"Ma, Pa. Duduk dulu. Nina mau cerita."
Papa melipat koran. Mama mematikan kompor dan keluar dari dapur sambil mengelap tangan di daster. Mereka duduk berdampingan di sofa tua yang sama sejak aku masih SD. Raja tidur di pangkuan Mama. Kafka duduk di kursi rotan dekat pintu garasi, seperti orang yang sudah siap kabur kapan saja.
Garasi itu. Dulu butikku lahir di sana, di antara mesin jahit Hani dan tumpukan kain sisa. Malam ini rasanya seperti kembali ke titik awal.
"Ada apa, Nak? Kok serius begitu?"
"Mas Reno sudah gak tinggal di rumah, Ma. Kemarin dia pulang ke rumah mamanya. Bawa koper."
Mama menutup mulut. Papa hanya mengangkat alis.
"Kalian bertengkar?"
"Lebih dari itu, Pa. Nina mau cerai."
Kalimat itu kuucapkan dengan suara yang lebih tenang dari dugaanku. Mungkin karena sudah berkali-kali kulatih di kepala sepanjang perjalanan.
Lalu aku menceritakan semuanya. Dari pagi itu. Perutku sakit, aku bilang mau melahirkan, dan Mas Reno menyuruhku menunda. Tunda saja acara melahirkannya, katanya, hari ini dia sibuk. Lalu dia pergi. Aku keluar rumah sendirian, berjalan sambil memegangi pagar, sampai Bu Mirna lewat dan mengantarku ke rumah sakit. Sementara itu suamiku, mertuaku, dan Rini sedang tertawa di tempat wisata mahal, lalu makan di restoran mewah. Dengan uangku.
Mama sudah menangis sebelum aku selesai. Papa tidak. Papa berdiri, berjalan ke jendela, dan berdiri di sana membelakangi kami. Kedua tangannya mengepal di samping badan.
"Papa ingat," katanya pelan. "Papa yang azan di telinga Raja. Waktu itu Papa tanya, Reno mana? Kamu gak jawab."
"Nina gak mau Papa tahu dulu."
"Kenapa?"
"Karena kalau Papa tahu, Papa pasti datangi dia. Rencana Nina bisa berantakan."
Papa berbalik. Matanya merah. "Rencana apa?"
Aku menarik napas, lalu melanjutkan. Laporan keuangan butik yang bocor delapan puluh enam juta. Transfer ke rekening atas nama mertuaku. Rumah besar yang kujual. Perempuan bernama Siska yang hampir dilamar untuk suamiku. Pesan yang bilang aku cuma numpang.
Lalu aku berhenti. Karena bagian berikutnya bukan milikku untuk diceritakan.
"Ada satu lagi, Ma, Pa," kataku. "Perjanjian. Semua harta yang Nina beli sesudah menikah atas nama Mas Reno. Rumah, mobil, tanah."
"Perjanjian apa itu?" Papa mengerutkan kening. "Kenapa Papa gak pernah tahu?"
Aku menoleh ke kursi rotan. Kafka sudah berdiri. Wajahnya pucat, tapi dagunya terangkat.
"Biar Kafka yang cerita, Mbak."
***
Kafka berdiri di tengah ruang tamu seperti anak yang dipanggil ke depan kelas. Jarinya mengusap pelipis kiri, tempat bekas jahitan tipis yang selama ini dia tutupi dengan poni.
"Pa, Ma. Jahitan ini... Kafka bilang Kafka jatuh dari motor teman. Itu bohong."
Mama berhenti menangis. Papa diam.
"Dua tahun lebih yang lalu, waktu Mas Reno datang makan malam buat bahas tanggal lamaran Mbak Nina. Mas Reno bawa mobil almarhum papanya. Sedan tua warna hijau. Kuncinya ditaruh di meja depan." Kafka menelan ludah. "Kafka ambil diam-diam, pas Papa sama Mama udah masuk kamar. Kafka ajak teman-teman keliling. Terus nabrak pembatas jalan dekat jembatan."
Papa memejamkan mata.
"Mobilnya ringsek, Pa. Depannya hancur. Kafka dapat tujuh jahitan. Teman-teman cuma lecet." Suaranya bergetar. "Mama Mas Reno marah besar. Katanya mobil itu peninggalan suaminya yang paling dia sayang. Dia mau lapor polisi. Mau lapor sekolah juga. Kafka bisa dikeluarkan. Terus..."
