"Delapan puluh enam juta empat ratus, Bu. Dalam dua tahun."
Mbak Tari meletakkan map tebal di mejaku. Kertas-kertas di dalamnya penuh tempelan kecil warna kuning. Senin pagi itu butik belum buka, dan ruang kantor kecil di belakang masih berbau kopi.
Mbak Tari adalah orang yang menggantikan posisi Mas Reno di bagian keuangan. Laras yang merekomendasikannya. Dia jarang tersenyum, tapi angka-angka seperti takut padanya.
"Rinciannya?"
"Ada tiga, Bu." Dia membuka lembar pertama. "Nota pemasok atas nama CV Kain Mulia, total tiga puluh satu juta. Saya cek alamatnya, ternyata tanah kosong. Nomor teleponnya tidak aktif."
Aku diam.
"Kedua, tarik tunai dengan keterangan biaya bahan mendadak. Dua puluh dua juta sembilan ratus. Tanpa kuitansi sama sekali."
"Ketiga?"
Mbak Tari membalik lembar berikutnya. Kali ini dia sempat ragu sebelum bicara. "Transfer dengan keterangan upah jahit borongan. Delapan belas kali. Total tiga puluh dua juta lima ratus. Rekening tujuannya atas nama Hartini."
Hartini.
Nama itu jarang sekali kudengar. Di rumah, semua orang memanggilnya Mama. Di butik, orang-orang menyebutnya ibunya Pak Reno. Tapi di buku tabungan, mertuaku tetaplah Hartini.
"Ibu mertua Ibu, kan?" tanya Mbak Tari hati-hati.
"Mertuaku gak bisa memasukkan benang ke jarum, Mbak."
Mbak Tari hampir tersenyum. Hampir.
Aku membalik lembar-lembar itu pelan. Selama ini aku memang selalu memeriksa laporan Mas Reno. Kadang ada yang terselip, satu-dua angka yang tidak masuk akal, dan aku menegurnya. Dia selalu punya alasan. Salah ketik, nota ketinggalan, pemasok baru. Aku percaya, karena aku ingin percaya.
Ternyata yang terselip bukan satu-dua angka. Yang terselip adalah rumah tangga kami.
"Satu lagi, Bu." Mbak Tari menyodorkan lembar terakhir. "Gaji Pak Reno selalu masuk tanggal dua puluh lima. Saya cocokkan dengan rekening rumah tangga yang Ibu berikan. Tidak sekali pun ada transfer dari rekening Pak Reno ke rekening itu."
Aku tahu. Aku sudah tahu sejak lama. Tapi melihatnya hitam di atas putih, dengan tanggal dan jumlah yang rapi, rasanya tetap seperti ditampar.
"Buatkan dua salinan, Mbak. Tanda tangani setiap halaman."
"Baik, Bu."
***
Hani datang pukul delapan kurang lima. Dia membawa tas kain kecil. Isinya ternyata gunting kain tua yang gagangnya dililit lakban hitam. Gunting dari zaman garasi.
"Masih disimpan?"
"Masih. Cuma ini yang gak dia buang."
Lantai dua butik masih setengah jadi. Catnya baru kering, bau semennya masih terasa, dan baru ada tiga mesin jahit yang datang minggu lalu. Hani berdiri di tengah ruangan itu lama sekali. Dia meraba meja potong yang masih terbungkus plastik.
"Gede banget, Nin."
"Belum seberapa. Nanti kamu yang atur mau ditaruh di mana-mana."
Dia duduk di depan salah satu mesin, memasukkan benang, lalu menjahit selembar kain perca. Awalnya pelan. Jahitannya sedikit bergelombang. Lima menit kemudian, jahitannya sudah lurus seperti penggaris.
"Tuh, kan," kataku. "Tangan penjahit gak lupa."
Hani tidak menjawab. Dia menunduk ke mesinnya, dan aku pura-pura tidak melihat air mata yang jatuh ke kain perca.
***
Sore harinya Laras mengantarku ke kantor seorang pengacara di dekat pengadilan. Namanya Bu Sekar. Umurnya mungkin lima puluhan, berkacamata, rambutnya disanggul sederhana. Suaranya pelan, tapi setiap kalimatnya seperti sudah ditimbang.
