"Sudah, Mbak Nina. Mama saya sudah bicara di depan semua ibu-ibu arisan."
Suara Siska di telepon terdengar lelah, tapi lega. Sore itu aku sedang memandikan Raja di bak kecil, jadi Kafka yang memegangi ponsel di dekat telingaku.
"Tante Hartini pulang duluan. Gak pamit," lanjut Siska. "Oh iya, Mbak. Ternyata Tante Hartini pernah pinjam uang Mama saya lima juta. Katanya buat persiapan lamaran. Mama saya minta dikembalikan minggu ini."
Kafka menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya berkaca-kaca menahan tawa.
"Terima kasih sudah kabari, Siska."
"Sama-sama, Mbak. Kebaya saya jangan lupa, ya."
Telepon ditutup. Aku membilas rambut Raja yang tipis dan halus dengan air hangat. Anakku menguap lebar, tidak peduli neneknya baru saja dipermalukan di depan seluruh arisan satu kompleks.
"Mbak," bisik Kafka. "Lima juta buat lamaran. Lamaran siapa? Kan si Reno masih punya istri."
"Makanya, Kaf."
***
Mas Reno sedang berbaring di sofa ketika ponselnya mulai bergetar tanpa henti. Dia membuka satu pesan, lalu duduk tegak. Membuka pesan kedua, lalu wajahnya berubah pucat. Dia menekan sebuah nomor, menempelkan ponsel di telinga, dan menunggu. Tidak diangkat. Dia mencoba lagi. Tetap tidak diangkat.
Pelan-pelan, kepalanya menoleh ke arahku.
"Nin. Kamu ketemu Siska?"
"Pelanggan, Mas." Aku menyerahkan Raja yang sudah wangi kepada Kafka. "Pesan kebaya."
Mas Reno membuka mulut, belum sempat bicara, ketika suara motor berhenti di depan pagar. Lalu suara pintu pagar dibanting. Lalu suara yang sangat kukenal.
"Nina! Keluar kamu!"
Mertuaku masuk tanpa mengetuk. Helm ojeknya masih di tangan. Wajahnya merah padam, rambutnya awut-awutan bekas helm, dan napasnya terengah seperti habis berlari dari ujung kota.
"Kamu! Kamu yang bikin Mama malu di depan semua ibu-ibu arisan!"
"Mama malu karena bohong, Ma. Bukan karena aku."
"Kamu sengaja jebak Siska!"
"Mama sendiri yang suruh Siska ke butikku. Katanya butik Mas Reno, boleh pilih kain apa saja."
Pintu kamar Kafka terbuka sedikit. Kepalanya menyembul, dengan Raja di gendongannya. "Butik Mas Reno? Mas Reno punya butik? Di mana? Kafka mau beli celana."
"Kafka, masuk."
"Iya, Mbak." Pintu tertutup lagi. Tapi aku yakin telinganya menempel di daun pintu.
Mertuaku berbalik pada anaknya. "Reno! Kamu diam aja istrimu begini sama Mama?"
Aku mengambil ponselku dari meja, membuka tangkapan layar yang dikirim Siska, lalu mengangkatnya tepat di depan wajah Mas Reno. Dekat sekali, sampai dia harus mundur sedikit untuk bisa membaca.
[Rumah itu atas namaku, Sis. Nina cuma numpang.]
"Ini kamu yang ketik, Mas?"
Mas Reno menelan ludah. Matanya bergerak dari layar ke wajahku, lalu ke mamanya.
"Itu... Mas cuma nurut Mama, Nin. Mama yang suruh Mas ngomong begitu, biar Siska yakin."
"Reno!" Mertuaku memekik.
"Memang Mama, kan! Mama yang bilang Siska harus yakin Reno punya rumah!"
"Kamu yang mau! Kamu yang bilang capek tiap hari dikasih kerupuk!"
Mereka berdua saling tunjuk di tengah ruang tamuku. Ibu dan anak yang selama ini kompak menghabiskan uangku, sekarang saling lempar kesalahan seperti dua anak kecil berebut mainan rusak.
"Siapa pun yang ngetik," kataku, "yang menekan tombol kirim itu jempolmu, Mas."
