"Bu, ada pelanggan cari Pak Reno. Katanya Pak Reno yang punya butik ini."
Ayu, pramuniaga paling muda di butik, berdiri di pintu kantor dengan wajah bingung. Aku sedang menandatangani lembar pemeriksaan kas bersama Mbak Tari. Penaku berhenti di tengah huruf.
"Siapa namanya?"
"Mbak Siska, Bu."
Mbak Tari mengangkat wajah. Dia tidak tahu apa-apa soal Siska, tapi dia cukup pintar untuk membaca perubahan di wajahku.
"Suruh duduk, Yu. Kasih minum. Saya keluar sebentar lagi."
Aku menyelesaikan tanda tangan, merapikan baju, lalu menarik napas panjang. Hari kelima belas sesudah melahirkan. Pinggangku sudah lebih kuat, perutku belum. Tapi kepalaku dingin sekali pagi itu.
Perempuan yang duduk di sofa tamu terlihat lebih muda dari foto di ponsel Kafka. Mungkin dua puluh tujuh tahun. Blusnya warna salem, rambutnya diikat rapi, dan ketika aku mendekat, tercium wangi mentega dan vanili. Wangi orang yang setiap hari berdiri di depan oven.
"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?"
"Pagi, Mbak." Dia tersenyum ramah. "Saya Siska. Tante Hartini yang suruh saya ke sini. Katanya butik ini punya Mas Reno, jadi saya boleh pilih kain apa saja buat kebaya."
"Kebaya untuk acara apa?"
Pipinya memerah sedikit. "Acara keluarga bulan depan. Perkenalan resmi keluarga Mas Reno dengan keluarga saya."
Aku duduk di seberangnya. Pelan-pelan, karena aku takut kalau bergerak terlalu cepat, tawaku pecah. Atau tangisku. Aku belum yakin mana yang lebih dulu keluar.
"Mbak Siska sudah lama kenal Mas Reno?"
"Baru sebulan, Mbak. Tante Hartini yang kenalkan. Mama saya sama Tante Hartini teman arisan." Dia menyeruput teh yang dibawakan Ayu. "Katanya Mas Reno sudah pisah ranjang setahun sama istrinya. Tinggal tunggu ketok palu."
"Oh. Istrinya kenapa?"
"Galak, katanya. Pelit juga. Mas Reno sampai gak dikasih makan."
"Wah," kataku. "Kasihan Mas Reno."
Ayu, yang berdiri di belakang Siska dengan nampan, mendadak batuk-batuk dan buru-buru pergi ke gudang.
Aku menunjuk bingkai di dinding, di atas meja kasir. Isinya surat izin usaha butik. Huruf-huruf hitamnya terbaca jelas dari sofa.
"Mbak Siska bisa baca nama pemilik di situ?"
Siska memicingkan mata. Membacanya. Lalu membacanya sekali lagi. Senyumnya membeku.
"Nina," gumamnya.
"Saya Nina." Aku mengulurkan tangan. "Pemilik butik ini. Istri Mas Reno. Yang galak dan pelit itu."
Siska tidak menyambut tanganku. Dia hanya menatapnya, seolah tanganku baru saja berubah menjadi ular. Aku menariknya kembali, lalu mengambil ponsel dan memperlihatkan layar kuncinya. Raja dalam bedong putih, mata terpejam, mulut kecil terbuka.
"Ini anak kami. Raja. Umurnya lima belas hari."
"Lima belas... hari?"
"Kalau pisah ranjangnya setahun, berarti saya hamil sendiri, Mbak."
Cangkir di tangan Siska bergetar. Teh tumpah sedikit ke rok salemnya. Dia tidak menyadarinya.
***
Kami pindah ke kantor belakang. Mbak Tari membawakan segelas air putih untuk Siska, lalu keluar dan menutup pintu tanpa diminta.
Siska duduk diam lama sekali. Tangannya meremas tali tas. Lalu, tanpa kuminta, dia membuka ponselnya dan menyodorkannya padaku.
"Mbak harus lihat ini."
Percakapan dengan nama kontak Mas Reno. Foto profilnya aku kenal. Foto itu kuambil sendiri waktu kami bulan madu.
[Makasih ya, Sis, sudah mau ketemu Mama malam ini.]