"Terus Nina yang urus, Pa," potongku pelan. "Mama Mas Reno gak minta mobil diganti. Dia minta jaminan. Kalau Nina mau menikah dengan Mas Reno, semua harta yang dibeli sesudah menikah harus atas nama Mas Reno. Biar anaknya punya pegangan, katanya. Karena keluarga kita sudah menghancurkan peninggalan suaminya."
"Dan kamu setuju?" Suara Papa nyaris tidak terdengar.
"Waktu itu Nina pikir itu harga yang murah, Pa. Harta suami istri kan sama saja. Nina cinta sama Mas Reno. Dan Nina gak mau Kafka punya catatan polisi umur lima belas tahun."
Papa berjalan pelan ke arah Kafka. Kafka mundur selangkah, lalu berhenti. Dia menunduk, seperti menunggu tamparan.
"Kamu hampir membunuh dirimu sendiri," kata Papa. "Lalu kamu bohong sama Papa dua tahun."
"Iya, Pa. Maaf."
Papa mengangkat tangan. Kafka memejamkan mata rapat-rapat.
Tangan itu jatuh di belakang kepala Kafka, lalu menariknya ke pelukan. Papa memeluk anak angkatnya erat sekali, sampai kacamata Papa miring. Kafka menangis. Tangis anak laki-laki umur tujuh belas yang selama ini sibuk berpura-pura tidak peduli apa pun.
"Kalau mobil itu masalahnya, kenapa gak bilang Papa? Papa yang ganti."
"Kafka takut, Pa."
"Kamu anak Papa. Takut sama Papa itu boleh. Bohong sama Papa yang gak boleh."
***
Mama memandangiku dengan mata bengkak. Raja masih tidur pulas di pangkuannya, sama sekali tidak terganggu.
"Jadi kamu nikah sama dia karena itu?"
"Nina nikah karena cinta, Ma. Perjanjiannya karena Kafka."
"Terus sekarang? Semua atas nama dia?"
"Untuk sekarang." Aku tersenyum sedikit. "Ada satu pasal di perjanjian itu, Ma. Pasal empat. Kalau Mas Reno gak menafkahi, menelantarkan istri atau anak, atau menyalahgunakan uang butik, semua harta yang dibeli pakai uang Nina harus balik ke nama Nina. Dan dia harus tanda tangan."
Papa melepaskan pelukannya dari Kafka. "Siapa yang menulis pasal itu?"
"Hani, Pa. Dia yang memaksa Nina menambahkan. Waktu itu Nina ketawa, Nina pikir cuma formalitas."
"Hani," ulang Papa. "Anak itu dari dulu lebih pintar dari kamu."
"Papa."
"Benar, kan?"
Kafka tertawa di sela tangisnya. Mama ikut tertawa sambil mengusap mata. Aku juga. Untuk sesaat, ruang tamu tua itu terasa seperti dulu, ketika masalah terbesar kami cuma pesanan gaun yang belum selesai dijahit.
***
Kami makan malam bersama. Sayur asem dan ikan asin, masakan Mama yang tidak pernah berubah rasanya. Kafka makan tiga piring. Papa makan pelan sekali, lalu meletakkan sendok sebelum piringnya habis.
"Pengacaramu siapa?"
"Bu Sekar, Pa. Kantornya dekat pengadilan."
"Besok Papa ikut."
"Papa jadi saksi, ya." Aku menatapnya. "Papa yang mengazani Raja. Papa yang tahu Mas Reno gak ada di rumah sakit hari itu."
Papa mengangguk. Dia memandangi cucunya yang kini tertidur di ayunan rotan, ayunan yang dulu dipakai untuk menidurkan aku dan Kafka.
"Papa ingat semuanya," katanya. "Papa ingat semuanya, Nak."
Malam itu aku dan Raja tidak pulang. Kami tidur di kamarku yang lama, di bawah langit-langit yang sama tempat aku dulu menggambar desain gaun pertamaku. Sebelum terlelap, aku mendengar suara Papa dan Kafka di teras. Pelan, panjang, sesekali diselingi tawa kecil.
Dua tahun lebih Kafka memikul rahasia itu sendirian. Malam ini, akhirnya, dia boleh meletakkannya.