[Pihak suami belum menanggapi somasi, Bu Nina. Masih delapan hari. Kita tunggu dengan tenang.]
Pesan Bu Sekar masuk ketika aku sedang memeriksa kebaya Siska di lantai dua. Kebaya itu hampir selesai. Brokat warna gading, dengan payet kecil di bagian dada yang dijahit tangan satu per satu oleh Hani.
"Bagus banget, Han."
"Payetnya kurang tujuh belas lagi." Hani tidak mengangkat wajah dari jarumnya. "Jangan dipuji dulu. Nanti aku malas."
Dua minggu bekerja di bengkel, Hani sudah seperti orang yang tidak pernah berhenti menjahit. Dia mengatur ulang letak mesin, memberi nama pada setiap rak benang, dan menegur penjahit baru yang memotong kain tanpa menandai pola dulu. Wajahnya juga berubah. Pipinya sedikit lebih berisi. Matanya tidak sesembab dulu.
Hanya satu yang belum berubah. Ponselnya. Sejak pagi benda itu bergetar terus di atas meja potong. Hani membaliknya, layar menghadap ke bawah, lalu kembali menjahit.
"Dia?"
"Siapa lagi."
"Gak diangkat?"
"Nanti malam saja. Kalau diangkat sekarang, payetnya bisa miring semua."
***
Pukul dua siang, suara laki-laki berteriak dari lantai bawah.
"Hani! Turun kamu!"
Mesin-mesin jahit di lantai dua berhenti bersamaan. Hani membeku dengan jarum di tangan. Wajahnya memucat dalam hitungan detik.
"Siapa yang izinkan kamu kerja, hah? Turun!"
Aku meletakkan kebaya Siska dan turun lebih dulu. Di bawah, butik sedang ramai. Dua orang ibu memilih gamis, seorang gadis mencoba blus di kamar pas. Ayu berdiri kaku di balik meja kasir. Di tengah ruangan, seorang laki-laki berkemeja kantor berdiri dengan wajah merah. Aku pernah melihatnya sekali, di pernikahan Hani, tersenyum lebar di pelaminan.
"Ini pasti kamu," katanya begitu melihatku. "Nina. Dari dulu kamu yang hasut istri saya!"
"Ini butik saya, Pak. Bapak berteriak di depan pelanggan saya."
"Saya gak peduli! Saya mau bawa istri saya pulang!"
Dia melangkah ke arah tangga. Aku bergeser, berdiri tepat di anak tangga pertama.
"Lantai dua khusus karyawan, Pak."
"Minggir!"
Tangannya terangkat, telunjuknya menuding dekat sekali ke wajahku. Aku tidak mundur. Bukan karena berani. Kakiku justru gemetar. Tapi di lantai atas ada Hani, dan aku sudah terlalu lama membiarkan orang-orang berteriak di rumahku sendiri. Tidak lagi di butikku.
"Ayu," kataku tanpa menoleh. "Panggil Pak Darto."
Ayu sudah berlari ke luar sebelum kalimatku selesai.
Pak Darto, satpam yang menjaga deretan ruko kami, datang tidak sampai satu menit kemudian. Di belakangnya ada pemilik toko sepatu sebelah, lalu tukang parkir, lalu beberapa orang yang penasaran. Salah satu ibu pembeli gamis mengangkat ponselnya, merekam.
Laki-laki itu menurunkan tangannya. Matanya bergerak ke kerumunan, ke ponsel yang merekam, ke seragam Pak Darto.
"Ada apa ini, Bu Nina?"
"Bapak ini mau naik ke ruang karyawan, Pak. Saya sudah minta beliau keluar."
"Mari, Pak." Pak Darto menyentuh lengan laki-laki itu dengan sopan tapi tegas. "Kalau ada urusan keluarga, jangan di toko orang."
Langkah kaki terdengar dari tangga di belakangku. Hani turun pelan-pelan, tangannya mencengkeram pegangan tangga. Dia berhenti dua anak tangga di atasku.
"Hani! Pulang sekarang!"
"Aku kerja, Mas." Suara Hani pelan, tapi jelas. "Pulangnya nanti aku pikirkan."
