"Klien saya menolak seluruh isi somasi, Bu Sekar."
Laki-laki berkemeja batik cokelat itu meletakkan tas kulitnya di meja dengan bunyi berdebum, seolah tasnya ikut menolak. Namanya Pak Jamal. Kata Laras, dia pengacara langganan di kampung lama mertuaku. Pernah memenangkan sengketa pagar antara dua tetangga, dan sejak itu dipanggil setiap kali ada urusan yang menyangkut kertas bermeterai.
Entah dibayar pakai apa. Mungkin pakai janji. Keluarga Mas Reno memang paling pandai membayar pakai janji.
Pagi itu ruang rapat kecil di kantor Bu Sekar terasa sempit sekali. Di satu sisi meja ada aku, Papa, dan Bu Sekar. Di sisi lain ada Pak Jamal, mertuaku, dan Mas Reno. Raja kutitipkan pada Mama. Aku tidak mau anakku ikut mendengar orang-orang dewasa memperebutkan rumah tempat dia tidur.
Mertuaku memakai kebaya brokat ungu yang sama dengan hari dia dipanggil ke sekolah Rini. Rupanya itu kebaya untuk segala urusan penting. Mas Reno duduk paling ujung, memakai kemeja yang kerahnya sudah tidak kaku lagi. Sejak masuk, dia belum sekali pun menatapku.
"Dasar penolakannya, Pak?" tanya Bu Sekar.
"Sederhana, Bu." Pak Jamal mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja. "Sertifikat rumah atas nama klien saya. BPKB mobil atas nama klien saya. Sertifikat tanah juga. Yang dilihat itu nama yang tertulis, bukan siapa yang merasa membayar."
"Betul itu," sahut mertuaku cepat.
Bu Sekar mengangguk sopan, lalu menggeser selembar salinan ke tengah meja. "Ini perjanjian yang ditandatangani klien Bapak sebelum menikah. Bermeterai, dengan dua saksi. Silakan dibaca, Pak. Terutama pasal empat."
Pak Jamal membaca. Mula-mula sambil bersandar, lalu duduk tegak, lalu kacamatanya dinaikkan ke dahi. Bibirnya bergerak mengeja tanpa suara, kemudian dia membacanya keras-keras, entah untuk siapa.
"Apabila Pihak Kedua tidak memberikan nafkah, menelantarkan istri dan atau anak, atau menyalahgunakan keuangan usaha milik Pihak Pertama, maka seluruh harta yang dibeli dengan uang Pihak Pertama dikembalikan atas nama Pihak Pertama, dan Pihak Kedua bersedia menandatangani dokumen yang diperlukan."
Pulpennya berhenti mengetuk.
"Surat di bawah tangan," katanya akhirnya. "Kekuatannya terbatas, Bu Sekar."
"Tetap mengikat bagi yang menandatanganinya, Pak. Kecuali klien Bapak membantah tanda tangannya." Bu Sekar menoleh ke ujung meja. "Pak Reno, ini tanda tangan Bapak?"
Semua orang menunggu. Mertuaku menyikut lengan anaknya diam-diam. Aku melihatnya. Bu Sekar juga.
"Iya," kata Mas Reno pelan. "Itu tanda tangan saya."
Mertuaku memejamkan mata, seperti orang yang baru saja melihat piringnya jatuh dan tinggal menunggu bunyinya.
***
Bu Sekar membuka map kedua. Suaranya tetap pelan, tetap tenang, seperti guru yang membacakan nilai rapor di depan orang tua murid.
"Pertama, nafkah. Ini mutasi rekening rumah tangga selama dua tahun. Belanja rumah, listrik, air, sampai biaya persalinan, semuanya dibayar dari rekening Bu Nina. Dari rekening Pak Reno, nol."
Pak Jamal melirik kliennya. Mas Reno menunduk.
"Kedua, penelantaran. Keterangan tertulis tetangga yang mengantar Bu Nina ke rumah sakit. Keterangan tertulis ayah Bu Nina, yang mengazani bayinya. Dan ini." Bu Sekar meletakkan dua lembar foto cetak. "Foto restoran yang diunggah ke status Pak Reno pukul dua lewat sepuluh. Bayinya lahir pukul dua."
Mertuaku langsung menyambar. "Kami gak tahu dia mau melahirkan!"
"Aku bilang, Ma," kataku. "Pagi itu aku bilang perutku sakit, kayaknya mau melahirkan. Mas Reno jawab, tunda aja acara melahirkannya. Hari ini dia sibuk."
Ruangan itu hening. Mas Reno tidak membantah. Dia memandangi foto restoran itu, foto dirinya sendiri yang sedang tertawa sambil memegang gelas jus, seolah sedang melihat orang lain.
Bu Sekar menambahkan satu lembar lagi. Cetakan tangkapan layar. "Dan ini pesan Pak Reno kepada seorang perempuan, pada malam keempat sesudah bayinya lahir."
Pak Jamal membacanya. Aku tidak perlu ikut membaca. Kalimat itu sudah kuhafal di luar kepala.
[Rumah itu atas namaku, Sis. Nina cuma numpang.]
Pak Jamal meletakkan kertas itu terbalik, seolah tidak ingin kliennya membacanya lagi.
"Ketiga," lanjut Bu Sekar, "keuangan usaha. Hasil pemeriksaan bagian keuangan butik, ditandatangani setiap halamannya. Nota pemasok fiktif, tarik tunai tanpa kuitansi, dan delapan belas kali transfer upah jahit borongan ke rekening atas nama Hartini."
