"Satu pikap, Ma. Satu kali angkut. Lebihnya bayar sendiri."
"Mana cukup satu pikap? Barang Mama banyak!"
"Makanya dipilih."
Pagi itu halaman rumah besar penuh kardus. Mertuaku berdiri di tengah-tengahnya seperti jenderal yang kalah perang, menunjuk-nunjuk sopir pikap yang kubayar. Sofa besar harus masuk. Lemari jati harus masuk. Meja makan dengan delapan kursi harus masuk. Padahal rumah peninggalan Papa Mas Reno cuma punya dua kamar dan satu ruang tamu seukuran garasi.
Aku duduk di kursi teras dengan segelas air. Raja kembali kutitipkan pada Mama. Kata Mama, cucunya boleh dititipkan setiap hari, asal aku tidak lupa menjemput. Baru tujuh hari sesudah melahirkan, pinggangku masih nyeri kalau berdiri lama. Jadi aku memilih jadi penonton.
"Nina, bantuin dong angkat kardus panci!"
"Saya baru melahirkan, Ma."
"Melahirkan apa? Sudah seminggu!"
"Iya. Baru seminggu."
Mama Mas Reno mendengkus, lalu berteriak memanggil Rini. Rini keluar sambil menyeret koper. Matanya merah, entah karena menangis atau karena debu.
"Kamarku di rumah lama cuma muat kasur, Ma! Lemari bajuku taruh mana?"
"Taruh di teras!"
"Kalau hujan?"
"Ya ditutup terpal!"
Laras berdiri di dekat pintu dengan map di tangan. Dia mencocokkan setiap barang yang keluar dengan daftar yang kubuat semalam. Ketika mertuaku menyuruh sopir mencopot AC di kamarnya, Laras maju selangkah.
"Maaf, Bu. AC itu yang pasang Bu Nina. Notanya ada di sini."
"Saya yang pakai dua tahun!"
"Betul, Bu. Pakainya gratis."
Aku tersedak air minum. Laras ini, kalau bicara, datar sekali. Tapi tajamnya bukan main.
Sementara itu, Mas Reno sama sekali tidak membantu mengangkat apa pun. Dia sibuk membuka kardus yang sudah dilakban. Satu per satu. Kardus baju, kardus buku, kardus perabot dapur. Dia mengeluarkan isinya, mengaduk-aduk, lalu memasukkannya lagi dengan wajah makin pucat.
"Rin, kamu lihat map biru gak?"
"Map apa, sih, Bang? Dari kemarin nanya terus."
"Map biru! Yang di lemari Mama!"
Mertuaku langsung menoleh. Suaranya turun drastis, tapi telingaku tajam. "Map yang mana? Yang perjanjian itu?"
"Iya, Ma!"
"Ya ampun, Reno! Kamu pindahin ke mana?"
"Di lemari Mama! Mama sendiri yang suruh simpan di situ, biar aman!"
"Perjanjian apa, Ma?" tanya Rini polos.
"Diam kamu."
Keduanya serempak melirik ke arahku. Aku sedang mengipas leher dengan majalah, memandang langit. Cerah sekali hari ini. Cocok untuk pindahan.
***
Kafka datang selepas pulang sekolah, masih memakai seragam putih abu-abu. Dia membawa spidol hitam besar dan langsung menawarkan diri menulis label kardus. Mertuaku setuju karena tidak ada orang lain yang mau. Kesalahan besar.
Satu jam kemudian, kardus-kardus di bak pikap sudah berlabel rapi. PANCI MAMA, JANGAN DIBANTING. BUKU RINI, MASIH BARU, JARANG DIBUKA. SEPATU RINI, EMPAT BELAS PASANG, KAKINYA CUMA DUA. BAJU PESTA MAMA, UNTUK PESTA YANG GAK DIUNDANG.
"Kafka!"
"Kenapa, Bu? Biar gak ketuker isinya."
Aku harus pura-pura batuk supaya tawaku tidak meledak. Kafka melirikku, lalu mengangkat spidol seperti hendak bertanya, masih aman, Mbak? Aku mengangguk sekali. Semua orang masih utuh. Pasal empat aman.
Pikap berangkat dua kali, bukan sekali. Kali kedua, sopirnya minta tambahan. Mertuaku menatap Mas Reno. Mas Reno menatapku.