Laki-laki itu menatap istrinya seolah baru pertama kali mendengarnya bicara. Lalu dia tertawa sinis.
"Kalau malam ini kamu gak pulang, jangan pulang selamanya!"
Dia berbalik dan keluar, menyenggol bahu tukang parkir di pintu. Kerumunan perlahan bubar. Ibu yang merekam tadi menghampiri Ayu, memastikan aku baik-baik saja, lalu tetap membayar dua gamis pilihannya.
***
Hani duduk di kantor belakang dengan segelas air yang tidak diminumnya. Tangannya masih gemetar. Aku duduk di sebelahnya dan menunggu.
"Dia bilang jangan pulang selamanya," katanya akhirnya.
"Iya. Aku dengar."
"Dia pikir itu ancaman."
Aku diam. Hani memandangi gelas di tangannya lama sekali. Lalu dia tertawa kecil, tawa yang aneh, setengah menangis.
"Nin. Kamu tahu apa yang barusan aku rasakan waktu dia bilang begitu?"
"Apa?"
"Lega."
Dia meletakkan gelas, lalu meraih tas kain kecil yang selalu dibawanya. Tas yang sama tempat dia menyimpan gunting tua di hari pertama. Dia membukanya dan memperlihatkan isinya padaku. KTP, buku nikah, ijazah, buku tabungan, dan kartu keluarga dalam plastik bening.
"Sejak kamu bilang aku mulai kerja hari Senin, semua ini sudah ada di tasku," katanya. "Setiap hari kubawa. Aku gak tahu kapan, tapi aku tahu suatu hari aku akan butuh."
Aku memandanginya. Perempuan yang dulu kusuruh menunggu jadwalku rapi ternyata sudah menyiapkan jalannya sendiri, diam-diam, tanpa menunggu siapa pun.
Hani menelepon kakaknya, Kak Wulan. Percakapannya singkat. Aku hanya mendengar Hani berkata, "Boleh aku ke sana malam ini, Kak?" lalu mengangguk berkali-kali sambil mengusap mata.
Setelah menutup telepon, dia menoleh padaku.
"Nin. Minta nomor Bu Sekar."
"Kamu yakin?"
"Bukan karena kamu suruh." Hani menatapku lurus. "Karena aku mau."
Aku mengirimkan nomor itu ke ponselnya. Dia menyimpannya dengan nama lengkap, bukan inisial, bukan nama samaran. Seperti orang yang sudah tidak takut lagi ketahuan.
***
Aku mengantar Hani ke rumah Kak Wulan selepas magrib. Di jalan, dia memangku tas kainnya erat-erat. Lampu-lampu kota lewat di wajahnya bergantian.
"Dulu kamu bilang aku bodoh, mau saja dilarang kerja," katanya tiba-tiba. "Aku marah sama kamu waktu itu. Sebulan gak mau balas pesanmu."
"Aku ingat."
"Ternyata kamu benar."
"Dulu kamu bilang aku bodoh karena jatuh cinta," balasku. "Kamu sampai mengetik ulang perjanjianku sambil marah-marah. Kamu juga benar."
Hani tertawa. Kali ini tawa sungguhan. "Kita berdua bodoh, ya."
"Iya. Tapi sudah sembuh."
"Belum sembuh. Lagi berobat."
Kami sama-sama tertawa sampai aku harus mengerem mendadak di lampu merah.
Kak Wulan sudah menunggu di depan pagar rumahnya. Dia memeluk adiknya lama sekali tanpa bertanya apa-apa. Suaminya mengangkat tas kecil Hani ke dalam, seolah tas itu berisi barang berharga. Mungkin memang begitu.
Sebelum masuk, Hani mengetuk jendela mobilku.
"Besok aku tetap kerja. Payetnya kurang tujuh belas."
"Datang siang saja."
"Pagi. Kebaya Siska harus jadi minggu ini. Aku gak mau kalah sama toko kue."
Aku melajukan mobil pelan-pelan. Di kaca spion, kulihat Hani masih berdiri di depan pagar, melambai sampai aku berbelok di ujung jalan.
Rencana kita akhirnya berjalan, Han. Bukan karena aku yang mengatur jadwalnya. Karena kamu sendiri yang memutuskan berangkat.