~NOW~
Pada usia tujuh puluh enam, Melody mulai kesulitan menaiki tangga menuju kamar. Jantungnya stabil, tetapi lutut dan napasnya mengubah perjalanan singkat menjadi perundingan. Bayu pun beberapa kali tersandung di anak tangga terakhir karena pandangannya tidak lagi cepat menyesuaikan cahaya.
Mereka membicarakan pindah sebelum keadaan darurat memilihkan tempat.
'Aku suka rumah ini,' kata Bayu.
'Aku juga. Itu bukan alasan untuk mati di tangga.'
'Cara bicaramu makin romantis.'
'Kita sudah bayar romantis puluhan tahun. Sekarang waktunya bayar lift.'
Rumah itu menyimpan banyak musim: kepulangan dari Medan, makan malam pertama anak-anak tanpa pertengkaran, kunjungan cucu pilihan keluarga, dan tahun-tahun ketika mereka belajar bahwa bersama tidak berarti mengawasi. Namun Levi dan Lody langsung berkata mereka tidak ingin rumah tersebut dipertahankan demi kenangan.
'Jual kalau memang cocok,' kata Levi. 'Jangan pikir kami membutuhkan museum.'
Lody meminta kesempatan memilih beberapa benda, bukan hak atas seluruh rumah. Keira ingin satu loyang milik Melody. Raka meminta rekaman suara pasar Bayu. Tidak ada yang meminta kamar dibekukan seperti terakhir kali mereka tidur di sana.
Mereka menilai tiga pilihan. Unit kompleks senior paling mudah, tetapi Bayu tidak suka jadwal makan yang kaku. Apartemen biasa dekat rumah sakit memberi kebebasan, tetapi layanan darurat terbatas. Pilihan ketiga adalah rumah satu lantai dalam komunitas lintas usia, dengan klinik kecil serta angkutan bersama.
Bayu tertarik karena ada taman. Melody curiga karena brosurnya terlalu banyak menampilkan lansia tertawa sambil memegang salad.
Mereka datang tanpa memberi tahu bagian pemasaran bahwa Bayu pernah dikenal sebagai fotografer. Mereka bertanya kepada penghuni, memeriksa biaya tambahan, prosedur keluhan, cadangan listrik, dan kebijakan data sensor. Seorang penghuni mengaku makanan sering hambar. Penghuni lain mengatakan pengelola pernah lambat memperbaiki pegangan kamar mandi. Jawaban tak sempurna justru membuat tempat itu terasa dapat dinilai.
Mereka menyewa selama enam bulan sebelum membeli hak tinggal. Selama masa uji, rumah lama tetap ada dan tidak langsung dikosongkan. Melody beberapa kali ingin pulang setiap kali tetangga baru terlalu ramah. Bayu kesal karena studio bersama harus dipesan. Mereka membawa keluhan ke pengelola dan menemukan kompromi, bukan menganggap ketidaknyamanan sebagai pertanda salah memilih.
Pada bulan keempat, Melody mengalami sesak ringan saat berjalan. Perawat komunitas datang dalam lima menit dan membantu menghubungi dokter. Tidak ada rawat inap, tetapi kejadian itu menjelaskan manfaat jaringan yang dekat. Bayu juga mulai mengajar kelas audio-foto sebulan sekali tanpa menjadikannya pekerjaan penuh.
Keputusan menjual rumah lama dibuat setelah masa uji selesai. Mereka memberi anak-anak dua akhir pekan untuk memilih barang. Sisanya dinilai: dijual, disumbangkan, didaur ulang, atau dibuang. Melody hampir menyimpan meja makan besar karena mengingat semua percakapan di atasnya.
'Di rumah baru meja ini nggak muat,' kata Bayu.
'Kita bisa sewa gudang.'
'Untuk membayar meja tinggal sendirian?'
