"Mengadili. Mengabulkan gugatan Penggugat."
Suara hakim ketua itu datar dan cepat, seperti orang yang sudah membacakan ratusan putusan dan tahu bahwa setiap kata di dalamnya akan mengubah hidup seseorang. Aku duduk tegak di kursi penggugat. Di sebelahku Bu Sekar, pulpennya bergerak mencatat. Di bangku pengunjung di belakangku ada Papa, dengan kemeja batik terbaiknya, kemeja yang sama dengan hari kami mendaftarkan perkara ini.
Mas Reno duduk di kursi tergugat. Sendirian, dengan kemeja seragam abu-abu. Dia izin setengah hari lagi.
Sebulan lebih sejak mediasi gagal, sidang demi sidang sudah kami lewati. Gugatan dibacakan. Mas Reno menjawab dengan satu lembar tulisan tangan yang membenarkan hampir semua dalil gugatanku. Papa dan Bu Mirna bersaksi di bawah sumpah. Bu Mirna bercerita lengkap sekali, sampai warna daster yang kupakai pagi itu, sampai hakim dua kali memintanya mempersingkat.
Hari ini tinggal satu hal: mendengarkan.
"Menjatuhkan talak satu ba'in sughra Tergugat terhadap Penggugat."
Aku memejamkan mata sebentar. Dua tahun pernikahan. Tiga baris kalimat.
"Menetapkan anak Penggugat dan Tergugat yang bernama Raja berada di bawah pengasuhan Penggugat, dengan kewajiban Penggugat memberi akses kepada Tergugat untuk bertemu dengan anaknya."
Di kursi tergugat, Mas Reno menunduk. Bahunya turun sedikit, entah lega, entah sedih. Mungkin keduanya.
"Menghukum Tergugat untuk membayar nafkah anak tersebut sebesar tujuh ratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan, sampai anak tersebut dewasa atau mandiri."
Tujuh ratus lima puluh ribu. Bu Sekar sempat meminta lebih besar. Hakim menimbang slip gaji Mas Reno dari gudang ekspedisi, lalu memutuskan angka itu. Sesuai kemampuannya, kata putusan itu.
Dulu Mas Reno minta lima juta untuk satu kali makan siang di restoran bersama mamanya dan Rini. Sekarang tujuh ratus lima puluh ribu adalah sebagian besar sisa gajinya setelah ongkos angkot dan beras.
Palu hakim diketuk.
Bunyinya tidak sekeras yang kubayangkan. Pelan, kering, dan pendek. Bunyi yang mengakhiri sesuatu jarang sekali terdengar megah.
Aku menunggu diriku menangis, atau tertawa, atau setidaknya merasakan sesuatu yang besar. Yang datang justru rasa penuh di dada. Aku melirik jam dinding ruang sidang. Jam menyusui Raja sudah lewat setengah jam. Mama pasti sedang menimang-nimangnya di rumah sambil menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang, satu-satunya lagu yang dia hafal sampai habis.
Ternyata hidup tidak berhenti untuk merayakan apa pun. Bayi tetap lapar.
***
Di lorong pengadilan, Bu Sekar menjelaskan sisanya sambil merapikan berkas. Putusan itu baru berkekuatan hukum tetap empat belas hari lagi, kalau tidak ada yang mengajukan banding. Sesudah itu, akta cerai bisa diambil.
"Mas gak akan banding," kata Mas Reno. Dia berdiri beberapa langkah dari kami, tali kartu pegawainya masih tergantung di leher.
Bu Sekar mengangguk. "Terima kasih, Pak Reno."
Papa menepuk bahuku, lalu berjalan lebih dulu ke tangga bersama Bu Sekar. Papa memang begitu. Dia tahu kapan harus mengajak semua orang bicara, dan kapan harus pura-pura sibuk mencari permen jahe di saku kemejanya.
Tinggal kami berdua di lorong itu. Dua orang yang sekarang sudah bukan suami istri, berdiri di depan papan pengumuman jadwal sidang.
"Jaga Raja, Nin."
"Itu kerjaanku dari hari pertama, Mas."
Mas Reno menelan ludah. Lalu dia mengangguk. Dia tidak membantah, karena dia tahu persis hari pertama mana yang kumaksud.
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Di bawahnya, dia memegang kantong plastik kecil yang berat sebelah.
"Ini nafkah Raja bulan ini. Mas gajian kemarin."
