~NOW~
Tanggal peninjauan tiba tanpa suasana istimewa. Bayu dan Melody bertemu di ruang terapi pasangan karena keduanya sepakat jawaban besar tidak perlu diuji oleh restoran mahal atau cincin tersembunyi.
Konselor meminta mereka meninjau alasan yang ditulis setahun lalu. Jadwal anak stabil. Konflik tidak selalu mudah, tetapi keduanya kembali setelah jeda. Rencana tempat tinggal telah disusun. Persoalan uang dan aset dibuka kepada penasihat.
'Aku siap bertunangan,' kata Melody.
Bayu menutup mata sejenak. Lega terlihat pada bahunya.
'Kamu yakin bukan karena tanggalnya sudah tiba?'
'Aku yakin untuk mengatakan iya sekarang. Aku nggak bisa menjamin semua masa depan.'
'Aku juga nggak bisa.'
Bayu tidak mengeluarkan cincin. Mereka menyepakati pertunangan lebih dulu sebagai keputusan privat, lalu memilih simbol bersama jika ingin. Konselor menanyakan apakah pertunangan memiliki tenggat. Mereka menetapkan pernikahan tidak lebih cepat dari satu tahun dan dapat ditunda tanpa dianggap pengkhianatan.
Setelah sesi, mereka makan siang di tempat biasa. Bayu bertanya sekali lagi tanpa penonton.
'Melody Lerina Khawas, kamu mau merencanakan pernikahan denganku?'
'Iya, Bayu Aksara. Merencanakan, bukan menyerahkan hidupku.'
'Aku dengar.'
Mereka berjabat tangan lalu tertawa karena terlalu formal. Melody yang lebih dulu memeluk. Pertunangan itu tidak diunggah.
Orang pertama yang diberi tahu adalah Arkan dan Jasmine melalui percakapan terpisah. Melody menelepon Arkan sebelum berbicara dengan Levi. Arkan diam, lalu bertanya kapan perubahan rumah terjadi.
'Belum ada. Pernikahan paling cepat tahun depan. Kami akan konsultasi soal transisi.'
'Baik. Aku akan bicara dengan Levi setelah kamu memberi tahu.'
Bayu menyampaikan kepada Jasmine. Jasmine mengucapkan selamat dengan suara datar, kemudian membahas Lody.
'Dia mungkin senang, tapi soal nama bisa muncul lagi.'
'Kami siap kembali ke psikolog.'
'Jangan menjanjikan kamar atau keluarga utuh.'
'Tidak akan.'
Damar mengetahui dari Jasmine, bukan Lody. Dia tidak memberi komentar kepada Bayu. Kedudukan setiap orang tetap jelas.
Levi menerima kabar dengan wajah tegang. Melody mengatakan keputusan belum berarti Bayu pindah besok. Levi bertanya apakah rumah akan dijual. Melody menjawab tidak ada rencana menjual, tetapi kelak mereka mungkin menyewa rumah bersama sambil mempertahankan aset masing-masing.
'Kamar Levi tetap ada?'
'Iya. Kalau ada rumah baru, kamu juga punya ruang yang jelas.'
'Papa boleh datang?'
'Untuk kegiatanmu, dengan kabar dan aturan rumah, iya.'
Arkan mengulang bahwa pernikahan Mommy tidak mengurangi hubungan Papa. Levi tidak memberi ucapan selamat. Dia meminta waktu, dan orang dewasa tidak menganggapnya tidak sopan.
Lody bereaksi lebih gembira, lalu langsung bertanya apakah nama mereka akan sama. Melody menjelaskan dia tetap memakai nama Khawas. Lody tampak lega.
'Aunty jadi Mama?'
'Bunda tetap satu-satunya yang kamu panggil Bunda atau Mama sesuai pilihanmu,' jawab Bayu. 'Aunty tetap Aunty Mel kecuali kamu sendiri suatu hari ingin panggilan lain.'
Mereka membuat sesi keluarga dengan psikolog. Anak-anak diminta menyebut ketakutan dan harapan, bukan memberi suara setuju. Levi takut Bayu mengambil tempat Arkan. Lody takut Melody lebih menyukai Levi.
