"Kok Mbak yang pegang kuncinya, sih? Ini kan rumah Mama."
"Rumahku, Rin. Sudah dua kali kubilang."
Pukul tujuh pagi, aku membuka gembok pagar rumah besar. Papan bertuliskan RUMAH INI SUDAH TERJUAL masih terikat rapi di sana, dan Bu Darmi sudah berdiri di teras sebelah dengan sapu di tangan. Pura-pura menyapu. Padahal dari tadi matanya tidak lepas dari kami.
Laras datang lima menit kemudian. Dia orang kepercayaanku sejak butik masih kecil. Hari ini tugasnya sederhana: memegang kunci, menemani keluarga Mas Reno berkemas, dan memastikan pemanas air, lampu taman, juga semua yang kupasang sendiri di rumah ini tidak ikut terbawa.
"Saya jaga di sini sampai sore, Bu."
"Makasih, Ras."
Mas Reno langsung masuk tanpa menoleh. Dia melewati dapur dan ruang tengah begitu saja, lalu berjalan lurus ke kamar mamanya. Aku tersenyum, lalu kembali ke mobil.
Silakan cari, Mas.
***
Raja kutitipkan di rumah Mama dan Papa. Mama menyambut cucunya seperti menyambut emas batangan. Soal Kafka, Mama dan Papa sudah kukabari sejak malam dia pulang, jadi orang suruhan Papa sudah berhenti mencarinya.
"Reno gak ikut antar?"
"Sibuk, Ma."
"Sibuk apa? Kemarin Papa telepon gak diangkat."
"Cari kerja."
Mama mengernyit, tapi aku sudah mencium tangannya dan pamit. Belum waktunya mereka tahu. Satu per satu dulu.
Rumah Hani ada di perumahan kecil di pinggir kota. Catnya masih sama seperti terakhir kali aku datang, hijau pucat yang mulai mengelupas di sudut. Hani membuka pintu dengan mata sembab dan senyum yang dipaksakan.
"Kamu datang beneran."
"Aku kan janji."
"Kemarin juga janji."
Aku meringis. "Kemarin aku sibuk jual rumah."
Hani tertawa kecil. Tawa pertamanya, mungkin, dalam beberapa hari ini. Dia membuatkan teh, lalu kami duduk di ruang tamu yang rapi sekali. Terlalu rapi, seperti rumah yang penghuninya takut membuat kesalahan. Di sudut ruangan, sebuah mesin jahit tua tertutup kain batik. Debunya tebal.
Mesin jahit itu yang dulu menjahit gaun-gaun pertama butikku. Waktu itu butik masih berupa satu meja potong di garasi rumah Papa. Aku menggambar dan menjual, Hani menjahit. Lalu Hani menikah, dan suaminya bilang istri tidak perlu bekerja. Mesin itu ditutup kain sejak hari pertama dia pindah ke rumah ini.
"Semalam dia teriak lagi?"
Hani mengangguk. "Cuma teriak."
"Cuma?"
"Iya, Nin. Cuma teriak. Aku tahu kamu mau bilang apa."
Aku menaruh cangkir. "Han, soal rencana kita. Lupakan permintaanku kemarin."
Hani menatapku bingung.
Rencana itu sudah kami susun berbulan-bulan. Aku akan membuka bengkel jahit di lantai dua butik, dan Hani yang memimpinnya. Gaji tetap, rekening atas namanya sendiri. Kalau dia sudah bisa berdiri di atas kakinya, baru dia memutuskan mau bertahan atau pergi. Masalahnya, lantai dua belum selesai dirapikan, dan urusanku dengan Mas Reno sedang di tengah jalan. Karena itulah malam itu aku memintanya menunda.
Aku memikirkan permintaan itu sepanjang perjalanan tadi. Sungguh permintaan yang egois. Masa iya aku menyuruh orang yang setiap malam dibentak untuk menunggu jadwalku rapi?
"Lantai dua belum rapi. Gak apa-apa. Mesin bisa ditaruh di mana saja. Dulu kita mulai di garasi, kan?" Aku mencondongkan badan. "Senin kamu mulai kerja."
"Senin ini?"
"Iya."
"Dia gak akan izinkan, Nin."
"Kamu kerja bukan buat izinnya. Kamu kerja buat dirimu."
Hani memandangi mesin jahit di sudut. Lama sekali. Tangannya meremas ujung kerudung.
"Aku udah lupa caranya, kali."