[Maaf kalau tadi Mas kelihatan capek. Lagi banyak pikiran.]
[Rumah itu atas namaku, Sis. Nina cuma numpang.]
[Sebentar lagi urusanku sama dia selesai. Sabar, ya.]
Tanggalnya malam keempat sesudah Raja lahir. Malam ketika aku dan Kafka mengunci pintu dan membiarkan mereka tidur di teras dikerubuti nyamuk. Malam ketika foto itu muncul di ponsel Kafka.
Nina cuma numpang.
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Anehnya, tanganku sama sekali tidak gemetar. Mungkin karena hatiku sudah lebih dulu kehabisan tenaga untuk gemetar.
"Boleh saya minta tangkapan layarnya, Mbak?"
Siska mengangguk. Dia mengirimkan semuanya ke nomorku. Satu per satu, ponselku berdenting.
"Saya minta maaf, Mbak Nina." Suaranya serak. "Saya sungguh gak tahu. Tante Hartini bilang semua beres. Mas Reno juga gak pernah bilang dia punya anak."
"Kamu gak salah." Aku mengembalikan ponselnya. "Kamu ditipu orang yang sama yang menipu saya dua tahun. Bedanya, kamu baru sebulan."
Siska tertawa kecil, tawa yang lebih mirip isakan. Dia mengusap mata dengan tisu, lalu menegakkan punggung.
"Mama saya harus tahu. Hari ini juga."
"Silakan."
"Arisannya besok sore. Di rumah Bu RT." Siska menatapku. Ada sesuatu di matanya yang membuatku teringat pada diriku sendiri beberapa hari lalu. Marah, malu, lalu sangat tenang. "Mama saya bukan orang yang suka marah diam-diam, Mbak."
"Mertua saya juga bukan."
Kami berdua terdiam. Lalu, entah siapa yang mulai, kami sama-sama tersenyum.
***
Sebelum pulang, Siska berdiri di depan rak kain cukup lama.
"Mbak. Kebayanya tetap boleh saya pesan?"
Aku mengangkat alis.
"Bukan buat acara keluarga itu." Dia buru-buru menambahkan. "Buat saya sendiri. Toko kue saya ulang tahun ketiga bulan depan. Saya mau pakai kebaya yang bagus. Biar gak sia-sia saya datang ke sini."
"Boleh. Harga normal."
"Gak ada diskon?"
"Diskon calon istri sudah gak berlaku."
Siska tertawa, kali ini sungguhan. Aku memanggil Hani dari lantai dua untuk mengukur badannya. Hani turun dengan meteran melingkar di leher dan gunting tua di saku celemek. Pelanggan pertama bengkel jahit kami ternyata perempuan yang hampir dijodohkan dengan suamiku. Hidup memang suka bercanda.
Hani mengukur dengan cekatan, mencatat di buku kecil, lalu berbisik padaku ketika Siska memilih warna. "Ini yang di foto itu?"
"Iya."
"Kamu kok tenang banget?"
"Aku lagi gak punya waktu buat histeris, Han. Raja harus menyusu jam sebelas."
***
Setelah Siska pergi, aku duduk sendirian di kantor. Butik ramai di depan, suara mesin jahit terdengar samar dari lantai atas. Aku membuka tangkapan layar itu lagi.
[Rumah itu atas namaku, Sis. Nina cuma numpang.]
Numpang. Di rumah yang kubeli dengan uangku. Yang listriknya kubayar, yang isi kulkasnya kubelanjakan, yang kasurnya kupilih sendiri di toko mebel waktu aku hamil tiga bulan.
Aku menelepon Bu Sekar. Dia mengangkat di dering kedua.
"Bu Sekar. Soal pertanyaan Ibu tempo hari, apakah saya masih ingin mempertahankan pernikahan ini."
"Ya, Bu Nina?"
"Saya sudah memutuskan. Saya mau cerai."
Hening sebentar di seberang. Lalu suara Bu Sekar terdengar, tetap pelan dan tenang seperti biasa. "Baik. Besok kita siapkan berkasnya."
Aku menutup telepon dan memandangi pesan itu sekali lagi.
Numpang, katamu, Mas. Sebentar lagi kita lihat siapa yang sebenarnya numpang.