~NOW~
Hujan turun pada pagi akad. Penyelenggara menawarkan memindahkan semuanya ke dalam ruangan. Bayu dan Melody menyetujui tanpa menyebut hujan sebagai tanda buruk atau romantis.
Levi datang bersama Arkan. Lody bersama Jasmine. Anak-anak saling menunjukkan pakaian lalu pergi mencari makanan ringan. Tidak ada foto keluarga sebelum mereka siap.
Melody memasuki ruangan bersama Luthfi. Abangnya menahan air mata tetapi tidak memberi pidato tentang menyerahkan adik. Di sisi lain, ibu Bayu menggenggam lengan putranya.
Akad berlangsung singkat dan sah. Bayu mengucapkan jawaban dengan suara jelas. Melody menandatangani dokumen menggunakan nama lengkapnya sendiri. Setelah itu mereka saling memasangkan cincin sederhana.
'Selamat, A'a,' bisik Melody.
Panggilan itu membuat Bayu tersenyum, tetapi dia tidak mencium tanpa bertanya. Melody mengangguk ketika dia mendekat. Ciuman kening singkat disambut tepuk tangan.
Makan siang lebih ramai. Arkan datang membawa hadiah dari Levi berupa album foto kosong. Di halaman pertama tertulis agar Mommy membuat kenangan baru tanpa melupakan yang lama.
'Terima kasih sudah menjaga Levi dalam semua perubahan,' kata Melody kepada Arkan.
'Kita tetap menjaganya bersama,' jawab Arkan.
Mereka tidak berpelukan. Rasa hormat cukup disampaikan tanpa pertunjukan damai.
Jasmine datang menjelang akhir. Wajahnya tegang, tetapi Lody langsung menggandengnya. Bayu menghampiri setelah memastikan Jasmine nyaman.
'Terima kasih sudah datang.'
'Aku datang buat Lody.'
'Aku tahu.'
Melody tidak meminta foto. Jasmine justru mendekat dan mengucapkan selamat singkat.
'Jaga batas yang sudah kita buat,' katanya.
'Saya akan,' jawab Melody.
Damar menunggu di meja lain dan tidak dipaksa bergabung. Ketika Lody ingin foto bersama Bunda, Ayah, Aunty Mel, dan Damar, semua orang bertanya apakah masing-masing nyaman. Jasmine belum siap. Mereka mengambil beberapa foto terpisah. Lody kecewa, tetapi tidak diberi pesan bahwa foto gabungan menentukan kebahagiaan.
Ibu Bayu sempat memperkenalkan Melody sebagai ibu baru Lody. Bayu mengoreksi di depan kerabat dengan nada tenang.
'Melody istri saya. Bundanya Lody tetap Jasmine.'
Ibu Bayu meminta maaf kepada Jasmine. Kesalahan tidak dibiarkan demi menjaga suasana pesta.
Luthfi memberikan amplop hadiah. Melody membuka setelah acara dan menemukan bantuan untuk pendidikan Levi serta Lody dengan nilai sama. Dia dan Bayu menghubungi Arkan serta Jasmine sebelum menerima bagian anak. Keduanya setuju dana ditempatkan pada rekening pendidikan terpisah tanpa kontrol Luthfi atas sekolah.
Popy, Popy yang paling riuh, meminta Bayu dan Melody menceritakan kisah cinta mereka di panggung. Mereka menolak. Hari itu bukan tempat mengubah perceraian orang lain menjadi babak pembuka bahagia.
Sebagai gantinya, mereka mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu anak, pekerjaan, terapi, dan proses hukum. Nama Arkan serta Jasmine tidak disebut tanpa persetujuan; kontribusi mereka dihormati secara privat.
Menjelang sore, Levi pulang bersama Arkan sesuai jadwal. Lody pulang bersama Jasmine. Beberapa kerabat heran mengapa anak tidak ikut pasangan pengantin ke hotel.
'Karena kalender mereka nggak berhenti hanya gara-gara kami menikah,' jawab Bayu.
