"Pokoknya Mbak pasang papannya di pagar. Yang besar. Biar kelihatan dari ujung gang."
Aku memijat pelipis. Kafka masih saja mengoceh di telepon, padahal pembeli rumah baru saja pamit.
"Buat apa?"
"Biar tetangga yang kasih tahu, Mbak. Mama si Reno itu lebih percaya omongan tetangga daripada omongan Mbak. Kafka jamin, belum sampai Isya HP-nya udah bunyi."
Ah, anak ini. Kalau soal begini, otaknya encer sekali. Coba dipakai buat belajar.
"Raja gimana?"
"Tidur. Tadi pup dua kali. Kafka ganti sendiri, Mbak. Sambil tahan napas."
Aku tertawa pelan, lalu menutup telepon. Agen yang membantu penjualan ternyata memang membawa papan. Tulisan merah besar di atas seng putih: RUMAH INI SUDAH TERJUAL. Aku memintanya mengikat papan itu di pagar depan, menghadap jalan. Agen itu tidak banyak bertanya. Dia dibayar untuk menjual rumah, bukan untuk ikut campur urusan keluarga orang.
Sebelum pulang, aku mengunci pintu rumah besar dengan kunci-kunci yang semalam diambil Kafka dari kamar mertuaku. Satu kunci untuk pintu depan, satu untuk pintu dapur, satu lagi untuk gembok pagar. Semuanya kumasukkan ke dalam tas.
Rumah ini milikku. Sejak dulu. Hanya saja, dua tahun ini aku lupa memperlakukannya begitu.
***
"Ini mi siapa yang masak? Kok airnya kebanyakan?"
"Rini, Ma."
"Ya ampun. Mi aja gak becus."
Aku duduk di ujung meja makan, menikmati nasi padang yang kubeli di jalan. Rendang, sayur nangka, sambal hijau. Satu bungkus untukku, satu bungkus untuk Kafka. Keluarga Mas Reno makan mi instan yang dibeli dengan sisa uang di dompet Mas Reno. Kalau mereka mau rendang, silakan beli sendiri.
Mas Reno melirik bungkusanku dengan wajah memelas. Aku pura-pura tidak melihat.
"Nin, itu rendangnya masih ada?"
"Habis."
"Masih ada sepotong itu."
"Itu punya Kafka."
Kafka langsung menarik bungkusnya mendekat. "Punya Kafka, Bang. Beli sendiri sana."
Mas Reno mendengkus. Dia kembali mengaduk mi yang sudah mengembang seperti bantal.
Ponsel mertuaku berdering di samping mangkuk. Kafka menendang kakiku pelan di bawah meja. Aku menunduk, menyembunyikan senyum.
"Halo, Bu Darmi? Iya, iya, ini saya." Mama Mas Reno mengangkat telepon dengan suara manis. Bu Darmi itu tetangga sebelah rumah besar. Orangnya baik, tapi mulutnya lebih cepat dari ojek. "Apa? Tulisan apa? Terjual? Rumah siapa yang terjual, Bu? Rumah saya? Ah, Bu Darmi salah lihat kali."
Hening sebentar. Wajah mertuaku perlahan berubah. Dari manis, ke bingung, lalu ke pucat.
"Fotoin, Bu. Kirim ke saya sekarang."
Ponselnya berdenting. Mama Mas Reno menatap layar lama sekali. Tangannya gemetar.
"Reno! Ada orang pasang tulisan terjual di pagar rumah Mama!"
Mas Reno tersedak mi. Rini sampai menjatuhkan sendok.
"Hah? Kok bisa, Ma?"
"Mana Mama tahu! Ini fotonya! Lihat!"
Ketiganya berebut melihat layar. Aku menyuap nasi terakhir, mengunyah pelan, lalu minum.
"Bukan orang," kataku. "Aku."
Tiga kepala menoleh bersamaan. Lucu juga. Seperti boneka di dasbor mobil.
"Kamu?" Suara mertuaku naik satu oktaf. "Kamu jual rumah Mama?"
"Rumahku, Ma."
Aku membuka galeri ponsel dan memperlihatkan foto sertifikat. Nama di sana jelas. Namaku. Lengkap dengan tanggal pembelian, jauh sebelum aku mengenal anak kesayangannya.
"Rumah itu kubeli sebelum menikah. Dulu kosong, lalu Mama bilang enak tinggal di rumah besar. Ya sudah, aku izinkan. Sekarang izinnya habis."