Bayu berjanji tidak menjadi pengganti Papa. Melody mengatakan kasih kepada anak tidak dibagi seperti potongan kue, tetapi hubungan dengan Levi dan Lody memang berbeda. Dia tidak akan pura-pura menjadi ibu kandung.
Keluarga besar diberi tahu sesudah anak. Ibu Bayu menangis dan ingin segera menentukan tanggal. Bayu menghentikan dengan lembut. Luthfi meminta makan bersama dan menawarkan bantuan tanpa mengambil alih.
Ana mengirim pesan pedas bahwa Melody akhirnya mendapatkan laki-laki yang membuatnya menghancurkan rumah tangga. Melody tidak membalas sendiri. Dia menyimpan pesan jika gangguan berlanjut dan meminta Ana tidak menghubungi Levi soal pernikahan.
Mereka memilih cincin satu bulan kemudian. Melody tidak menginginkan berlian besar. Bayu merasa harus mampu membeli simbol yang pantas, pola lama tentang kelayakan. Mereka menetapkan anggaran bersama dan memilih cincin sederhana yang dapat dipakai sehari-hari.
Tidak ada acara lamaran keluarga. Mereka mengundang orang tua serta saudara dekat untuk makan dan menyampaikan keputusan, bukan meminta negosiasi mahar atau tanggal. Pernikahan akan mengikuti keyakinan serta aturan hukum, tetapi tubuh, pekerjaan, dan rumah mereka tidak diserahkan kepada forum keluarga.
Jawaban setelah satu tahun bukan hadiah kesabaran Bayu. Itu pilihan Melody setelah melihat bukti, dan pilihan Bayu untuk menerima bahwa iya tetap punya syarat serta hak berubah. Pertunangan mereka tidak menutup pertanyaan. Ia hanya menandai bahwa kini keduanya bersedia menjawab pertanyaan berikut bersama-sama.
Masa pertunangan juga memunculkan persoalan privasi di sekolah. Seorang wali murid mengucapkan selamat kepada Levi sebelum Melody sempat berbicara lengkap. Rupanya kabar berasal dari kerabat yang mengunggah foto cincin. Melody meminta unggahan diturunkan dan menegaskan keluarga tidak boleh menyampaikan perubahan kepada anak melalui media sosial.
Levi marah karena merasa semua orang tahu. Arkan membantunya menyusun jawaban singkat: itu urusan keluarga dan dia belum mau membahas. Sekolah mengingatkan wali murid agar tidak menanyai anak mengenai keputusan orang tua.
Ibu Bayu juga perlu menyesuaikan harapan. Dia mulai memanggil Melody sebagai calon ibu Lody. Bayu mengoreksi setiap kali. Ketika ibunya menangis karena merasa niat baik ditolak, Bayu tidak meminta Melody mengalah demi orang tua.
'Ibu boleh sayang Melody,' katanya. 'Tapi posisi Jasmine sebagai Bunda Lody tidak berubah.'
Melody pun berbicara kepada Luthfi yang terlalu cepat menyebut Bayu kepala keluarga baru. Dia mengatakan rumah tangga mereka akan dipimpin melalui keputusan bersama. Luthfi mengakui bahasa itu berasal dari kebiasaan dan berusaha memperbaiki.
Pertunangan privat akhirnya diumumkan dengan satu foto tangan, tanpa wajah anak atau narasi cinta yang mengalahkan waktu. Keterangan hanya menyebut mereka sedang merencanakan pernikahan dengan hormat kepada keluarga masing-masing. Komentar dibatasi.
Bayu serta Melody menyimpan cincin saat bekerja jika tidak nyaman. Simbol tidak wajib dipamerkan agar keputusan sah. Ketika Melody lupa memakainya satu hari, Bayu sempat tersinggung lalu bertanya. Cincin tertinggal di kamar mandi, bukan pesan tersembunyi.
Mereka tertawa setelahnya, tetapi tetap membahas pemicu. Bayu masih mudah membaca benda sebagai penolakan. Melody masih takut kesalahan sepele menjadi ujian. Jawaban iya setelah satu tahun bukan akhir terapi; ia hanya memberi mereka alasan lebih kuat untuk terus melihat pola sebelum pola itu kembali mengemudikan.