"Ini kue lapis. Mama bikin sendiri tadi subuh. Gak kadaluarsa."
Mertuaku menyodorkan kotak karton putih itu di depan pagar dengan kedua tangan, seperti orang menyerahkan rapor. Di sebelahnya, Mas Reno berdiri dengan kemeja yang lipatan lengannya masih dobel.
Gak kadaluarsa. Rupanya mertuaku masih ingat kaleng biskuit di hari pertamanya menginap di rumahku. Bagus. Aku juga masih ingat.
"Masuk, Ma."
Dia masuk pelan-pelan, menoleh ke kiri dan ke kanan seperti tamu yang baru pertama kali datang. Padahal dua tahun dia keluar masuk rumah ini tanpa mengetuk. Dulu dia langsung duduk di sofa paling empuk dan menyuruhku membawakan kopernya. Hari ini dia memilih kursi kayu di dekat pintu, dan duduk di ujungnya saja.
Penampilannya berubah. Kebaya brokat ungu dan sanggul tingginya entah ke mana. Hari ini dia memakai blus katun sederhana, rambutnya digelung seadanya. Di punggung tangannya ada bintik-bintik merah kecil, bekas cipratan minyak. Rupanya menggoreng risoles setiap subuh tidak semudah menyuruh orang lain menggoreng ayam.
Kafka di meja makan mengangkat wajah dari buku latihan soal ujian masuk kuliahnya. Ujian sekolahnya sudah selesai minggu lalu. Matanya menyipit pada mertuaku, lalu berpindah ke kotak kue di tanganku.
"Mbak, Kafka cicip duluan. Buat jaga-jaga."
"Kafka."
"Iya, iya. Duduk manis."
***
Raja baru bangun tidur. Aku menggendongnya keluar dari kamar, dan mertuaku langsung berdiri.
"Boleh Mama gendong?"
Aku menimbang sebentar. Lalu kuserahkan Raja padanya.
Tangan mertuaku ternyata tahu caranya, jauh lebih luwes daripada anaknya yang belajar dari video bidan. Satu tangan di bawah tengkuk, satu tangan di bawah bokong, lalu Raja ditempelkan ke dada dan diayun pelan. Bagaimanapun caranya, perempuan ini pernah membesarkan dua anak.
Raja memandanginya, lalu menggenggam jari telunjuk neneknya. Erat sekali, seperti semua bayi menggenggam apa saja.
Wajah mertuaku runtuh.
Tangisnya pelan sekali. Dia hanya menunduk, dan bahunya bergetar, dan air matanya jatuh ke selimut Raja. Mas Reno memalingkan wajah ke jendela.
"Ma," kata Mas Reno akhirnya, pelan. "Katanya mau ngomong."
Mertuaku mengusap pipi dengan punggung tangannya yang bebas. Dia menarik napas panjang sekali.
"Waktu kamu melahirkan," katanya, "Mama yang ngajak Reno pergi."
Aku diam.
"Reno sempat bilang kamu sakit perut. Mama bilang, perempuan hamil sakit perut itu biasa. Paling cari perhatian." Suaranya pecah di ujung. "Mama yang pilih tempat wisata itu. Mama yang pesan restoran itu. Mama yang suruh Reno pasang fotonya di status, biar ibu-ibu arisan lihat kita bisa makan di tempat begitu."
Pakai uangku, Ma. Kalimat itu sudah di ujung lidahku, tapi aku menelannya lagi. Dia sudah tahu.
"Terus waktu kamu pulang bawa bayi, Mama malah datang bawa koper." Mertuaku tertawa kecil, tawa yang lebih mirip isakan. "Tiap subuh Mama bikin kue sambil mikir. Kalau Mama jadi kamu, mertua kayak Mama udah Mama usir dari hari pertama. Kamu cuma kasih kerupuk."
"Sama teh, Ma."
"Iya." Dia bergidik sedikit. "Sama teh."
Di meja makan, Kafka terbatuk keras sekali dan menutup wajahnya dengan buku.
"Satu lagi." Mertuaku menatap Raja, tidak berani menatapku. "Gelang itu. Mama bilang pinjam. Mama gak pinjam. Mama ambil. Dari laci meja riasmu, waktu kamu ke dokter kandungan."
"Aku tahu, Ma."
"Kamu tahu?"
"Dari awal. Gak ada orang pinjam gelang tanpa bilang, terus dipakai ke pesta."
