~NOW~
Penglihatan Bayu menurun akibat katarak serta gangguan retina ringan. Dokter menyarankan operasi katarak dan pemantauan retina. Bayu takut kehilangan kemampuan memotret lebih daripada takut operasi.
'Kalau aku nggak bisa lihat, aku jadi apa?' tanyanya kepada Melody.
'Orang yang tetap menyebalkan,' jawab Melody, lalu menggenggam tangannya. 'Dan kita cari cara.'
Dokter tidak menjanjikan penglihatan sempurna. Operasi dapat memperbaiki katarak, sementara gangguan retina mungkin berkembang. Bayu meminta pendapat kedua dan memilih tindakan.
Sebelum operasi, dia menata arsip foto. Melody mengingatkan jangan bertindak seolah akan buta besok. Bayu tetap ingin memastikan metadata serta kontrak jelas.
Levi membantu teknologi setelah menyatakan waktu yang mampu. Dia membuat sistem pembaca layar serta label audio. Bayu belajar menggunakannya sebelum perlu, bukan sebagai tanda menyerah.
Operasi pertama berhasil. Warna terlihat lebih terang. Bayu terkejut menyadari dinding rumah tidak seputih ingatannya. Melody tertawa karena selama ini dia menolak mengecat.
Operasi mata kedua memiliki pemulihan lebih lambat. Bayu panik saat pandangan kabur beberapa hari. Dokter memastikan masih dalam batas. Melody mengikuti jadwal kontrol tanpa memberi keyakinan palsu.
Selama tidak boleh memotret, Bayu merekam suara: pintu, pasar, langkah, dan Melody membaca resep. Dia meminta izin setiap orang yang suaranya dapat dikenali. Proyek audio membuka cara baru membuat karya.
Seorang kurator menawarkan pameran tentang fotografer yang kehilangan mata. Bayu menolak judul dramatis karena dia belum kehilangan penglihatan dan tidak ingin kondisi menjadi pemasaran. Mereka akhirnya membuat pameran tentang cara melihat berubah, melibatkan seniman dengan disabilitas sebagai rekan berbayar, bukan inspirasi.
Seniman tunanetra mengkritik alat audio Bayu masih dirancang untuk orang awas. Bayu meminta mereka memimpin desain akses. Deskripsi foto ditulis bersama dan diuji pengguna.
Bayu sempat merasa pengalaman sakitnya diambil alih oleh ahli akses. Melody mengingatkan akses memang bukan bidangnya.
'Kamu boleh punya karya. Mereka punya keahlian yang harus menentukan sistem,' katanya.
Pameran dibuka tanpa mematikan lampu sebagai gimmick. Pengunjung dapat melihat, mendengar, dan menyentuh reproduksi tertentu. Bayu tidak berpura-pura memahami hidup tunanetra karena beberapa bulan penglihatan kabur.
Hasil kontrol setahun kemudian stabil. Bayu tetap membatasi mengemudi malam dan memakai alat pembesar untuk edit. Dia menyerahkan sebagian penyuntingan kepada rekan dengan kredit serta bayaran.
Kamera tidak lagi selalu berada di tangannya. Kadang dia berjalan tanpa mengambil gambar, memperhatikan suara dan suhu. Ketika memotret Melody, dia menunjukkan hasil dan menerima jika diminta hapus.
'Takut buta masih?' tanya Melody.
'Masih. Tapi aku mulai tahu melihat bukan cuma punya gambar tajam.'
Ketakutan itu sempat membuat Bayu kasar. Pada satu pagi ia gagal membaca label obat tetes, lalu membentak Melody karena meletakkan botol di tempat berbeda. Melody memastikan obatnya benar sebelum menjawab.
'Aku bisa membantu matamu. Aku nggak mau jadi tempat kau melempar takut.'
Bayu terdiam. Ia meminta maaf tanpa menambahkan alasan usia. Hari itu mereka memasang label timbul dan membedakan botol dengan gelang karet. Bayu juga berbicara kepada konselor rehabilitasi penglihatan tentang kemarahan yang muncul ketika kemandirian terasa menyusut.
