~NOW~
Bayu dan Melody menerima tawaran dari sebuah penerbit untuk membuat buku bersama tentang kisah mereka. Judul sementara yang diajukan adalah Sembilan Tahun Menunggu. Keduanya langsung menolak judul.
'Kami tidak menunggu. Kami menikah dengan orang lain, membesarkan anak, dan membuat banyak keputusan,' kata Melody kepada editor.
Editor menawarkan pendekatan lebih etis: buku tentang ingatan, kesalahan komunikasi, dan keluarga lintas rumah. Uangnya besar. Namun proyek akan membutuhkan persetujuan Arkan, Jasmine, anak, serta banyak orang.
Bayu tertarik menata arsip. Melody khawatir cerita kembali menjadikan mereka pusat. Mereka meminta waktu dan mengadakan pertemuan terpisah dengan setiap pihak, bukan rapat keluarga yang menekan setuju.
Arkan menolak bagian pernikahannya dibahas rinci. Jasmine tidak ingin asal nama Lody diterbitkan. Levi bersedia kisah dua rumah disebut umum, tetapi film serta identitas Raka tidak digunakan. Lody menolak namanya muncul sama sekali.
Dengan batas tersebut, editor mengatakan daya jual berkurang. Bayu serta Melody menyadari buku yang diinginkan pasar justru bagian yang bukan milik mereka sendiri.
Mereka menolak kontrak. Sebagai gantinya, arsip disusun untuk keluarga dengan akses bertingkat. Surat Medan hanya dapat dibuka Melody serta Bayu selama hidup; setelah keduanya meninggal, surat dimusnahkan sesuai instruksi. Foto anak mengikuti pilihan masing-masing.
Levi membantu membuat katalog, tetapi tidak membaca isi privat. Lody menunjuk pengelola data independen. Raka mengurus hak karya Levi; Keira menjadi kontak Lody. Arkan dan Jasmine mengatur arsip mereka sendiri.
Melody meninjau jurnal lama. Ada bagian yang menuduh Arkan dingin tanpa mengakui dirinya menutup diri. Dia tidak mengubah jurnal, hanya menambahkan catatan tanggal sekarang bahwa pandangannya berubah. Arsip boleh menunjukkan bias masa lalu selama tidak dipasarkan sebagai kebenaran tunggal.
Bayu menemukan foto Jasmine saat hamil serta kelahiran Lody. Dia menawarkan mengembalikan salinan. Jasmine meminta semua file keluarga inti lama diserahkan kepadanya dan satu salinan aman bagi Lody. Bayu tetap boleh menyimpan foto dirinya bersama anak, bukan gambar privat Jasmine.
Proses tersebut menimbulkan duka. Menutup folder terasa seperti menghapus hidup. Konselor arsip menjelaskan seleksi bukan penyangkalan. Tidak semua data harus bertahan selamanya.
Mereka menghancurkan slip gaji lama, salinan identitas kedaluwarsa, dan pesan yang tidak lagi punya fungsi. Penghancuran dilakukan aman. Benda sentimental dibatasi dua kotak.
Satu kotak berisi foto kantor, tiket, dan cangkir. Kotak lain berisi album Sekarang, surat anak, serta rekaman Ibu Bayu. Benda Khawas diserahkan ke arsip keluarga sesuai kepemilikan.
Penerbit kembali menawarkan artikel pendek tanpa nama orang lain. Melody menulis esai tentang satu kalimat: menunggu bukan selalu cinta. Bayu menyumbang foto dua kursi kosong setelah memastikan lokasi publik. Artikel tidak menceritakan perceraian atau nama anak.
Honor disumbangkan sebagian ke layanan mediasi keluarga, sisanya dibagi sebagai kerja. Mereka tidak menganggap semua hasil dari kisah harus diberikan agar bersih.
Saat arsip selesai, Bayu bertanya apakah Melody ingin membaca surat Medan sekali lagi sebelum masa penghapusan kelak. Melody menolak.
