"Mbak! Ada Rini di depan pagar. Sendirian. Bawa kardus."
Kafka menyembulkan kepala di pintu kamarku dengan wajah curiga, seperti satpam yang melihat orang mencurigakan berdiri di depan bank.
"Kardus apa?"
"Gak tahu. Kardus mi instan. Jangan-jangan isinya cucian kotor lagi, Mbak. Biar Kafka yang usir."
"Pasal tiga."
"Ini bukan ide, Mbak. Ini refleks."
Aku menitipkan Raja yang baru selesai menyusu ke pelukannya, lalu keluar. Hari itu Raja genap empat puluh hari. Kata Mama, masa nifasku resmi selesai. Pinggangku sudah tidak nyeri lagi kalau berjalan ke pagar, dan aku cukup bersyukur untuk itu.
Rini berdiri di luar pagar dengan seragam sekolah yang lengannya digulung. Rambutnya diikat asal. Wajahnya lebih tirus daripada terakhir kali aku melihatnya menangis di sofaku. Kardus mi instan itu dia peluk di depan dada, erat sekali, seperti takut isinya kabur.
"Mbak Nina."
"Masuk, Rin."
***
Dia duduk di ujung sofa, di tempat yang dulu selalu dia kuasai sambil selonjoran dan makan keripik. Sekarang dia duduk tegak, kedua lutut rapat. Kardus itu diletakkannya di meja, lalu didorongnya pelan ke arahku.
"Ini punya Mbak."
Aku membuka tutupnya. Di dalamnya ada sehelai syal sutra hijau botol, terlipat rapi. Sepasang anting mutiara dalam plastik klip kecil. Tiga batang lipstik. Sebotol parfum yang isinya tinggal seperempat.
Syal itu hadiah ulang tahun dari Papa. Hilang setahun lalu, dan waktu itu aku mencari ke seluruh lemari sampai Mas Reno bilang aku pikun karena hamil. Padahal waktu itu aku belum hamil.
"Lipstiknya udah kepakai separuh, Mbak," kata Rini cepat-cepat. "Yang merah. Maaf."
"Dipakai ke mana?"
"Ke pesta."
"Pesta yang gak diundang?"
Rini menunduk. Telinganya memerah. Di belakangku, Kafka terbatuk keras sekali. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu dia sedang menahan tawa sambil menggendong Raja.
"Kenapa sekarang, Rin?"
Dia memilin ujung roknya lama sebelum menjawab.
"Bu BK bilang, kalau aku mau berhenti, semua yang pernah aku ambil harus dikembalikan dulu. Semuanya. Bukan cuma yang ketahuan." Suaranya kecil sekali. "Aku bikin daftar, Mbak. Punya Mbak paling banyak."
"Kenapa punya Mbak paling banyak?"
"Karena Mbak gak pernah nyadar."
Aku terdiam. Kalimat itu tidak diucapkan untuk menyakitiku, tapi tetap saja kena. Dua tahun aku sibuk menutup kekurangan semua orang. Sampai lupa menghitung barangku sendiri.
"Uang teman-temanmu?"
"Sekolah kasih keringanan. Boleh dicicil, asal lunas sebelum ujian akhir. HP-ku udah dijual buat cicilan pertama." Rini mengangkat wajah sedikit. "Sekarang aku kerja di laundry dekat gang, Mbak. Pulang sekolah sampai jam delapan malam. Sehari dapat tiga puluh ribu. Hari ini aku libur."
"Mama kamu tahu kamu ke sini?"
"Tahu. Mama yang suruh aku naik angkot, bukan ojek. Biar hemat."
Kafka melangkah mendekat. Raja tertidur di bahunya dengan mulut terbuka.
"Laundry yang di dekat gang itu?" tanyanya. "Seragamku boleh dicuci di situ? Biar kamu dapat bonus."
Rini menatap Kafka curiga. Wajar. Terakhir kali Kafka berurusan dengan cucian, isinya lumpur semua.
"Kiloan, Kaf. Gak ada bonus."
"Ya udah, kiloan. Tiga kilo seminggu. Kafka anaknya keringetan."
Rini hampir tersenyum. Hampir. Lalu dia kembali menatapku, dan wajahnya menegang lagi seperti orang yang menyimpan kalimat terakhir di ujung lidah.
"Mbak. Perhiasanku yang dulu Mbak kasih ke penagih utang itu..."
"Buat bayar utangmu."
