"Raja! Lihat sini! Lihat Om Kafka yang ganteng!"
Kafka berjongkok di depan sofa dengan ponsel terangkat tinggi-tinggi, menggoyang-goyangkan kerincingan jerapah di tangan satunya. Raja duduk bersandar di tumpukan bantal, memakai setelan beskap mini warna gading dan blangkon kecil yang sedikit kebesaran. Dia memandangi kerincingan itu, lalu memandangi Kafka, lalu memasukkan ujung blangkonnya ke mulut.
"Raja, jangan dimakan! Itu jahitan Tante Hani!"
Hari ini Raja genap enam bulan.
Hani menjahit setelan itu sendiri, malam-malam, di sela pesanan kebaya. "Masa namanya Raja, foto enam bulannya pakai kaus oblong," katanya waktu menyerahkan bungkusan itu tadi pagi. Sekarang dia duduk di lantai ruang tamuku, memegangi bantal supaya Raja tidak terguling, dan merapikan lipatan beskap setiap kali Kafka selesai memotret.
Akta cerai Hani keluar bulan lalu. Hari itu dia datang ke bengkel seperti biasa dan menjahit seperti biasa. Sorenya dia minta ditemani Kak Wulan dan Pak Darto mengambil mesin jahit tua dari rumah lamanya. Mesin itu sekarang berdiri di sudut bengkel lantai dua, dan kain batik yang dulu menutupinya dipakai sebagai alas meja potong. Hani mengontrak rumah petak dua gang dari butik. Bengkel jahit kami sekarang punya lima penjahit, dan separuh pesanannya datang dari pelanggan toko kue Siska.
"Lagi, Raja! Senyum! Bilang, Om Kafka ganteng!"
"Dia belum bisa ngomong, Kaf."
"Makanya dilatih dari sekarang, Mbak."
Kafka sudah lulus SMA. Nilainya cukup bagus untuk memaksaku menepati pasal lima, dan dia diterima di fakultas hukum sebuah universitas negeri lewat ujian masuk. Setiap malam dia membaca buku-buku tebal sambil bergumam sendiri, lalu mencoba menjelaskan isinya kepada Raja. Katanya dia juga sedang mencari beasiswa, supaya pasal lima tidak terlalu memberatkan Pihak Pertama.
Aku pura-pura tidak terharu waktu dia bilang begitu. Kafka pura-pura tidak melihat.
***
Mama datang membawa panci kecil berisi bubur beras saring. Papa membawa koran dan permen jahe, seperti biasa. Hari ini Raja makan untuk pertama kalinya, dan Mama sudah tiga hari membicarakan bubur ini seperti membicarakan pesta pernikahan.
Mas Reno datang pukul sepuluh kurang lima. Naik angkot, seperti biasa. Dia masih bekerja di gudang ekspedisi, dan bulan lalu dia dipercaya memegang catatan stok satu bagian gudang. Mas Reno yang dulu menyelipkan nota fiktif di laporan butik, sekarang setiap hari mencocokkan jumlah kardus dengan angka di buku. Kata Rini, abangnya paling marah kalau ada selisih satu kardus saja.
Rini sendiri sudah lulus juga. Nilainya pas-pasan, tapi utangnya ke teman-teman sekelas lunas seminggu sebelum ujian akhir. Sekarang dia jadi kasir di minimarket dekat gang. Kafka masih mengirim cuciannya ke laundry tempat Rini dulu bekerja, walaupun Rini sudah pindah kerja. Katanya sudah telanjur cocok wanginya.
Mas Reno menyerahkan amplop cokelat nafkah bulan ini, lalu sebuah kantong plastik kecil berisi receh yang sudah diikat karet per sepuluh keping. Aku membawanya ke dapur dan menuangnya ke toples kerupuk berlabel TABUNGAN RAJA. DARI PAPANYA. Toples itu sudah terisi separuh.
Dia juga membawa sekotak dadar gulung titipan mamanya. Minggu ini bukan jadwal mertuaku datang, dan dia menepatinya. Dari toko kue Siska datang kiriman tart kecil bertuliskan Selamat Enam Bulan, Raja. Raja tentu belum boleh memakannya. Kafka yang menghabiskan separuh.
