"Pinjam tas kamu yang cokelat itu, Nina. Yang ada gesper emasnya."
"Buat apa, Ma?"
"Mama dipanggil ke sekolah Rini. Guru BK sama wakil kepala sekolah sendiri yang telepon. Pasti soal prestasi. Rini kan pintar." Mertuaku berdiri di ruang tamuku pagi-pagi dengan kebaya brokat ungu dan sanggul tinggi. Baju yang di kardusnya ditulis Kafka: baju pesta, untuk pesta yang gak diundang. "Biar guru-gurunya tahu Rini anak orang berada."
Aku melirik Mas Reno. Dia berdiri di belakang mamanya dengan kunci mobil di tangan, wajahnya sedikit was-was. Mungkin dia satu-satunya orang di keluarga itu yang curiga panggilan sekolah tidak selalu berarti piala.
"Tas saya gak ikut ke ruang BK, Ma."
"Pelit!"
"Iya."
Mertuaku mengentakkan kaki ke luar. Mas Reno menyusul, masih sempat menoleh padaku. Tatapannya bertanya, kamu tahu sesuatu? Aku menunduk, merapikan selimut Raja di ayunan.
Tahu, Mas. Dan sebentar lagi kalian semua juga tahu.
***
Mereka kembali tiga jam kemudian. Kali ini bertiga.
Pintu depan dibuka tanpa salam. Rini masuk lebih dulu, masih memakai seragam, matanya bengkak. Di belakangnya mertuaku, sanggulnya miring, maskaranya luntur sampai pipi. Mas Reno paling belakang, menutup pintu pelan-pelan seperti orang masuk ruang jenazah.
"Kamu," desis mertuaku sambil menunjukku. "Kamu yang lapor!"
Aku sedang menyuapkan pepaya ke mulutku sendiri. Kukunyah pelan, kutelan, lalu kuletakkan garpu.
"Lapor apa, Ma?"
"Jangan pura-pura! Kata wakil kepala sekolah, laporannya dari pihak luar! Lengkap sama rekaman! Siapa lagi pihak luar yang benci sama Rini kalau bukan kamu?"
"Apa isi laporannya?"
Mertuaku menarik napas, siap meledak, tapi tidak ada kalimat yang keluar. Rupanya mengucapkan isi laporan itu lebih berat daripada menuduhku.
Mas Reno yang akhirnya menjawab, lirih. "Rekaman CCTV kelas. Rini ambil uang dari tas teman-temannya. Beberapa kali. Ada satu HP juga."
"Berapa kali?"
"Tujuh," kata Mas Reno. "Yang ketahuan."
Ruang tamu hening. Raja menggeliat di ayunan. Rini terisak di sofa, menutup wajah dengan kedua tangan.
"Sekolah minta semuanya diganti," lanjut Mas Reno. "Tiga juta tujuh ratus. Paling lambat minggu depan. Rini diskors lima hari. Kalau sekali lagi, dikeluarkan."
"Dan itu semua gara-gara kamu!" Mertuaku menudingku lagi. "Kamu yang lapor, kamu yang bayar!"
Aku berdiri. Pelan, karena pinggangku masih belum sepenuhnya pulih.
"Iya, Ma. Aku yang lapor."
Rini mengangkat wajah. Mertuaku terbelalak. Mungkin mereka mengira aku akan mengelak.
"Tapi yang ambil uang teman-temannya siapa?"
Semua diam.
"Aku gak menaruh tangan Rini di tas orang, Ma. Aku cuma memastikan orang-orang yang kehilangan tahu siapa pelakunya. Selama ini anak-anak itu mungkin dimarahi orang tuanya karena dikira teledor. Ada yang mungkin gak jajan seminggu."
"Mbak jahat!" Rini menjerit.
"Temanmu yang HP-nya kamu ambil, jahat juga gak, Rin?"
Rini terdiam. Bibirnya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak dia datang membawa koper ke rumah ini, dia tidak punya balasan.
"Tiga juta tujuh ratus," kata mertuaku, kali ini dengan suara yang lebih kecil. "Dari mana Mama dapat uang segitu?"
"Bayar pakai perhiasan Rini, Ma." Aku mengambil kembali piring pepayaku. "Oh, iya. Sudah habis buat bayar utang yang dua juta."
