"Masih ada yang bisa diselamatkan dari pernikahan ini, Bu Nina?"
Hakim mediator itu bertanya sambil melipat kedua tangan di atas meja bundar. Perempuan berkerudung krem, umurnya mungkin empat puluhan, dengan suara yang lembut tapi tidak memberi ruang untuk bertele-tele. Di depannya ada map tipis bertuliskan nomor perkara kami.
Ruang mediasi itu kecil sekali. Meja bundar, empat kursi, kotak tisu, tanaman plastik di sudut, dan jam dinding yang detaknya terlalu keras. Seminggu sebelumnya, sidang pertama kami hanya berlangsung sepuluh menit. Hakim bertanya apakah kami sudah berdamai, kami menjawab belum, lalu hakim memerintahkan mediasi. Begitu aturannya. Sebelum perkara cerai diperiksa, kedua pihak wajib duduk satu meja dan dicoba didamaikan dulu.
Bu Sekar duduk di sebelahku, diam, pulpennya tertutup. Di seberang, Mas Reno duduk sendirian.
Dia datang tanpa Pak Jamal. Kata Bu Sekar, jasa Pak Jamal hanya sampai notaris. Sesudah itu harus dibayar sungguhan.
Mas Reno memakai kemeja seragam abu-abu dengan logo ekspedisi di dada kiri. Dia izin setengah hari dari gudang. Potong gaji, katanya pada petugas di depan tadi, seolah petugas itu perlu tahu.
"Bu Nina?"
"Saya dengar pertanyaan Ibu."
Aku belum menjawab. Jawabannya sudah kutahu sejak lama. Aku hanya ingin Mas Reno bicara lebih dulu. Dua tahun aku yang selalu bicara lebih dulu, menjelaskan, mengalah, menutup kekurangan. Hari ini giliran dia.
Hakim mediator rupanya mengerti. Dia menoleh ke seberang meja.
"Pak Reno?"
***
Mas Reno menarik napas panjang. Kedua tangannya saling meremas di atas meja. Kuku-kukunya pendek dan kotor di ujung, bekas kardus dan lakban.
"Mas tahu Mas salah, Nin. Semuanya. Waktu di kantor Bu Sekar, semua dibacakan. Rekening, foto restoran, uang butik. Mas dengar sendiri." Suaranya serak. "Mas malu."
"Malumu bukan tugasku buat dihibur, Mas."
Dia mengangguk pelan, seperti sudah menduga kalimat itu.
"Mas gak minta dihibur. Mas minta satu kesempatan." Dia menegakkan punggung. "Mas udah kerja sekarang. Mas naik angkot. Mas tahu harga beras, tahu harga telur. Tiap malam Mas catat pengeluaran. Mas bisa jadi suami yang benar, Nin. Demi Raja."
"Jangan pakai nama Raja, Mas."
"Kenapa? Dia anak Mas juga."
"Iya. Anakmu lahir waktu kamu di restoran."
Jam dinding berdetak. Satu, dua, tiga. Hakim mediator tidak memotong. Mas Reno menunduk lama, lalu mengangkat wajah dengan mata merah.
"Mas masih cinta sama kamu."
"Aku tahu, Mas. Aku dengar."
Dia mengernyit.
"Pagi itu, di belakang rumah. Mama bilang ceraikan aku. Mas bilang gak bisa, karena belum dapat kerja dan surat-surat aset masih sama aku. Terus Mas bilang Mas masih cinta." Aku menatapnya. "Aku berdiri di balik tembok waktu itu. Cintamu datang satu paket sama surat aset, Mas. Sekarang suratnya sudah gak ada."
Wajah Mas Reno memucat. Mungkin dia sedang mengingat-ingat pagi itu, kata demi kata, dan baru sadar betapa jelas semuanya terdengar dari balik tembok.
"Itu gak adil, Nin. Mas ngomong begitu karena Mama terus mendesak."
"Mungkin." Aku mengangguk. "Tapi malam sebelumnya, Mas makan malam sama perempuan yang dikenalkan Mama. Malam itu juga Mas tulis ke dia, Nina cuma numpang. Itu juga karena didesak?"
Dia tidak menjawab.
Hakim mediator mencondongkan badan sedikit. "Bu Nina, apakah ada hal yang bisa membuat Ibu mempertimbangkan ulang? Apa saja."
Aku memikirkan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh. Hakim itu berhak mendapat jawaban yang jujur. Mungkin Mas Reno juga.