'Aku tahu isinya. Aku nggak perlu menghidupkan rasa itu hari ini.'
Bayu menutup folder dan memperbarui kata sandi.
Keputusan memusnahkan surat setelah kematian mereka sempat ditentang Levi. Bukan karena ia ingin membaca, melainkan takut menyesal kehilangan bagian sejarah keluarga. Melody mengajaknya duduk tanpa membuka folder.
'Sejarahmu nggak kurang hanya karena kau nggak tahu semua kata yang pernah kami tulis,' katanya.
'Tapi kalau nanti aku bertanya sesuatu dan kalian sudah nggak ada?'
'Kau mungkin tetap punya pertanyaan. Arsip lengkap pun nggak bisa menghidupkan kami untuk menjawab.'
Levi meminta ringkasan fakta yang boleh diketahui anak: kapan Bayu pergi, kapan mereka bertemu lagi, dan keputusan apa yang memengaruhi keluarga. Mereka menulis kronologi dua halaman bersama Arkan dan Jasmine. Setiap orang boleh mengoreksi bagian dirinya. Dokumen itu menyimpan akibat tanpa membongkar isi intim.
Lody memilih tidak membaca kronologi sekarang, tetapi mengizinkan salinannya disimpan untuk dirinya. Pilihan itu dicatat tanpa batas waktu. Ia juga meminta foto masa kecilnya tidak digunakan dalam acara peringatan orang tua kelak tanpa persetujuan Keira. Bayu memasukkan instruksi tersebut ke surat wasiat karya.
Pengelola data mengadakan simulasi: bila Bayu meninggal lebih dahulu, siapa yang mengakses akun; bila Melody kehilangan kapasitas, siapa yang menentukan pemusnahan; bila perusahaan penyimpanan tutup, di mana salinan cadangan berada. Percakapan teknis terasa dingin, tetapi justru mencegah anak-anak kelak menebak kehendak di tengah duka.
Mereka juga menemukan satu kotak kaset tanpa label. Bayu ingin mendigitalkan semuanya. Melody mengusulkan mendengar beberapa detik terlebih dahulu. Salah satu kaset ternyata rekaman rapat lama yang memuat nama pekerja serta rincian gaji. Mereka menyerahkannya kepada arsip perusahaan dengan pembatasan akses. Kaset lain hanya berisi suara radio dan dengkur seseorang; kaset itu dibuang setelah mereka tertawa menebak pemilik dengkur.
Pada akhir proses, rak penyimpanan tampak lebih kosong. Melody berdiri di depannya dan merasakan lega yang hampir mirip bersalah.
'Aku dulu mengira kalau benda dibuang, cintanya ikut dibuang,' katanya.
'Aku dulu mengira kalau difoto, semuanya aman,' jawab Bayu.
'Dua-duanya ternyata malas bekerja.'
'Kenangan memang pegawai yang sulit diatur.'
Mereka menutup lemari. Kunci cadangan disegel sesuai daftar, bukan disembunyikan dalam tempat romantis. Ruang yang kosong diisi satu pot tanaman yang tidak punya sejarah apa pun. Ketika tanaman itu hampir mati dua minggu kemudian, Bayu menggantinya tanpa mengambil foto perpisahan.
Daftar arsip ditinjau sekali lagi bersama notaris. Melody menandatangani dengan pena Luthfi, sedangkan Bayu memakai pena biasa yang dipinjam dari meja. Mereka tertawa karena benda paling penting hari itu justru map tahan air dan dua saksi yang memahami tugasnya. Masa lalu akhirnya memiliki aturan penutup yang tidak bergantung pada mitos keluarga.
Arsip yang boleh ditutup tidak membuat kenangan hilang. Ia memberi akhir pada kewajiban menyimpan. Bayu dan Melody pernah hidup dikuasai hal-hal yang tidak selesai. Kini mereka memilih beberapa pintu tetap tertutup, bukan karena malu, melainkan karena orang di baliknya berhak beristirahat tanpa terus dipanggil menjadi tokoh dalam cerita yang sama.