Melody mengusap goresan kecil tempat Levi dahulu menjatuhkan gunting. Akhirnya ia memotret goresan itu dengan ponsel, lalu menawarkan meja kepada pusat kegiatan remaja. Mereka menerimanya untuk kelas memasak. Kenangan tidak ikut pindah, tetapi benda tersebut kembali dipakai.
Masalah muncul ketika seorang agen mengiklankan rumah sebagai 'saksi cinta yang menunggu sembilan tahun'. Ia menemukan artikel lama dan menganggap kisah itu nilai jual. Bayu serta Melody meminta iklan ditarik. Mereka mengganti agen setelah permintaan pertama dianggap berlebihan.
'Rumah ini bukan bukti takdir,' kata Melody kepada agen baru. 'Ini bangunan dengan atap yang baru diperbaiki dan saluran air yang perlu diperiksa.'
Agen baru menulis informasi teknis. Pembeli akhirnya sebuah keluarga dengan dua anak dan seorang nenek. Mereka tidak mengenal nama Bayu. Saat serah terima, Melody menunjukkan letak katup air serta pohon yang akarnya pernah mengangkat lantai. Ia tidak menceritakan siapa menangis di kamar mana.
Malam terakhir, Bayu mengajak Melody duduk di lantai ruang kosong. Gema membuat suara mereka terdengar asing.
'Kalau dulu kita punya rumah ini, apa semuanya akan beda?' tanyanya.
'Pasti beda. Belum tentu lebih baik.'
'Kau nggak penasaran?'
'Penasaran. Tapi penasaran bukan tempat tinggal.'
Mereka makan nasi bungkus karena peralatan dapur sudah dipindahkan. Bayu tidak mengambil foto. Melody pun tidak meminta. Setelah selesai, mereka memeriksa jendela, mematikan lampu, dan menyerahkan kunci keesokan paginya.
Uang penjualan tidak langsung dibagikan sebagai warisan dini. Sebagian dipakai membayar hak tinggal dan dana perawatan jangka panjang. Sebagian ditempatkan dalam rekening yang diawasi bersama sesuai dokumen kapasitas. Levi sempat khawatir orang tuanya terlalu banyak menyisihkan untuk anak.
'Pakai untuk hidup kalian,' katanya.
'Kami memang sedang memakainya untuk hidup,' jawab Melody. 'Dana perawat bukan uang mati.'
Mereka memberi satu hadiah terbatas kepada masing-masing anak setelah berdiskusi tentang pajak dan tanpa syarat penggunaan. Lody memakainya untuk cuti panjang bersama Keira. Levi memasukkan bagiannya ke dana produksi yang juga membayar kru muda. Bayu tidak meminta laporan hasil. Hadiah selesai ketika diberikan.
Komunitas baru pun perlahan menjadi rumah karena pekerjaan biasa, bukan karena upacara. Bayu tahu jam tukang kebun menyiram tanaman. Melody menemukan warung yang mau mengurangi gula tanpa menghilangkan rasa. Mereka pernah bertengkar tentang rak buku dan tidur saling membelakangi, lalu bangun untuk menghadiri senam yang sama. Kedekatan kini tidak membutuhkan alamat lama agar tetap nyata.
Di rumah baru hanya ada satu kotak benda sentimental masing-masing. Foto keluarga ditempel dengan nama dan tanggal yang jelas. Pena Luthfi berada di laci kerja, bukan altar. Cangkir lama dipakai sampai pegangannya retak, kemudian dibuang setelah Melody mengucapkan terima kasih sambil menertawakan dirinya sendiri.
Rumah yang mereka lepaskan tidak diwariskan sebagai ujian cinta bagi anak-anak. Levi dan Lody tidak perlu mempertahankannya untuk membuktikan hormat. Bayu dan Melody pun tidak kehilangan kehidupan yang pernah terjadi di sana. Mereka hanya berhenti meminta dinding memikul ingatan yang seharusnya dapat berjalan bersama mereka, ringan, tanpa sertifikat kepemilikan.