"Kenapa? Lo tiba-tiba jadi pembela perempuan?"
"Bukan begitu. Gue cuma merasa ini keterlaluan."
"Ah, jangan sok suci, Dim." Kevin melambaikan tangan. "Kita cuma bercanda. Aurelia juga enggak bakal mati cuma karena diputusin."
Nathaniel tidak segera menjawab.
Ia menatap foto Aurelia yang masih terbuka di layar ponsel Kevin. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman mendengar cara Kevin membicarakan gadis itu. Namun, perasaan itu terlalu samar untuk ia pahami. Ia sendiri tidak mengenal Aurelia, tidak mengetahui kehidupannya, dan tidak pernah memikirkan gadis itu lebih dari beberapa detik.
Bagi Nathaniel, ini hanyalah permainan bodoh yang akan segera dilupakannya.
"Kenapa harus gue?" tanyanya akhirnya.
Kevin langsung menepuk meja.
"Nah! Itu baru pertanyaan yang benar."
Ia mengangkat tiga jari.
"Karena dia suka sama elu. Dia itu cewek jelek yang pedenya nggak ketulungan. Kita di sini hanya pengen dia sadar kalau bermimpi itu jangan ketinggian. Otak boleh jenius, tapi sadar diri juga kali kalau fisik dia itu nggak banget deh. Tiga bulan, Nat. Cuma tiga bulan. Kalau lo berhasil menjalani hubungan itu tanpa ketahuan bahwa ini taruhan, gue traktir lo makan di restoran mana pun yang lo mau. Satu bulan penuh!"
Nathaniel tertawa pendek.
"Gue bisa bayar makanan gue sendiri."
"Kalau begitu, apa yang lo mau?"
Nathaniel berpikir sebentar, kemudian mengangkat bahu.
"Enggak ada."
"Berarti lo takut?"
Tatapan Nathaniel berubah.
Kevin mengenal tatapan itu. Ia tahu betul bahwa Nathaniel tidak suka ditantang, terutama ketika seseorang meragukan keberaniannya.
"Takut?" Nathaniel mengulang dengan senyum tipis. "Sama sekali enggak."
"Kalau begitu, terima tantangannya."
Dimas menggeleng pelan.
"Nat, lo enggak harus mengikuti semua ide gila Kevin."
Nathaniel tidak menjawabnya.
Ia kembali menatap foto Aurelia.
Tiga bulan.
Apa susahnya berpura-pura menjadi pacar seseorang selama tiga bulan?
Ia sudah pernah menghadiri acara keluarga bersama perempuan yang bahkan tidak dikenalnya dengan baik. Ia juga sudah sering menghadapi orang-orang yang mendekatinya hanya karena nama Atmadja. Setidaknya, pikirnya, kali ini ia hanya perlu menerima perasaan seseorang.
Setelah tiga bulan, hubungan itu akan berakhir. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
"Baiklah," katanya.
Kevin terdiam sesaat, seolah-olah tidak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya.
"Loh, serius?"
Nathaniel memasukkan ponselnya ke saku.
"Katanya cuma tiga bulan, kan?"
Wajah Kevin langsung dipenuhi senyum kemenangan.
"Anjir! Gue tahu lo enggak akan mengecewakan!"
Ia mengulurkan tangan, dan Nathaniel menyambutnya dengan santai. Jabat tangan itu menjadi awal dari sebuah permainan.
Permainan yang kelak akan menjadi penyesalan terbesar Nathaniel Atmadja.
Sementara itu, beberapa meter dari meja mereka, seorang gadis berkacamata sedang berdiri di depan mesin penjual minuman.
Aurelia Adhisti tidak mengetahui apa pun tentang percakapan itu. Ia tidak tahu bahwa namanya baru saja dijadikan bahan taruhan.
Ia juga tidak tahu bahwa seseorang telah merencanakan bagaimana cara menghancurkan hatinya.
Yang ia tahu hanyalah bahwa pagi itu ia harus menyelesaikan tugas kelompok, mengembalikan buku ke perpustakaan, dan menghadiri kelas berikutnya. Seperti biasa, ia menjalani harinya dengan tenang. Setidaknya, sampai takdir mempertemukannya dengan Nathaniel.