~NOW~
Rencana pernikahan dibuat kecil: akad dan pencatatan, makan siang, lalu pulang. Ibu Bayu ingin acara adat lengkap. Luthfi menawarkan hotel. Bayu serta Melody berterima kasih dan menolak keduanya.
'Kalian sudah menunggu lama,' kata ibu Bayu. 'Kenapa nggak dirayakan besar?'
'Karena yang lama bukan alasan membuat hari ini milik semua orang,' jawab Bayu.
Mereka memilih ruang serbaguna dekat taman, cukup untuk keluarga serta teman dekat. Anggaran dibayar bersama dengan porsi sesuai penghasilan. Bantuan keluarga hanya diterima sebagai hadiah tanpa hak mengubah tamu.
Daftar tamu menjadi konflik pertama. Melody ingin mengundang rekan bisnis penting agar tidak tersinggung. Bayu menilai acara berubah menjadi jaringan kerja. Mereka membatasi masing-masing lima rekan dan mengadakan kabar terpisah setelah menikah.
Pertanyaan paling rumit menyangkut Arkan, Jasmine, dan Damar. Anak-anak ingin kedua orang tua hadir. Arkan bersedia datang untuk Levi tetapi tidak ingin duduk dekat pelaminan. Jasmine belum yakin sanggup menyaksikan.
'Bunda nggak datang berarti Bunda marah?' tanya Lody.
'Bunda boleh menjaga perasaannya dan tetap mendukung kamu,' jawab Jasmine.
Setelah terapi, Jasmine memilih tidak menghadiri akad tetapi datang saat makan siang untuk menjemput Lody. Damar menemaninya di luar sampai dia siap masuk. Arkan hadir pada makan siang saja. Pengaturan itu tidak disembunyikan atau dipuji sebagai kedewasaan luar biasa.
Levi serta Lody tidak menjadi pengiring simbolis yang menyatukan keluarga. Mereka memilih tugas sederhana: memegang kotak kartu ucapan bersama sepupu lain. Jika lelah, pengasuh keluarga tersedia.
Melody mempertahankan nama. Dokumen pernikahan tidak mengubah identitas profesional. Bayu tidak meminta tambahan Aksara sebagai bukti. Lody lega karena kesamaan nama tidak bertambah.
Perjanjian pranikah ditandatangani sebulan sebelum akad. Setiap pihak didampingi penasihat hukum berbeda. Usaha Melody, aset Khawas, apartemen serta tabungan Bayu tetap terpisah. Rumah tangga memiliki rekening bersama dengan kontribusi proporsional. Warisan anak dilindungi.
Mereka juga mengatur kerja domestik, meski tidak masuk dokumen hukum. Bayu bertanggung jawab belanja dan tagihan; Melody mengelola menu serta koordinasi jasa bersih. Tugas ditinjau, bukan melekat pada gender.
Ibu Bayu tersinggung mendengar perjanjian karena menganggap Melody tidak percaya anaknya. Bayu menjelaskan itu keputusan dirinya juga.
'Saya nggak menikah untuk mengambil harta Melody, Bu. Dokumen ini juga melindungi Lody.'
Luthfi membaca hanya bagian yang Melody pilih bagikan. Dia tidak meminta saham keluarga dikendalikan melalui pernikahan. Konflik lama membuatnya lebih menghargai pemisahan.
Ana mencoba muncul melalui kerabat dan meminta undangan untuk Dani. Melody mengundang Dani langsung sebagai keponakan, tetapi tidak Ana karena pesan-pesan yang terus menyerang. Dani yang sudah dewasa menerima tanpa menjadi pembawa pesan ibunya.
Undangan digital bocor ke grup sekolah. Beberapa orang tua mengira seluruh kelas diundang. Bayu serta Melody mengirim klarifikasi sopan bahwa acara terbatas. Mereka tidak memperluas daftar karena malu.
Seminggu sebelum akad, Lody mengatakan tidak ingin memakai gaun yang dipilih Jasmine karena warnanya sama dengan Melody. Jasmine membiarkan dia memilih pakaian lain. Anak tidak harus tampak serasi untuk membuktikan menerima ibu sambung.