Pak Jamal menoleh pelan sekali ke sebelahnya. "Ibu tidak cerita soal ini."
"Itu..." Mertuaku membetulkan sanggulnya yang tidak miring. "Itu upah Mama bantu-bantu di butik."
"Bantu apa, Ma?" tanyaku. "Mama gak bisa masukin benang ke jarum."
Papa terbatuk-batuk. Aku kenal batuk itu. Batuk yang dulu selalu keluar setiap kali Kafka kecil mengucapkan sesuatu yang tidak sopan, tapi benar.
Wajah mertuaku berubah. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat takut sungguhan.
"Kamu mau penjarakan Mama?"
"Gak, Ma."
Semua kepala menoleh padaku. Pak Jamal sampai menurunkan kacamatanya.
"Aku gak akan lapor polisi soal uang butik itu. Mas Reno tanda tangan atau gak, aku tetap gak lapor. Jadi jangan ada yang mengira itu barang tawar." Aku menatap mertuaku lurus-lurus. "Ini soal pasal empat. Cuma itu."
Bu Sekar tidak terkejut. Kami sudah membicarakannya dua hari lalu. Dia hanya menulis kalimatku di buku catatannya, lalu menggarisbawahinya.
Mertuaku masih belum mau kalah. Dia mencondongkan badan, suaranya mendadak lembut, lembut yang sudah kuhafal sejak dua tahun lalu, lembut yang biasanya diikuti permintaan.
"Ya sudah, Nina. Mobil sama tanah ambil. Rumahnya buat Reno, ya? Kasihan anak Mama gak punya apa-apa."
"Rumah itu kubeli pakai uang butik, Ma. Butik yang uangnya Mama terima delapan belas kali."
Dia menutup mulut.
***
"Boleh saya bicara dengan klien saya sepuluh menit, Bu Sekar?"
"Silakan, Pak."
Mereka bertiga keluar. Lewat pintu kaca, aku bisa melihat mereka di lorong. Pak Jamal bicara dengan suara rendah, satu tangan di saku. Mertuaku mengibas-ngibaskan tangan, menunjuk ke pintu, menunjuk ke langit-langit, menunjuk ke dadanya sendiri. Mas Reno duduk di kursi plastik dekat dispenser, kedua siku di atas lutut, memandangi lantai.
Papa membuka bungkus permen jahe yang selalu ada di saku kemejanya.
"Kamu yakin gak mau lapor, Nak?"
"Yakin, Pa."
"Kenapa?"
"Karena Raja. Nina gak mau dia besar nanti terus tahu neneknya pernah diperiksa polisi, dan yang melapor mamanya sendiri." Aku memandangi pintu kaca. "Itu bukan baik hati, Pa. Itu buat Raja."
"Papa gak bilang kamu baik hati."
Aku tertawa. Bu Sekar pura-pura sibuk merapikan berkas, tapi bahunya bergetar sedikit.
Sepuluh menit menjadi dua puluh. Ketika mereka masuk lagi, Pak Jamal duduk tanpa meletakkan tasnya dengan berdebum. Pulpennya dimasukkan ke saku.
"Saya sudah menjelaskan kepada klien saya, Bu Sekar. Kalau perkara ini sampai ke pengadilan, semua bukti tadi dibacakan di depan hakim dan masuk berkas perkara. Biayanya juga tidak sedikit. Saran saya sebagai kuasa hukum, klien saya menandatangani pengalihan secara sukarela di depan notaris."
"Mama belum setuju!" Mertuaku memukul meja.
"Ma." Mas Reno akhirnya bersuara. "Udah."
Mertuaku menoleh. Mungkin seumur hidupnya baru kali ini anaknya memotong kalimatnya di depan orang lain.
"Yang dulu teken Reno, Ma. Yang sekarang teken juga Reno."
Mertuaku menatap anaknya lama, seperti menatap orang asing yang kebetulan memakai kemeja anaknya. Lalu dia bersandar dan melipat kedua tangan. Diam. Diamnya mertuaku jauh lebih berisik daripada teriakannya.
Bu Sekar membuka agenda. "Notaris lima hari lagi, pukul sepuluh. Pak Reno membawa KTP, kunci mobil, dan STNK. Sertifikat dan BPKB sudah dipegang klien saya."
Mas Reno mengangguk. Kemudian, untuk pertama kalinya hari itu, dia menatapku.
"Mobilnya, Nin. Boleh Mas pakai sampai hari itu? Mas masih narik."
Aku menimbang sebentar. Bukan karena kasihan. Karena aku ingin dia menghitung sendiri setiap kilometer yang tersisa.
"Lima hari, Mas."
***
Di parkiran, Mas Reno membukakan pintu mobil untuk mamanya. Mertuaku berdiri lama di samping pintu yang terbuka itu, tidak mau masuk, tidak mau pergi. Akhirnya dia masuk juga, dan pintunya dibanting dari dalam.
Pak Jamal pulang naik ojek. Tas kulitnya dipangku di jok belakang.
Papa menyalakan mesin mobil kami, lalu memandangi mobil hitam yang perlahan keluar dari parkiran itu.
"Lima hari lagi, mobil itu punyamu."
"Dari dulu punya Nina, Pa." Aku memasang sabuk pengaman. "Lima hari lagi, kertasnya baru ikut tahu."