"Ada, Bu."
Mas Reno langsung mengangkat wajah. Ada harapan di matanya, dan aku sedikit menyesal sudah membuatnya muncul.
"Kalau hari itu bisa diulang. Kalau pagi itu suami saya bilang, ayo ke rumah sakit, bukan tunda saja melahirkannya. Kalau yang mengazani anak saya papanya, bukan kakeknya." Suaraku tidak bergetar, dan aku sendiri heran. "Ibu bisa mengulang hari itu?"
Hakim mediator diam sebentar. "Tidak bisa, Bu."
"Saya juga tidak bisa."
Mas Reno menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar sekali, dua kali, lalu diam. Bu Sekar menggeser kotak tisu ke tengah meja. Bukan ke arahku. Ke arahnya.
***
Mediasi itu berakhir setengah jam kemudian. Hakim mediator menulis sesuatu di formulir, lalu membacakannya. Mediasi tidak berhasil. Perkara akan dilanjutkan ke pemeriksaan di persidangan.
Mas Reno menandatangani berita acaranya tanpa minta dibacakan dua kali. Tanda tangannya kecil dan rapi. Lebih rapi daripada di notaris.
Di depan pintu ruang mediasi, dia berhenti.
"Sabtu Mas boleh lihat Raja?"
Aku memandang Bu Sekar. Bu Sekar mengangguk tipis.
"Jam sepuluh sampai jam dua belas. Di rumah. Ada Kafka."
"Ada Kafka," ulangnya, lalu tersenyum pahit. "Satpamnya galak."
Dia berjalan ke tangga, menuruninya cepat-cepat, seperti orang yang takut terlambat kembali ke gudang. Mungkin memang begitu. Setengah hari izin di gudang berarti setengah hari gaji.
***
Aku menemukan Hani di lantai bawah, di depan meja pendaftaran.
Dia duduk di bangku panjang dengan map plastik bening di pangkuan. Isinya aku kenal. KTP, buku nikah, kartu keluarga, semua yang dulu dia tunjukkan padaku dari dalam tas kain kecilnya. Kak Wulan duduk di sebelahnya, memegang botol air mineral dan sebungkus roti, seperti ibu yang mengantar anaknya ujian.
"Han?"
Hani menoleh. Wajahnya kaget, lalu lega, lalu tertawa kecil. "Kok kamu di sini?"
"Ini gedung paling ramai sekota buat perempuan kayak kita."
"Mediasimu?"
"Gagal."
"Selamat?" Hani meringis. "Eh, kayaknya itu kata yang salah, ya."
"Iya. Salah."
"Terus kata yang benar apa?"
Aku memikirkannya sebentar. "Lanjut."
Kak Wulan menyodorkan roti padaku tanpa bertanya. Rupanya dia membawa dua bungkus. Mungkin dia memang tipe orang yang selalu membawa dua bungkus untuk berjaga-jaga, dan aku tiba-tiba mengerti kenapa Hani lari ke rumah kakaknya malam itu.
Bu Sekar juga yang membantu Hani menyiapkan berkasnya. Bayarannya, kata Hani, sebuah kebaya untuk pernikahan anak bungsu Bu Sekar. Bu Sekar sendiri yang mengusulkan. Katanya, dia lebih percaya pada jahitan Hani daripada pada janji transfer siapa pun.
"Siska udah ambil kebayanya," kata Hani sambil membuka bungkus rotinya. "Kemarin dia kirim foto."
Dia menyodorkan ponsel. Siska berdiri di depan etalase toko kuenya dengan kebaya brokat gading, tersenyum lebar, memegang kue tart dengan lilin angka tiga. Di bawah foto itu ada pesannya.
[Mbak Hani, pelanggan saya pada nanya ini jahitan siapa. Saya kasih nama butiknya Mbak Nina, ya. Makasih banyak.]
"Pelanggan pertama bengkel kita," kataku.
"Pelanggan pertama yang bawa pelanggan lain," ralat Hani. "Itu beda."
Hani mengangkat secarik kertas kecil dari pangkuannya. Nomor antrean.
"Tiga puluh dua," katanya.
Aku melirik layar di atas loket. Nomor yang dipanggil baru sebelas.
"Lama, Han."
"Gak apa-apa." Hani melipat kertas itu dan menyelipkannya di map, hati-hati sekali. "Aku udah nunggu lima tahun, Nin. Dua puluh nomor lagi mah sebentar."