"Nin." Mas Reno akhirnya bersuara. "Kamu jual rumah tanpa bilang aku?"
"Sertifikatnya atas namaku. Gak perlu tanda tangan kamu."
Kalimat itu membuat Mas Reno terdiam. Matanya bergerak gelisah. Mungkin dia baru sadar betapa besarnya arti sebuah nama di atas kertas. Dia tahu persis, ada banyak kertas lain di rumah ini yang memakai namanya.
"Terus barang-barang Mama gimana?" Mertuaku memukul meja. "Lemari, kasur, kulkas, semua di sana!"
"Pembeli minta rumahnya kosong lusa sore. Besok Mama kemas. Lusa diangkut."
"Lusa? Diangkut ke mana?"
"Rumah peninggalan Papa Mas Reno. Masih berdiri, kan?"
"Rumah itu sempit, Mbak!" Rini ikut menjerit. "Kamar mandinya cuma satu!"
Kafka menyeruput es tehnya dengan santai. "Di sini kamar mandinya dua, tapi kalian tetap rebutan tuh."
Rini melotot. Mertuaku melotot. Aku hampir tersedak menahan tawa. Malam teh itu sepertinya masih membekas di perut mereka.
"Ya sudah!" Mama Mas Reno berdiri, dagunya terangkat. "Kalau begitu Mama tinggal di sini saja. Di rumah anak Mama sendiri."
"Koper Mama ikut barangnya, Ma."
"Kamu ngusir mertua?"
"Mama sendiri yang bilang mau jadi orang kaya sebentar." Aku membereskan bungkus nasi. "Sebentarnya sudah habis."
Mertuaku menghentakkan kaki ke kamar. Beberapa detik kemudian terdengar laci dibuka dan ditutup dengan kasar.
"Kunci Mama mana? Tadi pagi masih di laci! Kunci rumah Mama hilang!"
Aku merogoh tas, lalu mengangkat serenceng kunci tinggi-tinggi. Bunyinya bergemerincing.
"Ini, Ma?"
Mama Mas Reno muncul di ambang pintu kamar. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Kafka pura-pura sibuk dengan ponselnya. Bahunya bergetar.
"Besok pagi aku bukakan. Mama kemas barang Mama sendiri. Aku baru melahirkan, gak bisa angkat-angkat."
Aku masuk ke kamar sebelum mereka sempat membalas. Mas Reno menyusul sampai ambang pintu.
"Nin, kita bicarain baik-baik, ya. Kasihan Mama. Umurnya sudah segitu."
"Dua tahun lalu umur Mama juga sudah segitu, Mas. Selama itu Mama tinggal gratis."
"Tapi kan—"
"Kalau kasihan, bayarin sewa rumah buat Mama. Pakai uangmu sendiri."
Mas Reno membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Uang sendiri. Dua kata itu sepertinya asing sekali di telinganya. Dia berbalik dan pergi tanpa menutup pintu.
Raja sudah bangun, menggeliat di tempat tidur bayinya. Aku menggendongnya, menciumi pipinya yang wangi minyak telon.
"Nenekmu marah-marah, Nak. Biarin, ya."
***
Hampir tengah malam, aku keluar mengambil air minum. Langkahku berhenti di dekat dapur. Ada suara berbisik di balik pintu.
"Ma, map biru di lemari Mama, aman, kan?"
"Aman lah. Siapa yang mau buka lemari Mama? Kuncinya juga..."
Suara mertuaku terhenti. Sepertinya dia baru ingat siapa yang sekarang memegang kunci rumah besar.
"Besok Reno yang kemas lemari Mama. Jangan ada yang sentuh lemari itu sebelum Reno datang."
Aku kembali ke kamar dengan gelas di tangan. Raja tidur pulas. Aku duduk di tepi kasur, memandangi lemari pakaianku sendiri. Di balik tumpukan popok Raja, ada sebuah kotak sepatu. Di dalamnya ada sebuah map biru.
Lemari Mama memang aman, Ma. Yang tidak aman, isinya.
Ponselku menyala. Ada tiga panggilan tak terjawab dari Hani sejak sore. Aku menepuk dahi. Ya ampun. Semalam aku berjanji akan ke rumahnya hari ini.
[Maaf, Han. Hari ini kacau. Besok pagi aku ke rumahmu. Pasti.]
Balasannya datang cepat sekali, seolah dia memang belum tidur.
[Jam delapan, Nin. Dia berangkat jam tujuh.]