Mas Reno memejamkan mata. Mertuaku berbalik padanya.
"Reno, bayar!"
"Pakai apa, Ma? Dompet Reno isinya tinggal KTP sama struk parkir."
"Jual TV Mama!"
"TV Mama tabung. Siapa yang mau beli?"
"Jual HP Rini, kalau gitu!"
"Jangan HP-ku, Ma!" Rini langsung memeluk tasnya.
"HP itu hasil apa, Rin?" tanyaku pelan. Dia menatapku, lalu menatap lantai. Tidak menjawab.
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku tidak perlu. Selama ini aku heran bagaimana anak yang tidak bekerja bisa membeli ponsel keluaran terbaru. Sekarang aku tidak heran lagi.
Mertuaku menjatuhkan diri di sofa. Dia menangis. Benar-benar menangis, dengan suara yang membuat Raja ikut merengek. Aku mengangkat anakku dari ayunan dan menimangnya.
Lalu tangis itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Mertuaku berdiri, mengusap pipi dengan punggung tangan, dan dagunya kembali terangkat.
"Tunggu saja kamu, Nina. Kamu pikir kamu paling kaya? Sebentar lagi Reno punya istri yang jauh lebih kaya dari kamu! Lebih cantik, lebih baik, lebih tahu cara menghormati mertua! Kamu yang bakal nangis!"
"Ma!" Mas Reno mencengkeram lengan mamanya. Wajahnya pucat pasi.
Aku menatap mereka berdua bergantian. Lucu sekali. Si ibu baru saja membuka kartu yang selama ini disembunyikan anaknya dengan susah payah. Kartu itu bahkan sudah kuintip dari kemarin.
Siska. Toko kue dekat pasar.
"Semoga istri barunya gak keberatan," kataku tenang, "punya suami yang gak punya apa-apa."
"Gak punya apa-apa?" Mertuaku tertawa sinis. "Rumah ini atas nama Reno! Mobil atas nama Reno! Tanah juga!"
"Iya, Ma. Atas nama."
Mas Reno menarik mamanya keluar sebelum wanita itu sempat bertanya apa maksudku. Rini mengikuti dengan langkah terseret. Pintu depan tertutup. Dari jendela aku melihat mereka bertengkar di samping mobil. Tangan mertuaku menunjuk-nunjuk ke rumah, lalu ke wajah anaknya. Mas Reno berkali-kali menggeleng.
Setelah mobil itu pergi, aku menelepon Laras.
"Rekamannya kamu kirim ke siapa saja, Ras?"
"Hanya ke guru BK dan wakil kepala sekolah, Bu. Lewat surat resmi, seperti yang Ibu minta. Tidak ke grup mana pun."
"Bagus. Biar sekolah yang urus."
Aku memang ingin Rini kapok. Tapi kapok dan jadi tontonan satu kota itu dua hal yang berbeda. Kalau rekaman itu sampai beredar, yang ikut menanggung malu nanti juga Raja. Bagaimanapun, anak manja itu tetap tantenya.
***
Kafka pulang sore harinya. Aku menceritakan semuanya sambil melipat baju Raja. Dia mendengarkan dengan mulut setengah terbuka.
"Tujuh kali? Gila. Rini kayak mesin ATM, tapi kebalik."
"Kafka."
"Iya, iya. Pasal empat. Gak boleh ada yang celaka. Tapi ini kan dia celaka sendiri, Mbak."
Aku tidak membantah. Dia ada benarnya.
"Terus istri baru itu?" Kafka menyeringai. "Wih. Si Reno laku juga ternyata."
"Laku karena dikira punya rumah, mobil, sama tanah."
Ponselku berdenting. Pesan dari Laras.
[Bu, Siska sudah tiga kali makan malam dengan keluarga Pak Reno. Kata orang dekat Bu Wiwik, ibu mertua Ibu bilang Pak Reno sudah pisah ranjang dengan istrinya setahun. Sebentar lagi cerai.]
Aku membaca pesan itu dua kali. Lalu menunduk ke Raja yang tertidur di pangkuanku, dengan tangan kecilnya terkepal di dekat dagu.
Pisah ranjang setahun. Lalu bayi ini datang dari mana, Ma? Dari toko kue?