"Sekali ini aja, Mbak. Kafka izin sakit perut. Gurunya percaya, kok."
"Pasal satu."
"Yah." Kafka menyampirkan tas sekolah ke bahu dengan wajah paling menderita yang pernah kulihat. "Kafka cuma pengin lihat muka si Reno pas tanda tangan. Itu momen bersejarah, Mbak. Kayak proklamasi."
"Nanti Mbak ceritakan."
"Mbak gak pandai cerita. Mbak ceritanya pendek-pendek."
"Berangkat."
Dia berangkat sambil menggerutu sampai ke pagar. Aku menunggu suara motor temannya menjauh, lalu masuk ke kamar dan membuka lemari. Di balik tumpukan popok Raja, kotak sepatu itu masih di tempatnya. Map biru di dalamnya masih utuh. Kertas yang dulu kuanggap formalitas, kertas yang dua tahun tidur di lemari mertuaku, hari ini akan bekerja untuk terakhir kalinya.
Mama datang pukul delapan untuk menjaga Raja. Dia membawa rantang berisi sayur bening dan perkedel, lalu memelukku lama di depan pintu.
"Kamu yang tenang, ya."
"Nina tenang, Ma."
"Mama yang gak tenang," katanya. "Makanya Mama peluk kamu."
***
Kantor notaris itu ada di lantai dua sebuah ruko, di atas toko fotokopi. Notarisnya perempuan berambut pendek yang sudah memutih, kacamatanya digantung tali manik-manik. Dua pegawainya duduk di ujung meja sebagai saksi. Bu Sekar sudah datang lebih dulu, berkas-berkas tersusun rapi di depannya dengan penanda warna-warni.
Mas Reno datang tepat pukul sepuluh. Dari jendela aku melihat mobil hitam itu masuk ke parkiran ruko, berhenti, lalu diam agak lama dengan mesin masih menyala. Baru beberapa menit kemudian pintunya terbuka.
Dia datang sendirian. Kemejanya sama dengan kemeja di kantor Bu Sekar, disetrika sendiri, kelihatan dari lipatan lengannya yang dobel. Di tangannya ada kantong plastik kecil berisi kunci mobil dan STNK.
"Mama gak ikut?" tanya Bu Sekar.
"Mama gak mau lihat, Bu."
Notaris mempersilakan kami duduk, lalu menjelaskan bahwa setiap akta harus dibacakan di hadapan para pihak dan saksi sebelum ditandatangani. Dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Begitu aturannya.
Aku hampir tertawa. Seumur pernikahan kami, Mas Reno tidak pernah membaca apa pun yang dia tanda tangani. Hari ini dia tidak punya pilihan selain mendengarkan semuanya.
Notaris itu membaca dengan suara datar dan jelas. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, nomor KTP. Letak rumah, luas tanah, batas-batasnya. Di akta itu, Mas Reno disebut sebagai pihak pertama.
Pihak pertama. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia menjadi yang pertama dalam urusan memberi.
Di tengah pembacaan akta kedua, ponsel Mas Reno bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuatku tidak perlu bertanya siapa. Mas Reno memandanginya sebentar, lalu menekan tombol samping sampai layarnya padam, dan membalikkan ponsel itu.
Dia mendengarkan sampai akta ketiga selesai. Rumah. Tanah kavling. Surat-surat untuk balik nama mobil. Sesekali dia mengangguk, entah karena paham atau karena tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Ada yang ingin ditanyakan, Pak Reno?"
Mas Reno diam lama. Lalu dia menunjuk satu baris di akta rumah.
"Ini, Bu. Kalimat yang ini. Bisa dibacakan sekali lagi?"
Notaris membacakannya lagi. Kalimat tentang pihak pertama yang menyatakan dengan sadar dan tanpa paksaan menyerahkan haknya.
"Tanpa paksaan," ulang Mas Reno pelan. "Iya. Benar, Bu."
Lalu dia tanda tangan.
Satu lembar. Dua lembar. Bu Sekar menunjuk tempat paraf di setiap halaman, dan Mas Reno memaraf semuanya tanpa membantah. Tangannya tidak gemetar. Justru aku yang diam-diam meremas ujung rok di bawah meja.
Lalu giliranku. Aku menandatangani di bawah namaku dengan tulisan yang sama dengan tanda tanganku di perjanjian lama. Dulu, tanda tangan itu kububuhkan sambil tersenyum pada laki-laki yang duduk di sebelahku. Hari ini aku tidak menoleh padanya sama sekali.
