"Kalau dia kabur, Bu Sekar?"
"Rumah dan tanahnya tidak bisa dibawa kabur, Pak. Sertifikatnya dipegang Bu Nina."
Papa tersenyum untuk pertama kalinya sejak semalam. Senyum yang mirip sekali dengan senyum Kafka setiap kali menemukan ide jahil.
Pagi itu kami duduk bertiga di kantor Bu Sekar. Papa memakai kemeja batik terbaiknya, seolah sedang menghadiri kondangan. Dia menandatangani keterangan sebagai saksi dengan tulisan tangan yang besar-besar. Hari kelahiran Raja. Rumah sakit. Menantu yang tidak datang. Papa menulis semuanya tanpa satu kata pun dihapus.
Bu Sekar menjelaskan dua langkah. Yang pertama, gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Karena aku yang mengajukan, aku menjadi penggugat. Yang kedua, surat somasi untuk Mas Reno soal pasal empat.
"Kami beri waktu empat belas hari, Bu, untuk menandatangani pengalihan secara sukarela di depan notaris. Kalau beliau menolak atau diam saja, kita ajukan gugatan terpisah."
"Empat belas hari," ulang Papa. "Cukup lama buat orang yang biasanya cuma butuh satu hari buat menghabiskan gaji."
Bu Sekar menahan senyum di balik kacamatanya.
Siang itu juga kami ke Pengadilan Agama. Gedungnya ramai. Ada perempuan menggendong bayi, ada laki-laki berwajah kusut, ada pasangan tua yang duduk berjauhan di bangku yang sama. Aku mengambil nomor antrean, menyerahkan berkas yang sudah disiapkan Bu Sekar, lalu membayar biaya perkara. Prosesnya biasa sekali. Petugas di balik loket bahkan tidak mengangkat wajah ketika mencatat namaku.
Berkas yang mengakhiri dua tahun pernikahanku ternyata hanya setebal majalah.
Dalam perjalanan pulang, Papa menyetir pelan sekali, seperti biasa. Di lampu merah, dia berdeham.
"Waktu kecil, kamu gak pernah mau kalah main congklak sama Papa. Sampai nangis-nangis minta main ulang."
"Papa."
"Papa cuma mau bilang." Dia menatap lurus ke jalan. "Yang ini jangan kalah, Nak. Tapi juga jangan nangis-nangis minta main ulang."
Aku tertawa dan memandang ke luar jendela, supaya Papa tidak melihat mataku basah.
***
"Mbak! Si Reno narik taksi online!"
Kafka menerobos masuk ke kamarku keesokan sorenya, masih dengan seragam dan napas ngos-ngosan.
"Temanku tadi pesan taksi online. Yang datang mobil yang kita kenal. Sopirnya si Reno! Sepanjang jalan dia ngeluh soal istrinya yang galak."
"Mobil siapa?"
"Mobil atas nama dia."
"Untuk sekarang."
Kafka menyodorkan ponselnya. Ada tangkapan layar profil pengemudi di aplikasi. Foto Mas Reno tersenyum, foto yang sama dengan foto profilnya di ponsel Siska.
"Ratingnya tiga koma dua, Mbak. Temanku kasih bintang dua. Katanya AC-nya dimatikan biar hemat bensin."
Aku memandangi foto itu lebih lama dari yang kuinginkan. Suamiku. Laki-laki yang dulu minta lima juta untuk makan siang di restoran, sekarang mematikan AC demi menghemat bensin.
Ada rasa puas. Ada juga rasa lain yang belum bisa kunamai. Aku memilih tidak memikirkannya.
***
Surat somasi sampai di rumah kecil itu dua hari sesudah kami dari kantor Bu Sekar. Malamnya, ponselku berdering. Nama mertuaku muncul di layar. Aku mengangkat, tapi menjauhkan ponsel dari telinga. Keputusan yang tepat.
"Pasal empat apa ini, Nina? Kamu mau ambil semuanya? Rumah, mobil, tanah?"
"Bukan ambil, Ma. Kembalikan."
"Kembalikan apanya? Semua atas nama Reno!"
"Mama yang suruh Mas Reno teken tanpa baca."
"Dulu Mama pikir pasal itu cuma tulisan temanmu yang sok pintar!"