Levi ingin duduk bersama Arkan saat makan. Tempatnya diatur demikian. Melody tidak meminta putranya duduk di meja pasangan sepanjang acara.
Pada rapat terakhir, penyelenggara bertanya siapa menyerahkan pengantin perempuan. Melody menolak konsep diserahkan. Dia masuk bersama Luthfi karena ingin ditemani, bukan dipindahkan kepemilikannya. Bayu masuk bersama ibunya dengan makna serupa.
Pernikahan mereka tidak menyatukan semua orang menjadi satu keluarga tanpa batas. Arkan tetap Papa Levi. Jasmine tetap Bunda Lody. Damar tetap pasangan Jasmine, bukan tamu yang harus disembunyikan. Anak memiliki rumah dan loyalitas lebih dari satu.
Malam sebelum akad, Bayu dan Melody tidur di tempat masing-masing. Mereka menelepon selama sepuluh menit.
'Masih mau?' tanya Melody.
'Masih. Kamu?'
'Masih.'
'Kalau besok berubah, bilang.'
Tidak ada sumpah bahwa perubahan mustahil. Justru hak untuk kembali bertanya membuat jawaban mereka aman. Pernikahan besok tidak akan menyatukan seluruh sejarah menjadi kisah rapi. Ia hanya mengikat dua orang yang akhirnya tahu cinta tidak memberi hak menghapus hubungan lain yang membuat hidup mereka seperti sekarang.
Mereka menolak beberapa tradisi bukan karena tradisi selalu buruk, tetapi karena makna perlu disetujui. Ibu Bayu mengusulkan rangkaian adat Sunda yang melibatkan nasihat orang tua. Melody menerima bagian yang terasa sebagai doa, menolak bagian yang menggambarkan istri harus selalu mengikuti suami.
Pemandu acara bersedia mengubah bahasa. Kedua mempelai akan menerima nasihat tentang kerja sama dan tanggung jawab. Tidak ada lelucon mengenai malam pertama, kesuburan, atau menaklukkan pasangan.
Vendor foto menerima daftar batas: anak tidak dipotret saat menangis, mantan pasangan tidak dijadikan objek candid, dan seluruh gambar keluarga meminta persetujuan sebelum unggah. Vendor sempat mengatakan foto spontan lebih menarik. Melody menjawab privasi lebih penting daripada portofolio.
Menu juga menyesuaikan alergi Melody dan kebutuhan tamu. Puding cokelat tetap tersedia di meja terpisah untuk anak, diberi label jelas. Detail kecil itu mengingatkan hubungan baru tidak menuntut Melody mengabaikan tubuh demi menyenangkan orang lain.
Arkan meminta jadwal pasti agar Levi tidak terlalu lelah. Jasmine meminta ruang tenang bagi Lody jika emosi muncul. Penyelenggara menyediakan satu kamar kecil dengan pengasuh yang sudah dikenal anak. Ruang tersebut bukan tempat menyembunyikan mereka; anak boleh keluar masuk.
Bayu dan Melody mengadakan satu sesi dengan pemuka agama yang memimpin akad. Mereka membahas janji, tanggung jawab, serta hak pasangan. Bayu menegaskan nafkah tidak akan digunakan sebagai hak mengendalikan. Melody mengatakan kemandirian ekonomi tidak menghapus komitmen berbagi.
Tiga hari sebelum acara, Bayu melihat tagihan membengkak dan ingin memangkas honor staf lepas. Melody menolak menekan pekerja untuk menutup kesalahan anggaran mereka. Mereka mengurangi dekorasi tambahan dan membayar kontrak penuh.
'Dekorasinya nanti kelihatan kosong,' kata Bayu.
'Ruang kosong nggak merugikan siapa pun. Upah dipotong merugikan orang.'
Bayu setuju. Ruang acara akhirnya lebih sederhana daripada rancangan awal. Tidak ada yang kehilangan makna. Persiapan pernikahan menjadi ujian terakhir bahwa pilihan mereka tidak boleh tampak indah dengan memindahkan biaya kepada orang yang lebih sedikit kuasanya.