"Iya. Aku tahu." Dia mengangguk cepat. "Aku gak nagih, Mbak. Aku cuma mau bilang, sekarang aku udah gak punya utang sama siapa-siapa. Selain sama teman-teman sekelas."
Aku memandangi adik iparku itu lama. Anak yang dulu menyuruh penagih utang datang ke rumahku. Anak yang menjerit kamarnya cuma muat kasur. Hari ini dia duduk di sofaku dengan tangan merah-merah bekas sabun cuci, mengembalikan lipstik bekas pakai.
Aku belum bisa bilang aku memaafkannya. Tapi aku juga tidak bisa bilang aku masih ingin dia menderita.
"Mbak terima barangnya, Rin."
Dia menunggu kelanjutannya. Aku tidak melanjutkan. Dia mengangguk, seolah mengerti bahwa untuk hari ini, itu sudah cukup.
***
Hujan turun menjelang magrib. Deras, dengan angin yang membuat jemuran tetangga beterbangan.
"Mbak antar."
"Gak usah, Mbak. Aku naik angkot aja."
"Mbak antar. Sekalian mau lihat sofa kulit di teras itu masih hidup atau gak."
Raja kutitipkan pada Kafka, lengkap dengan pesan bahwa pasal empat juga berlaku untuk keponakannya. Kafka memberi hormat seperti tentara, lalu menutup pintu.
Di mobil, Rini memangku kardus mi instan yang sudah kosong. Dia tidak mau kardus itu dibuang. Katanya masih bisa dipakai di laundry.
"Mbak," katanya di lampu merah. "Bang Reno sekarang tiap malam nulis pengeluaran di buku tulis."
"Oh."
"Paling gede beras. Kedua ongkos angkot. Ketiga cicilan uang teman-temanku." Dia memandangi wiper yang bergerak bolak-balik. "Dulu Bang Reno gak pernah tahu harga beras."
"Dulu pengeluaran paling gede keluargamu arisan Mama, Rin."
Rini tidak membantah. Dia malah tertawa kecil, tawa yang lebih mirip mendengus, lalu memeluk kardusnya lebih erat.
Pikap dulu berhenti di mulut gang, dan aku juga berhenti di sana. Gang itu lurus dan sempit. Dari balik kaca yang dibasahi hujan, aku bisa melihat rumah kecil peninggalan Papa Mas Reno di ujung sana. Lampu terasnya kuning redup.
Sofa kulit itu masih di teras. Terpal birunya sekarang diikat jadi atap darurat. Di atas sofa itu, mertuaku duduk dengan daster bunga-bunga, di depannya meja kecil berisi nampan kue. Risoles, dadar gulung, kue lapis. Di tiang teras tergantung karton bertuliskan spidol: KUE BASAH, BISA PESAN ANTAR.
Hurufnya miring-miring dan makin besar di ujung, seperti ditulis orang yang jarang sekali memegang spidol.
Sebuah angkot berhenti di belakang mobilku. Seorang laki-laki turun sambil menutupi kepala dengan tas. Kemeja seragam abu-abu, logo perusahaan ekspedisi di dada kiri, tali kartu pegawai di leher. Di tangannya ada kantong plastik berisi telur dan sekantong beras dua kilo.
Mas Reno.
Dia berjalan melewati mobilku, lalu berhenti. Mungkin dia mengenali mobilku. Mungkin dia mengenali Rini yang sedang membuka pintu di sebelahku. Dia menoleh ke kaca jendela, dan meskipun kacanya basah, aku tahu dia melihatku.
Dia hanya mengangguk sekali, dari balik kaca yang basah.
Aku membalas anggukannya.
Mas Reno membuka payung lipat dari tasnya, payung yang sama yang lima hari lalu dia masukkan ke kresek hitam di parkiran notaris. Rini turun dan berlari kecil ke bawah payung itu. Kakak dan adik itu berjalan masuk ke gang, berimpitan di bawah satu payung kecil, kaki mereka menciprat-cipratkan genangan.
Di ujung gang, mertuaku berdiri dari sofanya. Dia mengambil kantong telur dari tangan anaknya, lalu menatap ke arah mobilku. Lama. Kemudian dia berbalik dan masuk ke rumah tanpa melambai.
Aku memutar mobil dan pulang pelan-pelan.
Dua tahun kubiayai, mereka cuma pandai meminta. Empat puluh hari uangku berhenti, ketiganya bekerja.
Ternyata yang paling mereka butuhkan dari dulu bukan uangku. Tapi berhentinya.