Latihan orientasi membuatnya canggung. Ia belajar meminta lengan pemandu, bukan menarik bahu Melody. Ia mencoba tongkat identifikasi di tempat ramai meski penglihatannya masih cukup. Beberapa orang memuji Melody sebagai istri yang luar biasa di depan Bayu. Melody menjawab bahwa Bayu sedang belajar keterampilannya sendiri dan pendampingan bukan kepahlawanan.
Di studio, perubahan kerja memerlukan uang. Meja diberi tanda kontras, kabel dirapikan, perangkat lunak pembesar dibeli, dan satu pintu diperlebar. Bayu awalnya menyebut biaya itu terlalu besar untuk kebutuhannya sendiri. Rekan seniman mengingatkan perubahan tersebut juga membantu pengunjung, pekerja tua, dan siapa saja yang memerlukan ruang lebih jelas.
'Akses bukan hadiah ulang tahun buatmu,' ujar Sari, konsultan akses yang memimpin proyek. 'Ini bagian dari biaya kerja, seperti listrik.'
Bayu memasukkan anggaran akses ke setiap proposal berikutnya. Ketika sponsor meminta kisah pribadinya ditempatkan sebagai materi promosi, ia menolak dan mengarahkan perhatian pada standar pameran. Sponsor akhirnya setuju menyediakan deskripsi audio untuk program lain juga.
Pada pembukaan, seorang pengunjung bertanya apakah kaburnya foto tertentu meniru penglihatan Bayu. Ia menjawab tidak; foto itu kabur karena subjek bergerak dan dirinya menyukai hasilnya. Ia tak membangun bahasa palsu seolah satu efek visual mewakili semua gangguan mata.
Melody menghabiskan waktu lama di depan rekaman suara pasar. Di dalamnya terdengar pedagang menawarkan jeruk, sepeda melintas, serta Bayu menarik napas sebelum menekan tombol. Tidak ada gambar mereka berdua. Namun Melody merasa karya itu lebih dekat daripada banyak potretnya.
'Kau menyimpan napasmu sendiri,' katanya.
'Nggak sengaja.'
'Yang nggak sengaja kadang tetap benar.'
Bayu tidak mengubah kalimat itu menjadi judul. Ia hanya mencatat waktu rekaman dan nama lokasi, lalu membiarkan pendengar menemukan artinya masing-masing.
Sesudah pameran, kondisi retina Bayu tidak memburuk, tetapi dokter menegaskan hasil baik bukan alasan menghentikan pemantauan. Bayu memasukkan jadwal kontrol ke kalender bersama dan menunjuk Levi sebagai kontak cadangan hanya bila Melody tidak tersedia. Ia menjual mobil setelah dua kali merasa silau malam membuatnya lambat membaca jalan. Keputusan itu berat karena mengemudi selama ini menjadi lambang kebebasan baginya.
'Aku bisa tetap menyetir siang,' katanya, lebih seperti membujuk diri.
'Bisa belum tentu harus,' jawab Melody. 'Tapi keputusan akhirnya punyamu setelah dengar dokter.'
Bayu memilih transportasi bersama kompleks dan sesekali taksi. Pada bulan pertama ia sering mengeluh tentang jadwal. Bulan berikutnya ia mulai mengenali pengemudi dan penumpang lain. Kemandirian ternyata bukan melakukan semua tanpa bantuan, melainkan masih dapat menentukan tujuan, waktu, serta bantuan mana yang diterima.
Ia kembali memotret perlahan. Satu sesi hanya tiga puluh menit, dengan layar diperbesar dan asisten mencatat pengaturan. Hasilnya lebih sedikit daripada dahulu. Anehnya, ia tidak lagi merasa setiap kesempatan harus menghasilkan gambar. Saat cahaya tidak sesuai, ia pulang. Kamera menjadi alat lagi, bukan bukti bahwa tubuhnya belum berubah.
Mata Bayu menua dan mungkin terus berubah. Dia tidak menjadi kurang utuh ketika membutuhkan pembaca layar atau tangan pemandu. Fotografi yang dahulu dipakai menyimpan dunia kini mengajarinya sesuatu yang berlawanan: tidak semua yang dilihat harus ditahan, dan kehilangan satu cara melihat dapat membuka cara mendengar yang selama ini diabaikan.