"Hani memang pintar, Ma."
Aku menutup telepon. Mertuaku menelepon lagi tiga kali. Aku tidak mengangkatnya. Raja sedang menyusu, dan untuk urusan yang satu ini, mertuaku harus menunggu giliran.
***
Mas Reno datang ke butik keesokan harinya. Dia memakai kaus polo yang sudah pudar, dengan tali gantungan kartu pengemudi di leher. Wajahnya kusam. Lingkar matanya gelap. Ayu memandangnya dari meja kasir seperti melihat orang asing.
"Nin. Mas mau ngomong."
"Di kantor."
Di meja kantorku, audit Mbak Tari sudah terbentang. Aku memang menyiapkannya sejak pagi. Laras yang memberi kabar bahwa mobil atas nama suamiku sudah tiga kali lewat di depan butik sejak jam sepuluh. Rupanya dia butuh waktu lama untuk mengumpulkan keberanian.
Mas Reno duduk. Matanya jatuh ke kertas-kertas itu, lalu naik ke wajahku.
"Apa ini?"
"Baca."
Dia tidak membaca. Jadi aku yang membacakan untuknya. Pelan-pelan, satu demi satu, seperti guru mengeja kepada murid.
"CV Kain Mulia. Alamatnya tanah kosong. Tiga puluh satu juta." Aku membalik halaman. "Biaya bahan mendadak, tanpa kuitansi. Dua puluh dua juta sembilan ratus." Halaman berikutnya. "Upah jahit borongan. Delapan belas kali. Rekening tujuan atas nama Hartini. Tiga puluh dua juta lima ratus."
Aku menutup map.
"Totalnya delapan puluh enam juta empat ratus, Mas. Dalam dua tahun."
Mas Reno tidak membantah. Itu yang paling mengejutkanku. Dia hanya memandangi map yang tertutup, kemudian menutup wajah dengan kedua tangan.
"Mama minta, Mas kasih," katanya dari balik telapak tangan. "Rini minta, Mas belikan. Arisan, tas, HP, jalan-jalan. Kalau kurang..." Suaranya pecah. "Kalau kurang, kamu yang nutup. Kamu selalu nutup, Nin. Mas pikir itu akan selalu begitu."
"Sekarang gak ada yang nutup, Mas."
"Mas bisa ganti. Pelan-pelan."
"Pakai apa? Bintang tiga koma dua?"
Dia mengangkat wajah, kaget. Lalu tersenyum pahit. Tentu saja dia tahu dari mana aku tahu.
"Kafka, ya."
"Partner-ku."
Mas Reno menyandarkan punggung. Lama dia diam, memandangi langit-langit kantor yang dulu sering dia pakai untuk tidur siang di jam kerja.
"Setidaknya mobilnya, Nin. Mas butuh mobil buat cari uang. Buat Raja juga, nanti."
"Pasal empat gak kenal kata setidaknya, Mas."
"Kamu tega."
"Kamu yang tega duluan. Aku cuma belajar dari yang terbaik."
Mas Reno berdiri. Kursinya berderit. Dia berjalan ke pintu, memegang gagangnya, lalu berhenti dan menoleh. Untuk sesaat, wajahnya tidak terlihat marah. Wajahnya terlihat bingung, seperti orang yang terbangun di rumah yang bukan rumahnya.
"Kamu dulu gak begini, Nin."
"Dulu aku belum pernah melahirkan sendirian, Mas."
Dia membuka pintu dan pergi. Dari jendela kantor, aku melihatnya masuk ke mobil, duduk diam beberapa saat dengan kedua tangan di setir, lalu menyalakan mesin. Dia tidak menyalakan AC. Kaca jendelanya diturunkan.
Mbak Tari mengetuk pintu yang masih terbuka. "Bu? Arsipnya saya simpan lagi?"
"Simpan, Mbak. Jangan sampai hilang satu lembar pun."
"Baik, Bu." Dia ragu sebentar. "Ibu baik-baik saja?"
Aku memandangi kursi yang tadi diduduki Mas Reno. Masih hangat, mungkin.
"Baik, Mbak. Saya cuma baru sadar, delapan puluh enam juta itu ternyata gak seberapa dibanding dua tahun."