Mas Reno terdiam. Lalu, mungkin karena terpojok, wajahnya berubah. Ada sesuatu yang selama ini dia sembunyikan di balik nasi goreng gosong dan bunga bugenvil curian. Sesuatu yang keras.
"Ya sudah! Memang kenyataannya begitu, kan? Rumah ini atas namaku! Kalau aku mau, aku bisa suruh kamu keluar dari sini sekarang juga!"
"Atas namamu," kataku. "Untuk sekarang."
Mertuaku mengernyit. "Untuk sekarang apa maksudmu?"
Aku menatap Mas Reno lurus-lurus. Laki-laki yang membiarkanku berjalan sendirian ke jalan besar sambil memegangi perut. Laki-laki yang makan di restoran mewah saat anaknya lahir. Laki-laki yang menulis bahwa aku hanya menumpang.
"Nikmati namamu di sertifikat itu selagi bisa, Mas. Karena sebentar lagi, kamu akan miskin, Mas!"
Kalimat itu menggantung di ruang tamu. Semua orang membeku. Bahkan mertuaku lupa menutup mulutnya.
***
Aku masuk ke kamar, membuka lemari Mas Reno, dan menarik koper hitam besar dari atasnya. Koper yang dulu kami bawa bulan madu. Kumasukkan semuanya. Kemeja kerja, kaus rumah, celana pendek, sarung, handuk, bahkan kaus kaki yang tidak pernah berpasangan. Kulipat seadanya. Kurang dari sepuluh menit.
Lalu kuseret koper itu ke ruang tamu dan kuletakkan di depan kaki suamiku.
"Dua tahun kamu protes aku gak pernah menyiapkan pakaianmu. Nih, Mas. Sudah kusiapkan semuanya."
"Kamu ngusir Mas dari rumah Mas sendiri?"
"Aku gak ngusir. Silakan tinggal kalau mau." Aku menyilangkan tangan. "Tapi listrik rumah ini atas namaku. Air atas namaku. Isi kulkas kubeli pakai uangku. Kasur yang kamu tiduri, aku yang pilih dan aku yang bayar waktu hamil tiga bulan. Mulai malam ini, semua itu bukan buat kamu lagi. Silakan tinggal di rumah atas namamu. Sertifikatnya saja kalau bisa dimakan."
Mas Reno memandangi koper itu lama sekali. Kemudian memandangi mamanya. Mertuaku memakai helmnya kembali dengan tangan gemetar.
"Ayo pulang, Reno. Ngapain di sini dihina-hina."
"Ma..."
"Pulang!"
Mas Reno meraih kunci mobil di gantungan dekat pintu. Mobil atas namanya. Dia menyeret koper ke luar tanpa menoleh. Mesin mobil menyala, lalu suaranya menjauh, diikuti motor ojek yang membawa mamanya.
Pagar dibiarkan terbuka. Aku menutupnya sendiri, lalu menguncinya.
***
Rumah mendadak sunyi sekali. Aku berdiri di ruang tamu dan pandanganku jatuh ke atas bufet. Bingkai foto pernikahan kami masih di sana. Kacanya retak sejak Mas Reno menjatuhkannya hari itu. Katanya mau diganti. Waktu itu aku bertanya, mau ganti pakai apa, daun?
Kuturunkan bingkai itu. Kumasukkan ke dalam kardus bekas popok, wajah fotonya menghadap ke bawah. Lalu kardus itu kudorong ke kolong meja.
Kafka muncul dari dapur membawa dua gelas teh. Raja sudah dia tidurkan di ayunan.
"Teh, Mbak." Dia meletakkan satu gelas di depanku. "Yang ini aman. Gak bikin sakit perut."
Aku tertawa. Lalu, entah bagaimana, tawa itu berubah. Mataku panas, dan sebelum aku sempat mencegah, air mataku jatuh ke pangkuan.
Kafka duduk di sebelahku. Dia tidak bicara apa-apa. Hanya menyodorkan tisu, satu demi satu, sampai kotaknya hampir habis.
"Mbak jangan lama-lama nangisnya," katanya akhirnya. "Nanti Raja bangun, ikut nangis. Kafka gak sanggup nenangin dua orang sekaligus."