"Bayar sendiri," kataku.
Akhirnya Mas Reno membuka dompet dan mengeluarkan lembaran terakhirnya. Aku tahu itu lembaran terakhir, karena setelah itu dia memeriksa dompetnya dua kali, seakan berharap uang bisa tumbuh di sela kartu.
Rumah peninggalan Papa Mas Reno ada di gang sempit yang tidak bisa dimasuki mobil. Pikap berhenti di mulut gang, dan semua barang harus digotong sejauh lima puluh meter. Aku menonton dari dalam mobil dengan pendingin menyala. Mas Reno menggotong kardus sambil megap-megap. Seumur pernikahan kami, belum pernah aku melihatnya berkeringat sebanyak itu.
Sofa besar tidak muat melewati pintu. Mereka mencoba dari tiga sisi. Akhirnya sofa itu ditaruh di teras, ditutup terpal biru, bersebelahan dengan lemari baju Rini.
"Sofa kulit, ditaruh di teras," gumam mertuaku, nyaris menangis.
"Kan bisa duduk-duduk sore, Ma," kata Kafka. "Kayak orang kaya."
Dia masuk ke mobilku sambil mengibas-ngibaskan seragam. Wajahnya puas sekali, tapi begitu pintu tertutup, senyumnya pelan-pelan hilang. Dia memandangi gang sempit itu, lalu memandangiku.
"Mbak. Map biru yang dicari si Reno itu..."
"Bukan urusanmu."
"Kafka tahu itu map apa."
"Makanya gak usah ditanya."
Kafka diam. Jarinya mengusap pelipis kirinya tanpa sadar, tepat di tempat bekas jahitan tipis yang sudah lama memudar. Kebiasaan lama setiap kali dia gelisah.
"Mbak bakal pakai, kan?"
Aku menyalakan mesin mobil. "Pakai."
***
Pukul empat sore, aku menyerahkan kunci rumah besar kepada pembeli. Bapak itu memeriksa setiap ruangan bersama Laras, lalu menjabat tanganku.
"Bersih, Bu. Terima kasih."
"Sama-sama, Pak. Semoga betah."
Aku memandangi rumah itu sekali lagi dari pagar. Dulu kubeli dengan tabungan pertamaku dari butik. Waktu itu aku membayangkan rumah ini kelak menjadi rumah keluargaku. Ternyata dua tahun ini malah menjadi tempat keluarga orang lain bersantai dengan uangku.
Sudahlah. Sekarang rumah ini menjadi uang. Uang yang akan membangun bengkel jahit Hani di lantai dua butik. Rasanya jauh lebih tepat.
***
Malamnya, Mas Reno pulang ke rumah kami pukul sembilan. Kausnya basah, rambutnya kusut, bau debu dan keringat. Dia langsung membuka tudung saji di meja makan. Kosong.
"Gak ada makanan, Nin?"
"Kerupuk di toples."
"Ya ampun. Mas capek seharian angkat barang."
"Barang Mama Mas, kan?"
Dia tidak menjawab. Dia membuka toples, mengambil dua kerupuk, lalu duduk di kursi makan sambil mengunyah pelan. Rumah terasa lengang sekarang. Kamar tamu kosong, kamar mandi akhirnya bebas antre. Yang terdengar hanya jangkrik dan dengkur halus Raja dari kamar.
Mas Reno memandangiku lama. Aku sedang melipat popok di sofa.
"Nin."
"Hm."
"Kamu yang ambil map biru di lemari Mama?"
Aku mengangkat wajah. Menatap matanya dalam-dalam, persis seperti hari dia memaksaku bicara soal uang koin.
"Map apa, Mas?"
Mas Reno mencari sesuatu di wajahku. Kebohongan, mungkin. Atau ketakutan. Dia tidak menemukan keduanya.
"Bukan apa-apa."
Dia berdiri dan masuk ke kamar mandi. Aku melanjutkan melipat popok. Satu, dua, tiga. Kurapikan di keranjang, lalu kubawa ke kamar dan kususun di lemari, persis di depan sebuah kotak sepatu.
Dua tahun menikah, Mas Reno tidak pernah bertanya isi lemariku. Sekarang dia sibuk menanyakan isi lemari mamanya.