Bayu serta Melody kembali ke rumah sewa yang kini menjadi rumah bersama resmi. Tidak ada anak malam itu. Mereka membuka hadiah, makan sisa kue, dan menertawakan sepatu basah.
Sebelum masuk kamar, Melody berdiri di ambang pintu.
'Hari ini melelahkan.'
'Mau istirahat sendiri dulu?'
'Aku mau sama kamu, tapi pelan.'
Bayu mengangguk. Status suami tidak memberinya akses otomatis. Mereka menutup pintu setelah keputusan diucapkan.
Pagi berikutnya tidak terasa ajaib. Ada kotak makanan, pakaian acara, dan pesan belum dibalas. Bayu membuat kopi; Melody memeriksa kalender anak. Hari Selasa Lody datang, Rabu Levi, akhir pekan keduanya punya acara dengan orang tua lain.
Hari yang dipilih telah selesai. Pernikahan tidak membayar sembilan tahun rindu atau menghapus orang yang terluka. Ia tidak membuktikan takdir menang. Di antara dokumen, batas, jadwal, dan hujan, Bayu serta Melody hanya melakukan sesuatu yang dahulu gagal mereka lakukan: menyatakan pilihan di waktu yang sama dan tetap tinggal untuk mengurus akibatnya.
Sebelum makan siang berakhir, pembawa acara mengundang Bayu dan Melody mengatakan satu kalimat. Bayu tidak menjanjikan menjaga Melody seolah istrinya tak mampu menjaga diri.
'Saya berjanji kembali pada percakapan, terutama saat ingin diam,' katanya.
Melody menarik napas sebelum berbicara.
'Saya berjanji mengatakan apa yang saya butuhkan, bukan menunggu orang membaca hati.'
Janji itu tidak terdengar megah. Orang-orang terdekat mengenali sejarah di baliknya.
Popy menangis. Jinan memeluk Melody setelah meminta izin. Teguh, teman lama Bayu yang datang dari Bandung, menepuk bahu Bayu dan mengatakan akhirnya laki-laki itu belajar bicara. Bayu tertawa tanpa menutupi mata basah.
Teguh sempat meminta maaf kepada Melody karena dahulu hanya menyampaikan kepindahan Bayu tanpa mendorong mereka bicara. Melody mengatakan keputusan bukan tanggung jawab teman. Teguh memberi informasi yang dia punya; Bayu dan Melody yang memilih apa dilakukan setelahnya.
Di ruang tenang, Lody menangis karena mendengar kerabat menyebut Melody istri Ayah. Jasmine menemaninya. Melody datang hanya setelah Lody meminta. Dia berjongkok tanpa menyentuh.
'Ayah punya istri baru berarti Bunda bukan keluarga Ayah?' tanya Lody.
Jasmine menjelaskan mereka tetap orang tua bersama meski bukan pasangan. Melody menambahkan dirinya tidak mengambil riwayat keluarga yang sudah ada. Lody akhirnya meminta air dan kembali ke meja bersama Bunda.
Levi juga sempat marah ketika tamu menanyakan kapan memanggil Bayu Papa. Arkan menjawab di hadapan anak bahwa tidak ada kewajiban. Bayu mendengar kemudian dan mendukung.
Kedua kejadian tidak diumumkan. Pesta berjalan, tetapi kebahagiaan pasangan tidak dipakai membungkam kesedihan anak. Pada foto terakhir, Bayu serta Melody berdiri berdua. Anak-anak sudah pulang. Bingkai itu tidak kurang lengkap; ia hanya jujur tentang siapa yang memilih pernikahan hari tersebut.
Saat rumah sepi, Melody membuka album kosong dari Levi dan menempel satu foto tangan bercincin. Bayu menulis tanggal serta satu kalimat: hari kami memilih tanpa meminta orang lain melupakan. Halaman berikutnya dibiarkan kosong untuk kehidupan yang belum diketahui.
Mereka tetap memilih.