Mas Reno mendorong kantong plastik kecil itu ke tengah meja.
"Kuncinya dua. Yang satu cadangan. STNK di dalam dompet kecil."
"Terima kasih, Mas."
"Barang Mas di mobil boleh diambil dulu?"
"Boleh."
***
Aku ikut turun ke parkiran. Aku hanya ingin melihat.
Mas Reno membuka pintu mobil dan mengeluarkan barang-barangnya satu per satu. Dudukan ponsel yang ditempel di dasbor. Jaket abu-abu dari jok belakang. Pengharum mobil berbentuk pohon cemara yang wanginya sudah lama hilang. Kotak kecil berisi uang receh untuk tukang parkir. Payung lipat. Semuanya dimasukkan ke dalam satu kantong kresek hitam.
Hanya itu. Dua tahun memakai mobil itu, barang miliknya muat dalam satu kantong kresek.
Dia menutup pintu mobil pelan-pelan, seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur. Lalu dia berdiri di depanku, menenteng kresek itu.
"Mas udah dapat kerjaan, Nin. Mulai Senin."
"Oh."
"Kamu gak nanya kerja apa?"
"Gak, Mas."
Dia mengangguk, seperti sudah menduga jawabanku. "Salam buat Raja."
Mas Reno berjalan ke mulut jalan raya. Angkot biru berhenti di depannya. Sebelum naik, dia membuka kotak receh dari mobil itu dan menghitung isinya di telapak tangan. Koin lima ratusan, koin seribuan. Dia menghitung dua kali. Lalu naik, duduk di bangku paling belakang, dan angkot itu pergi.
Aku memandangi kotak receh itu sampai hilang di tikungan. Pagi itu, ketika aku memegangi perut dan berteriak minta tolong dengan suara lirih, mobil hitam inilah yang sudah tidak ada di parkiran. Hari ini mobil yang sama berdiri di depanku. Pemiliknya yang pergi naik angkot.
Aku akan membuatmu miskin kembali, Mas.
Kalimat itu kuucapkan di rumah sakit sambil memandangi bayi merah yang baru berumur beberapa jam. Aku membayangkan saat ini akan terasa seperti pesta. Ternyata tidak. Rasanya seperti menyelesaikan pembukuan akhir tahun. Lega, capek, dan sedikit kosong.
***
Di atas, Bu Sekar sedang memasukkan salinan akta ke dalam map. Aku menyerahkan map biru padanya.
"Yang asli, Bu. Saya titipkan ke Ibu saja."
"Kotak sepatunya sudah pensiun?"
"Sudah, Bu. Nanti dipakai buat sepatu pertama Raja."
Bu Sekar tersenyum, lalu memasukkan map biru itu ke dalam tas kerjanya yang berkunci. Notaris menjelaskan bahwa sertifikat rumah dan tanah akan diproses di kantor pertanahan, dan kembali dengan namaku beberapa minggu lagi. Aku mencatatnya di ponsel, di bawah daftar belanja popok.
Mobil hitam itu dibawa pulang oleh sopir butik, sementara aku menyetir mobilku sendiri. Aku sudah memutuskan akan menjualnya. Uangnya masuk ke tabungan Raja. Mobil yang dulu dipakai pergi bersenang-senang saat Raja lahir, sekarang akan membayar sekolahnya.
***
Kafka pulang sekolah dengan napas tersengal, seperti habis dikejar anjing.
"Udah, Mbak?"
"Udah."
"Terus? Mukanya gimana? Nangis gak? Marah gak? Mbak ketawa jahat gak?"
Aku memikirkannya sebentar.
"Dia minta satu kalimat dibacakan dua kali."
Kafka mengernyit. "Itu doang?"
"Itu doang."
Dia mendengkus, kecewa berat, lalu masuk ke kamar sambil bergumam bahwa mbaknya memang tidak berbakat jadi pendongeng.
Malam itu, setelah Raja tidur, aku mengambil buku diary dari dalam lemari. Di halaman pertama sesudah Raja lahir hanya ada satu kalimat, kalimat yang sama dengan yang kuucapkan di rumah sakit. Hurufnya miring-miring, karena aku menulisnya sambil menyusui.
Di bawahnya, aku menulis kalimat kedua.
Hari ini Mas Reno tanda tangan. Kali ini, dia mendengarkan sampai titik terakhir.