Aku membawa semua yang kupunya. Map biru dari kotak sepatu. Salinan audit Mbak Tari. Mutasi rekening rumah tangga. Foto-foto kiriman sahabat lamaku di hari aku melahirkan: Mas Reno, mertua, dan Rini tertawa di tempat wisata mahal, lalu makan di restoran mewah. Semua dengan tanggal yang sama dengan surat keterangan lahir Raja.
Bu Sekar memandangi foto restoran itu cukup lama. "Ini hari yang sama dengan putra Ibu lahir?"
"Jam yang hampir sama, Bu. Raja lahir jam dua siang. Foto restoran itu diunggah ke status jam dua lewat sepuluh."
Bu Sekar tidak berkomentar. Dia hanya menulis sesuatu di bukunya, lalu menggarisbawahinya dua kali.
Setelah itu dia membaca surat perjanjian itu dua kali. Di pasal empat, dia berhenti lama.
"Pasal ini jelas, Bu Nina," katanya akhirnya. "Ada tiga hal. Pihak kedua tidak menafkahi. Pihak kedua menelantarkan istri atau anak. Pihak kedua menyalahgunakan keuangan usaha milik pihak pertama. Satu saja terbukti, seluruh harta yang dibeli dengan uang Ibu wajib kembali atas nama Ibu. Dan beliau bersedia menandatangani dokumennya."
"Kalau beliau tidak bersedia?"
"Itu sebabnya pasal ini menulis kata bersedia. Kalau beliau ingkar, kita minta pengadilan yang memaksa." Bu Sekar melepas kacamatanya. "Ibu punya bukti berapa dari tiga hal tadi?"
"Tiga."
Bu Sekar tersenyum untuk pertama kalinya. "Kalau begitu kita tidak perlu mencuri tanda tangan siapa pun, Bu. Kita minta baik-baik. Kalau ditolak, kita gugat. Semua bukti ini akan dibacakan di depan hakim."
Ada yang hangat di dadaku mendengar kalimat itu. Berhari-hari aku memikirkan bagaimana caranya mendapatkan tanda tangan Mas Reno. Ternyata jawabannya sederhana. Aku tidak perlu menipunya. Cukup membuatnya tidak punya pilihan lain.
"Saksi untuk hari persalinan, ada?"
"Tetangga depan rumah. Bu Mirna. Dia yang mengantar saya ke rumah sakit."
"Bagus. Nanti saya minta keterangan tertulis dari beliau."
Bu Sekar membuat salinan perjanjian itu, mencocokkan setiap halaman dengan aslinya, lalu mengembalikan map biru ke tanganku.
"Simpan aslinya di tempat yang hanya Ibu yang tahu."
"Sudah ada tempatnya, Bu."
Sebelum aku berdiri, Bu Sekar bertanya sesuatu yang membuatku terdiam. "Ibu masih ingin mempertahankan pernikahan ini?"
"Belum saya putuskan."
"Pasal empat tidak mensyaratkan cerai, Bu. Tapi biasanya, laki-laki yang kehilangan rumah atas namanya tidak lagi bersikap manis."
***
Bau gosong menyambutku begitu pintu rumah terbuka.
Mas Reno berdiri di dapur memakai celemekku. Celemek bergambar stroberi itu kekecilan di badannya. Di wajan ada nasi goreng yang warnanya lebih mirip tanah.
"Sayang, sudah pulang? Mas masak buat kamu."
Aku menatapnya. Lalu menatap wajan. Lalu menatapnya lagi.
Dua tahun menikah, dia bahkan tidak tahu letak bajunya sendiri di lemari. Sekarang dia memasak.
"Kenapa?"
"Kenapa apa? Mas kan suami kamu. Masa gak boleh masakin istri?" Dia menyendok nasi goreng ke piring dan menyodorkannya padaku. "Cobain, deh."
Aku menyuap sedikit. Asin. Pahit di ujung lidah.
"Gimana?"
"Asin."
"Mas lagi belajar." Dia tersenyum lebar. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta. "Mulai sekarang Mas mau berubah, Nin. Mas mau jadi suami yang baik buat kamu dan Raja."
Aku meletakkan sendok, lalu mencuci tangan di wastafel tanpa menjawab.
Laki-laki ini tidak berubah karena sadar. Dia berubah karena kehilangan sebuah map.