"Sendoknya, Nin." Mas Reno mengeluarkan satu set sendok bayi dari tasnya. Sendok plastik dengan ujung lembut berwarna hijau muda. "Kata bidan di video, buat makan pertama sendoknya harus yang lembut."
"Bidan yang sama?"
"Bidan yang sama. Mas langganan."
Aku menyuapkan sendok pertama. Raja memandangi sendok itu dengan curiga, membuka mulut, menerima bubur itu, lalu memasang wajah seperti orang yang baru dikhianati. Lidahnya mendorong bubur itu keluar, pelan-pelan, sampai meleleh ke dagu.
Kafka tertawa sampai terbatuk. Mama buru-buru mengelap dagu cucunya. Papa berkomentar bahwa wajah itu persis wajahku waktu pertama kali disuapi bubur kacang hijau.
"Boleh Mas coba?"
Aku menyerahkan sendoknya. Mas Reno menyendok sedikit sekali, meniupnya padahal buburnya sudah dingin, lalu menyodorkannya dengan hati-hati seperti sedang menyerahkan berkas penting.
Raja membuka mulut. Menelan. Lalu membuka mulut lagi, minta sendok berikutnya.
Semua orang terdiam, lalu tertawa bersamaan.
"Pengkhianat kecil," gumamku.
Mas Reno tidak berani tersenyum terlalu lebar. Tapi telinganya merah sampai ke pangkal.
***
Sore harinya, setelah semua orang pulang dan Raja tertidur dengan perut kenyang, aku membuka brankas kecil di ruang kerja untuk menyimpan amplop nafkah. Sertifikat rumah dan tanah ada di sana, sudah kembali dari kantor pertanahan dua bulan lalu dengan namaku tertulis di halaman depannya. Di brankas yang sama, dua tahun lamanya, aku menyimpan kertas-kertas atas nama orang lain.
Lalu aku menarik kardus bekas popok dari kolong meja ruang tamu.
Bingkai itu masih di dalamnya, wajah fotonya menghadap ke bawah. Minggu lalu aku sudah membawanya ke tukang bingkai dekat pasar dan mengganti kacanya. Kaca baru, bening, tanpa retakan sehelai pun. Sejak itu bingkai itu kembali ke kardusnya, menunggu foto yang tepat.
Kubuka penjepit di belakangnya, lalu kukeluarkan foto pernikahan kami. Aku dan Mas Reno, tersenyum di pelaminan, dua setengah tahun yang lalu. Perempuan di foto itu terlihat sangat bahagia. Dia belum tahu apa-apa.
Aku tidak merobeknya. Aku menyelipkannya di buku diary-ku, di halaman yang hanya berisi dua kalimat itu. Suatu hari nanti Raja berhak tahu bahwa kedua orang tuanya pernah tersenyum di foto yang sama.
Lalu kumasukkan foto yang dicetak Kafka siang tadi di toko fotokopi di bawah kantor notaris itu. Raja dengan beskap gading dan blangkon miring, ujung blangkonnya basah karena dikunyah, tertawa lebar ke arah kamera.
Aku meletakkan bingkai itu di atas bufet, tepat di bekas persegi yang lebih bersih daripada sekelilingnya. Ukurannya pas sekali.
Dulu Mas Reno berjanji akan mengganti bingkai ini. Waktu itu aku bertanya, mau ganti pakai apa, daun? Ternyata aku sendiri yang menggantinya. Pakai uangku sendiri, untuk foto anakku sendiri.
Raja terbangun ketika aku lewat di depan kamar. Kugendong dia ke ruang tamu dan kudekatkan ke bufet. Dia menepuk-nepuk kaca bingkai itu dengan telapak tangannya yang masih wangi bubur.
"Itu kamu, Nak."
Dia tertawa. Entah pada fotonya, entah pada kipas angin di belakangku.
"Selamat enam bulan di dunia, Nak."
Enam bulan lalu, di rumah sakit, aku bilang padanya bahwa papanya sudah merasa kaya. Papanya sekarang tidak merasa kaya lagi. Dia datang naik angkot setiap Sabtu, belajar dari video bidan, dan menyisihkan kembalian angkotnya untuk toples di dapurku.
Aku sudah menepati janjiku. Mas Reno sudah miskin.
Dan aku sudah selesai menghitung.
TAMAT