Mertuaku mengangguk pelan, lalu diam saja. Selama dua tahun aku mengenalnya, baru kali ini dia mendengar tuduhan tanpa membalas dengan tuduhan yang lebih keras.
Matanya kemudian berkeliling ruang tamu dan berhenti di atas bufet. Di tempat bingkai foto pernikahan kami dulu berdiri, sekarang hanya ada bekas persegi yang lebih bersih daripada sekelilingnya.
"Foto nikahan kalian ke mana?"
"Kacanya retak, Ma."
"Itu bukan kena angin," kata mertuaku pelan. "Reno nyenggol pakai siku. Rebutan remote sama Rini."
"Ma!" Mas Reno menoleh dari jendela.
"Kan Mama lagi jujur-jujurnya."
***
Kue lapis itu kupotong di dapur dan kusajikan di piring. Mertuaku mencicipi kuenya sendiri dengan ragu, seolah takut kuenya berubah rasa di rumahku.
"Mama udah keluar dari arisan," katanya tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Malu. Sama gak ada uangnya." Dia memandangi piringnya. "Utang Mama ke Bu Wiwik tinggal dua juta. Mama cicil dari jualan kue. Seminggu sekali Mama antar ke rumahnya, sekalian Bu Wiwik pesan risoles."
Mas Reno menghela napas lega. Terlalu cepat, ternyata.
"Nina, sebenarnya Mama..." Mertuaku berhenti. Dia melirik anaknya.
"Ma," kata Mas Reno.
"Iya, iya. Gak jadi."
"Gak jadi apa, Ma?" tanyaku.
Mertuaku menghela napas panjang, lalu menjawab dengan jujur, dan kejujuran itu justru yang hampir membuatku tertawa.
"Gak jadi minta tolong bayarin sisa utang Bu Wiwik."
"Bagus, Ma. Soalnya jawabanku masih sama."
"Mama tahu." Dia meletakkan garpu. "Makanya gak jadi."
***
Sebelum mereka pulang, aku duduk di seberang mertuaku. Raja sudah kembali di pangkuanku, mengantuk lagi.
"Aku terima maaf Mama."
Mertuaku mengangkat wajah. Matanya basah lagi.
"Tapi kuncinya gak, Ma."
Dia mengernyit, belum mengerti.
"Pintu rumah ini gak akan kebuka lebar kayak dulu. Mama boleh ketemu Raja. Dua minggu sekali, Sabtu, bareng Mas Reno, di ruang tamu ini. Kalau mau datang, bilang ke Mas Reno. Mas Reno yang bilang ke aku."
"Mama gak boleh telepon kamu langsung?"
"Belum, Ma."
Belum. Aku sengaja memilih kata itu. Bukan tidak. Bukan juga nanti. Belum.
Mertuaku mengangguk berkali-kali, seperti orang yang menerima nomor antrean dan bersyukur masih kebagian.
"Dua minggu sekali cukup," katanya. "Mama juga harus jualan."
Di pagar, dia berhenti dan berbalik. Wajahnya ragu, seperti hendak menanyakan sesuatu yang sudah lama mengganjal.
"Mama cuma mau tahu satu hal, Nina. Teh malam itu kamu kasih apa?"
"Rahasia, Ma."
Kafka, yang ikut mengantar sampai teras, langsung masuk ke dalam rumah dengan bahu berguncang.
Mertuaku memandangiku lama, lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tersenyum padaku tanpa meminta apa-apa. Kecil, kaku, dan sebentar sekali. Tapi ada.
Mas Reno menggandeng mamanya ke ujung jalan, ke bawah pohon mangga Bu Mirna, menunggu angkot.
***
Kafka sudah duduk di meja makan dengan piring kue lapis ketika aku masuk. Dia memegang garpu seperti pisau bedah, memisahkan lapisan kue itu satu per satu.
"Ngapain?"
"Ngitung." Dia menunjuk lapisan-lapisan tipis cokelat dan putih itu dengan bangga. "Delapan belas lapis, Mbak."
Aku terdiam. Delapan belas. Persis jumlah transfer upah jahit borongan ke rekening atas nama Hartini.
Kafka rupanya memikirkan hal yang sama. Kami berpandangan, lalu tertawa bersamaan sampai Raja terbangun dan ikut merengek.
Aku mengambil sepotong. Manis, legit, dan wangi mentega. Ternyata mertuaku bisa juga membuat sesuatu yang manis, asal modalnya uang sendiri.