"Buat istri Mas yang paling cantik."
Seikat bunga bugenvil merah muda disodorkan ke depan wajahku. Batangnya patah tidak rata. Beberapa daunnya masih basah embun.
Aku mengenali warna itu. Pagar rumah Bu Mirna di seberang jalan penuh bunga persis seperti ini. Dari jendela, aku bahkan bisa melihat satu bagian pagarnya yang mendadak botak.
"Beli di mana, Mas?"
"Ada deh. Rahasia."
Dia memasukkan bunga itu ke gelas bekas selai, lalu menaruhnya di meja makan. Setelah itu dia menawarkan diri memijat bahuku. Aku menolak. Dia menawarkan diri memandikan Raja.
"Kamu tahu cara pegang kepalanya?"
"Belum."
"Ya sudah."
Mas Reno menggaruk tengkuk, lalu pergi ke belakang dan menjemur pakaian bayi sambil bersiul. Semua baju Raja dijepit terbalik, kaki di atas, kepala di bawah. Setelah itu dia ke dapur dan mencuci piring. Ya ampun. Mencuci piring. Dua tahun menikah, aku tidak pernah melihatnya memegang spons. Kalau Kafka ada di rumah, pasti dia sudah merekamnya untuk kenang-kenangan.
Aku menyusui Raja di kamar sambil menghitung. Hari ini hari kedua Mas Reno bersikap manis. Kemarin nasi goreng gosong, hari ini bunga curian dan piring bersih. Besok apa lagi?
Jawabannya datang lebih cepat dari dugaanku.
***
"Nin, Mas mau ngomong serius."
Siang itu Mas Reno duduk di sofa dengan map plastik bening di pangkuan. Rambutnya disisir rapi. Kemejanya dimasukkan ke celana. Dia terlihat seperti orang yang hendak melamar kerja.
"Mas sadar Mas banyak salah. Mas mau kita mulai dari awal. Biar adem lagi, Mas sudah siapin ini."
Dia mengeluarkan dua lembar kertas yang distaples. Judulnya dicetak tebal: SURAT KESEPAKATAN DAMAI RUMAH TANGGA. Di bawahnya ada meterai sepuluh ribu dan dua kolom tanda tangan. Kertasnya masih hangat. Pasti baru dicetak di rental komputer dekat pasar.
"Kamu tinggal tanda tangan, Sayang. Ini bukti kita sama-sama mau berubah."
Aku mengambil kertas itu dan membacanya. Pelan. Dari atas sampai bawah. Kata demi kata, koma demi koma, seperti aku membaca kontrak pemasok kain.
Pasal satu, kedua belah pihak sepakat memperbaiki rumah tangga. Pasal dua, pihak kedua berjanji menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Pasal tiga, dengan ditandatanganinya surat ini, seluruh perjanjian yang pernah dibuat sebelumnya oleh kedua belah pihak dinyatakan tidak berlaku lagi.
Aku tertawa. Tidak bisa ditahan. Tawaku keluar begitu saja, sampai Raja yang tertidur di ayunan menggeliat kaget.
"Kok ketawa?"
"Pasal tiga, Mas."
Wajah Mas Reno menegang. "Itu cuma formalitas, Sayang."
"Dulu aku juga bilang begitu soal satu pasal."
Aku mengembalikan kertas itu ke pangkuannya. Mas Reno memandanginya, lalu memandangiku. Senyumnya luntur. Pelan-pelan, seperti cat murah kena hujan.
"Jadi benar," desisnya. "Kamu yang ambil map biru itu."
"Mapku, Mas. Perjanjianku. Tanda tanganku juga ada di sana."
"Itu bisa kamu pakai buat apa?" Suaranya naik. "Semua atas namaku, Nin! Rumah ini atas namaku! Mobil atas namaku! Tanah juga atas namaku!"
"Baca pasal empat."
Mas Reno terdiam. Keningnya berkerut, matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Dia sedang mencoba mengingat. Aku tahu dia tidak akan berhasil.
"Pasal empat apa?"
"Kamu gak ingat?"