Aku menerima amplop itu. Di dalamnya ada beberapa lembar uang kertas, dilipat rapi. Lalu dia menyodorkan kantong plastik kecil itu.
"Kurangnya receh. Mas kumpulin dari kembalian angkot."
Aku membuka kantong plastik itu. Koin lima ratusan. Koin seribuan. Beberapa koin dua ratusan yang sudah kusam. Semuanya ditumpuk rapi dan diikat karet gelang per sepuluh keping, seperti ditata oleh orang yang menghitungnya berkali-kali sebelum tidur.
Aku memandangi koin-koin itu lama.
Beberapa hari sesudah Raja lahir, Mas Reno minta uang untuk membelikan pizza mamanya dan Rini. Aku mengeluarkan dompet dan memberinya uang koin. Dia memandangi koin di telapak tangannya dengan wajah tersinggung, lalu mengucapkan sebuah kalimat yang masih kuingat sampai sekarang.
"Ini koin, Mas," kataku pelan. "Permen aja gak dapat."
Mas Reno membeku. Lalu dia tertawa, pendek dan serak, sambil mengusap tengkuknya.
"Kamu masih ingat."
"Aku ingat semuanya, Mas."
"Iya." Dia memandangi kantong plastik di tanganku. "Dulu Mas pikir koin itu penghinaan. Sekarang Mas tahu, sepuluh keping lima ratusan itu ongkos angkot sekali jalan."
Aku tidak menjawab. Aku memasukkan amplop dan kantong koin itu ke dalam tas, pelan-pelan, seperti memasukkan sesuatu yang bisa pecah.
"Sabtu Mas datang?" tanyaku.
"Datang." Dia memakai lagi tali kartu pegawainya yang sempat miring. "Mas harus balik ke gudang. Jam satu ada truk masuk."
Dia berjalan ke tangga, lalu berhenti di anak tangga pertama dan menoleh.
"Nin. Makasih udah gak lapor polisi soal uang butik."
"Bukan buat kamu, Mas. Buat Raja."
"Iya. Mas tahu." Dia tersenyum tipis. "Tetap makasih."
***
Ponselku berdenting di mobil, ketika Papa menyetir pulang dengan kecepatan yang membuat angkot pun menyalip kami.
[Gimana, Nin?]
Dari Hani. Sidangnya sendiri masih berjalan, minggu depan giliran saksinya.
[Selesai, Han.]
[Kalau gitu kata yang benar apa?]
Aku memandangi jalan, lalu mengetik satu kata.
[Pulang.]
Papa melirik ponselku sekilas, lalu kembali menatap jalan. Di lampu merah, dia berdeham seperti biasa.
"Papa gak akan bilang bangga sama kamu," katanya. "Nanti kamu geli."
"Papa barusan bilang."
"Papa bilang gak akan."
Aku tertawa dan menyandarkan kepala ke kaca jendela. Papa ikut tersenyum, lalu menyetir lebih pelan lagi, kalau itu memang mungkin.
***
Kafka sudah pulang les ketika kami tiba. Dia sedang menggendong Raja di depan televisi sambil membacakan buku Pengantar Ilmu Hukum bekas yang dibelinya di lapak buku dekat sekolah, kepada bayi tiga bulan yang sama sekali tidak tertarik.
"Udah, Mbak?"
"Udah."
"Mbak resmi janda?"
"Empat belas hari lagi."
"Oh. Masih ada masa garansi."
Aku tertawa, lalu pergi ke dapur. Di rak atas ada toples kaca besar yang sudah lama kosong. Toples kerupuk. Toples yang tiga bulan lalu menjadi satu-satunya sumber sarapan Mas Reno dan keluarganya di rumah ini.
Kuturunkan toples itu, kucuci, lalu kukeringkan. Kumasukkan koin-koin dari kantong plastik tadi ke dalamnya, satu ikat demi satu ikat. Bunyinya berdenting-denting di dasar kaca.
Kafka menyusul ke dapur dengan Raja di gendongan.
"Itu toples kerupuk, Mbak?"
"Dulu."
Aku mengambil spidol hitam besar milik Kafka dari laci, spidol yang sama dengan yang dulu dipakainya menulis label kardus pindahan, lalu menulis di selembar kertas dan menempelkannya di toples itu.
TABUNGAN RAJA. DARI PAPANYA.