"Bohong. Tangan penjahit gak lupa. Paling kaku sedikit."
Dia tertawa lagi, kali ini sambil mengusap mata. "Kamu masih nyebelin."
"Makasih."
Sebelum aku pamit, Hani menahan lenganku. "Nin. Kamu masih simpan perjanjian itu?"
Aku diam sebentar. Hani satu-satunya orang di luar keluarga yang tahu cerita di balik perjanjian itu. Dia bahkan ikut menandatanganinya sebagai saksi.
"Aslinya baru balik ke tanganku dua hari lalu."
"Pasal empat masih ada?"
"Masih. Pasal yang dulu kamu paksa aku tambahkan."
Dulu aku menganggap pasal itu formalitas. Hani yang berkeras, mengetik ulang draf itu di laptopnya sambil mengomel bahwa aku bodoh karena jatuh cinta. Aku tertawa saat itu. Sekarang, pasal itulah satu-satunya jalan pulang untuk hartaku.
"Bagus," kata Hani. "Pakai."
"Kalau nanti perlu saksi?"
"Aku yang dulu tanda tangan di bawahnya, kan? Aku masih ingat semuanya."
***
Ponselku berdering saat aku dalam perjalanan menjemput Raja. Laras.
"Bu, ada tiga kabar."
"Satu-satu."
"Pertama, Pak Reno bongkar lemari ibunya. Semua baju dikeluarkan, sampai kertas alas laci diangkat. Kelihatannya cari sesuatu. Tadi dia tanya ke saya, ada orang lain yang masuk rumah ini atau tidak."
"Kamu jawab apa?"
"Saya jawab, yang punya rumah, Pak."
Aku tertawa sampai harus menepi sebentar.
"Kedua, laporan soal Rini sudah diterima guru BK kemarin siang. Mereka periksa rekaman kelas dulu, setelah itu memanggil walinya."
"Ketiga?"
"Perempuan di foto itu. Namanya Siska. Anak Bu Wiwik, teman arisan ibu mertua Ibu. Punya toko kue di dekat pasar. Saya masih cari tahu kenapa dia makan malam bersama mereka."
Siska. Aku mengulang nama itu dalam hati, merasakan rasanya di lidah. Tidak manis.
"Cari terus, Ras."
Di rumah Mama, Raja sedang digendong Papa sambil diajak mengobrol soal harga cabai. Papa memang begitu. Semua orang diajaknya bicara, termasuk bayi enam hari.
"Cucu Papa ini pendiam," katanya bangga. "Gak kayak mamanya waktu kecil."
"Nina dulu cerewet, Pa?"
"Cerewet dan keras kepala. Sampai sekarang."
Aku tertawa, lalu mengambil Raja dari gendongannya. Papa menatapku agak lama, seperti hendak menanyakan sesuatu, kemudian mengurungkannya. Aku pura-pura tidak sadar.
***
"Misi selanjutnya apa, Mbak? Kafka punya ide. Sabun cair di anak tangga, terus—"
Aku menaruh selembar kertas di meja belajar Kafka. Malam itu dia baru pulang dari les, masih memakai seragam. Matanya membaca judul di bagian atas kertas, lalu melebar.
"Surat Perjanjian Partner? Mbak serius?"
"Kamu yang bilang mau tanda tangan."
Dia membaca pasal demi pasal sambil bergumam. Pasal satu, Pihak Kedua dilarang bolos. Pasal dua, uang jajan sesuai jatah, minta tambahan wajib dengan alasan masuk akal. Pasal tiga, semua ide wajib dilaporkan kepada Pihak Pertama sebelum dijalankan. Pasal empat, dilarang ada yang luka, jatuh, atau masuk rumah sakit.
"Lah. Terus lantai licin kemarin?"
"Itu yang terakhir. Kalau tulang Mama Mas Reno patah, yang bayar rumah sakit siapa? Aku."
Kafka manyun. Lalu dia membaca pasal lima, dan wajahnya langsung cerah. Pasal lima, apabila Pihak Kedua lulus ujian dengan nilai bagus, Pihak Pertama menanggung biaya kuliah.
"Pasal lima Kafka suka."
Dia menandatangani di atas meterai dengan gaya seperti artis. Aku menandatangani di sebelahnya.
"Mbak sekarang hobi bikin perjanjian, ya?"
"Perjanjian itu gunanya biar orang gak bisa pura-pura lupa."
Kafka terdiam sebentar. Dia tahu perjanjian mana yang sedang kupikirkan.