"Kepalanya disangga dulu, kan? Mas udah belajar."
Mas Reno menyelipkan telapak tangannya di bawah tengkuk Raja dengan hati-hati sekali, seperti sedang memindahkan kue tart tiga tingkat. Lalu dia mengangkatnya pelan, menempelkannya ke dada, dan baru berani bernapas setelah Raja tidak menangis.
"Belajar dari mana?"
"Video bidan di internet. Mas tonton tiap istirahat makan siang di gudang."
Aku duduk di sofa seberang, menyusun popok bersih di keranjang. Ini Sabtu ketiga Mas Reno datang. Jam sepuluh sampai jam dua belas, di ruang tamu, dan selalu ada Kafka. Begitu aturannya, dan sejauh ini dia tidak pernah datang terlambat. Dari gang rumah mamanya ke sini harus dua kali ganti angkot, katanya. Dia berangkat jam delapan supaya tidak telat.
Di atas meja ada oleh-olehnya. Satu kerincingan plastik berbentuk jerapah dan sebungkus popok.
Popok ukuran newborn.
"Raja udah gak muat yang itu, Mas."
Mas Reno melirik bungkus popok itu, lalu melirik paha Raja yang sudah berlipat-lipat. "Oh. Cepat banget gedenya."
"Dua bulan, Mas. Bayi memang gitu."
"Nanti Mas tukar di minimarket. Masih ada struknya."
Dia mengatakannya dengan bangga, seolah menyimpan struk adalah prestasi besar. Mungkin memang begitu, untuk ukuran Mas Reno. Dulu dia bahkan tidak menyimpan kuitansi uang butik.
Kafka duduk di meja makan dengan tumpukan buku latihan soal setinggi lutut. Ujian sekolahnya mulai Senin depan. Kaus yang dipakainya hari ini wangi pelembut pakaian dari laundry tempat Rini bekerja. Tiga kilo seminggu, persis janjinya. Katanya wanginya lebih enak daripada laundry langganan kami, dan dia tidak mau mengaku bahwa sebenarnya dia cuma ingin Rini dapat pelanggan. Sejak masuk tadi dia belum menyapa Mas Reno sama sekali, hanya mengangkat dagu sedikit, lalu kembali mencoret-coret kertas buram. Sesekali matanya melirik ke ruang tamu. Satpam yang baik memang tidak pernah benar-benar membaca.
***
Raja menggeliat di dada papanya, membuka mata, dan memandangi wajah di atasnya lama sekali. Lalu, tanpa aba-aba, sudut bibirnya tertarik. Mulutnya yang tidak bergigi itu terbuka lebar.
Mas Reno membeku.
"Nin." Suaranya hampir berbisik. "Dia senyum."
"Dia juga senyum ke kipas angin, Mas."
"Tapi ini ke Mas."
Aku tidak membantah. Raja memang tersenyum ke kipas angin, ke lampu, ke Kafka yang sengaja memasang muka jelek, ke siapa saja yang wajahnya cukup dekat. Tapi pagi ini, wajah yang cukup dekat itu wajah papanya. Mata Mas Reno memerah. Dia menunduk, menyembunyikan wajah di rambut tipis Raja yang wangi minyak telon.
Aku bangkit dan pergi ke dapur. Bukan karena terharu. Air di panci untuk merebus botol susu cadangan sudah mendidih. Itu saja.
Ketika aku kembali, Kafka sudah berdiri di samping sofa. Buku latihan soalnya tertutup.
"Bang. Kafka mau ngomong."
Mas Reno mengangkat wajah, waspada. Wajar. Selama ini, setiap kali Kafka mendekatinya dengan wajah serius, ujungnya lantai licin atau baju penuh lumpur.
"Ngomong apa?"
Kafka melirikku sebentar. Aku duduk kembali di sofa dan tidak berkata apa-apa. Ini bukan urusanku. Ini utang Kafka sendiri.
"Sedan hijau almarhum papanya Abang." Kafka menelan ludah. "Kafka yang ambil kuncinya. Kafka yang nabrakin. Kafka belum pernah minta maaf langsung sama Abang. Dulu yang ngurus semuanya Mbak Nina. Kafka cuma sembunyi di kamar." Dia menarik napas. "Maaf, Bang. Mobil itu gak bisa Kafka ganti. Tapi maafnya Kafka bisa kasih."
Ruang tamu sunyi. Raja mengoceh kecil, suara bayi yang belum punya kata.