"Dulu Mama bilang teken aja. Isinya semua harta atas nama Reno, sudah, gitu doang."
"Itulah masalahmu dari dulu, Mas. Kamu gak pernah baca apa yang kamu tanda tangani."
"Mana? Mas mau baca sekarang."
"Nanti. Di depan pengacaraku."
Kata terakhir itu membuat wajahnya berubah warna. Dari merah ke putih. Mas Reno berdiri, membuka mulut, menutupnya lagi, lalu meremas surat damainya sampai kusut.
Pintu depan terbuka. Kafka masuk dengan tas sekolah tersampir di satu bahu. Dia melihat kertas kusut di tangan Mas Reno, memungutnya saat Mas Reno melemparnya ke lantai, lalu membacanya sekilas.
"Bang. Meterainya kebalik."
Mas Reno menyambar kertas itu dan masuk ke kamar. Pintu dibanting. Raja menangis. Kafka meringis.
"Sori, Mbak. Refleks."
Dia duduk di sebelahku, lalu menyodorkan ponselnya. Di layar ada foto surat damai itu, utuh, sebelum diremas. Lengkap dengan meterai yang terbalik.
"Kapan kamu foto?"
"Barusan, pas dia lempar. Kafka kan partner, Mbak. Pasal tiga. Semua dilaporkan."
Aku mengirim foto itu ke Bu Sekar. Balasannya datang beberapa menit kemudian.
[Bagus Ibu tidak menandatangani. Simpan foto ini. Jangan tanda tangani apa pun dari pihak suami tanpa saya baca dulu.]
***
Sore harinya, Bu Mirna datang. Dia membawa amplop cokelat dan sepiring pisang goreng. Begitu masuk, matanya langsung tertumbuk pada gelas selai di meja makan.
"Lho. Ini kan bugenvil saya."
Aku menahan senyum. Mas Reno, yang kebetulan keluar kamar mengambil minum, langsung berbalik masuk lagi.
"Maaf, Bu Mirna. Nanti saya ganti bibitnya."
"Gak apa-apa, Bu Nina. Bunga mah tumbuh lagi." Bu Mirna merendahkan suara, lalu menyelipkan amplop cokelat itu ke tanganku. "Ini yang diminta Bu Sekar. Sudah saya tulis semua. Dari Bu Nina keluar rumah sambil pegangan pagar, sampai kita di rumah sakit."
Aku memeluknya. Tetangga ini pernah kutolong ketika anaknya butuh biaya sekolah. Dia membalas pertolongan itu berkali-kali lipat di hari terburuk dalam hidupku. Sekarang dia membalasnya sekali lagi.
"Makasih, Bu."
"Saya yang makasih. Dulu Bu Nina bantu saya banyak."
Amplop itu kusimpan di brankas kecil di ruang kerja, bersama sertifikat-sertifikat atas nama Mas Reno. Kertas-kertas yang dua tahun ini kupegang tanpa kugunakan.
***
Malamnya, aku terbangun karena Raja minta menyusu. Lampu teras masih menyala. Lewat celah gorden jendela kamar, aku melihat Mas Reno duduk di kursi teras dengan ponsel menempel di telinga. Suaranya pelan, tapi malam begitu sepi.
"Iya, Sis. Iya, gak apa-apa. Lagi banyak urusan aja di rumah."
Dia tertawa kecil. Tawa yang tidak pernah lagi dia berikan padaku sejak entah kapan.
"Nanti Mas kabari, ya. Mama sudah atur semuanya."
Aku menutup gorden pelan-pelan. Raja menyusu dengan tenang di pelukanku, tidak tahu apa-apa. Tanganku dingin, tapi dadaku justru panas.
Aku teringat pagi itu di belakang rumah, ketika aku bersembunyi di balik tembok. Mas Reno bilang pada mamanya bahwa dia masih cinta padaku. Waktu itu, sedikit sekali, hatiku sempat goyah. Sekarang aku tahu cinta macam apa yang dia maksud. Cinta pada surat-surat yang masih kupegang.
Siska.
Nama itu sekarang punya suara. Dan suaranya keluar dari mulut suamiku.