Mas Reno memandangi Kafka lama. Matanya berhenti di pelipis kiri Kafka. Poni Kafka tersibak sedikit, dan bekas jahitan tipis itu kelihatan.
"Itu dari situ?"
"Tujuh jahitan."
Mas Reno menggeser Raja ke lengan kirinya, lalu menyandarkan punggung. "Dulu Mas marah banget sama kamu. Berbulan-bulan. Itu mobil tempat Papa ngajarin Mas nyetir. Kursinya masih bau rokok kretek Papa."
Kafka menunduk.
"Tapi Papa Mas dulu sering bilang, mobil dibeli buat dipakai, bukan buat disembah." Mas Reno tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah kulihat selama dua tahun menikah. "Kalau Papa masih ada, dia pasti nanya duluan, anak itu luka atau gak. Bukan mobilnya rusak atau gak."
"Mama Abang nanyanya mobil."
"Iya." Mas Reno mengangguk pelan. "Mama yang lupa omongan Papa. Mama gak berhak jadiin kamu tebusan, Kaf. Gak berhak juga jadiin Nina tebusan." Dia diam sebentar. "Dan Mas juga ikut menikmatinya. Mas teken surat itu tanpa baca, terus dua tahun hidup enak dari situ. Jadi Mas juga minta maaf."
Kafka mengangkat wajah. Dia jelas tidak menyangka akan menerima maaf balik. Rencananya, kurasa, hanya sampai minta maaf, lalu kabur ke kamar.
"Abang serius?"
"Mas lagi gak punya tenaga buat bercanda. Gudang capek."
Kafka tertawa. Tawa yang pendek dan kaget, seperti orang yang baru melepas ransel berat dan belum terbiasa dengan punggungnya sendiri.
***
Pukul dua belas kurang sepuluh, Mas Reno mengembalikan Raja padaku. Dia menunggu sampai Raja benar-benar nyaman di gendonganku sebelum melepas tangannya dari tengkuk anaknya.
"Ujian Senin, ya, Kaf?"
"Iya, Bang."
"Mau kuliah di mana nanti?"
"Hukum."
Mas Reno mengangkat alis. "Kenapa hukum?"
Kafka memandanginya lurus-lurus, tanpa menyeringai, tanpa bercanda.
"Biar gak ada lagi orang yang teken tanpa baca, Bang."
Mas Reno terdiam, lalu tertawa pendek. "Itu nyindir Mas."
"Iya."
"Ya udah. Belajar yang bener."
Di teras, Mas Reno memakai sandal, lalu berhenti dan memandangi sisi carport di sebelah mobilku. Kosong. Mobil hitam itu sudah laku minggu lalu.
"Mobilnya udah laku, Nin?"
"Udah. Uangnya di tabungan Raja."
Dia memandangi lantai carport yang masih menyisakan bekas tetesan oli, seperti bayangan mobil yang sudah pergi. Lalu dia mengangguk.
"Bagus," katanya. "Itu lebih bagus."
Dia sudah memegang pagar ketika berbalik lagi.
"Satu lagi, Nin. Mama nanya, kapan-kapan boleh ikut lihat Raja?"
"Nanti aku kabari."
"Kata Mama, kalau kamu gak mau, juga gak apa-apa."
Aku mengangkat alis. "Mama bilang begitu?"
"Iya."
"Tumben."
Mas Reno tersenyum kecut, seperti setuju tapi tidak berani mengatakannya. Dia keluar dan menutup pagar dari luar. Aku melihatnya berjalan ke ujung jalan, menunggu angkot di bawah pohon mangga Bu Mirna, menenteng bungkus popok newborn yang harus ditukar.
***
Kafka sudah kembali ke meja makan ketika aku masuk. Buku latihan soalnya terbuka lagi, tapi pulpennya tidak bergerak.
"Mbak."
"Hm."
"Kafka lega."
"Bagus. Sekarang belajar. Pasal lima butuh nilai bagus."
"Iya, iya." Dia mulai mencoret-coret lagi, lalu berhenti. "Nanti kalau Kafka udah jadi pengacara, Mbak gratis."
"Yang lain?"
"Si Reno bayar dobel."
Aku tertawa, lalu membawa Raja ke kamar untuk tidur siang.
Adikku memilih jadi ahli hukum karena kakaknya pernah begitu bodoh menandatangani perjanjian demi cinta. Setidaknya kebodohanku ada gunanya juga.