~NOW~
Pada ulang tahun hubungan kedua, Bayu membawa Melody ke taman tempat mereka pertama kali bertemu untuk kencan setelah perceraian. Dia tidak membawa cincin. Justru Melody yang membuka topik pernikahan.
'Kamu masih ingin menikah suatu hari?' tanyanya.
'Iya. Tapi bukan kalau tujuannya memperbaiki akhir cerita lama.'
Melody mengangguk. Dia juga ingin kemungkinan itu, tetapi banyak hal belum selesai: kesiapan anak, tempat tinggal, keuangan, dan hubungan dengan mantan pasangan.
'Aku nggak mau dilamar sebagai kejutan,' katanya.
'Berarti aku batal pesan pemain biola dari balik semak.'
'Syukurlah.'
Mereka membuat daftar pertanyaan, bukan tenggat. Apakah perlu menikah atau cukup berkomitmen? Di rumah siapa tinggal? Bagaimana ruang anak? Apakah nama berubah? Bagaimana aset serta utang? Siapa mengambil keputusan medis?
Pertanyaan pertama dibawa ke terapi pasangan. Bayu mengakui pernikahan baginya masih menjadi simbol bahwa Melody akhirnya memilih. Konselor menanyakan apakah dia dapat menerima komitmen tanpa upacara. Bayu tidak yakin.
Melody mengakui takut menolak atau menunda karena sejarah lama. Dia khawatir Bayu mendengar belum sebagai tidak lagi. Bayu mengatakan tanggung jawabnya membedakan sekarang dari dulu.
'Kalau aku butuh dua tahun?' tanya Melody.
'Kita bahas alasannya dan periksa lagi sesuai waktu. Aku nggak akan pergi tanpa jawaban.'
Mereka sengaja tidak menanyakan pendapat anak dalam bentuk setuju atau tidak. Psikolog membantu mengevaluasi kebutuhan. Levi masih menjaga ruang rumahnya; Lody baru pulih dari konflik nama. Tinggal bersama dalam waktu dekat tidak dianjurkan.
Bayu mempertimbangkan pindah ke kompleks dekat Melody tanpa serumah. Arkan khawatir batas rumah Levi kabur, tetapi tidak melarang. Jasmine meminta jadwal Lody tidak berubah. Bayu akhirnya menyewa apartemen yang lebih dekat setelah masa sewanya habis, keputusan yang juga memudahkan sekolah.
Mereka mencoba rutinitas makan malam mingguan bergantian. Satu minggu hanya Bayu dan Melody, minggu berikutnya bersama anak jika mereka bersedia. Tidak ada kewajiban semua hadir. Ketika Levi memilih acara bersama Arkan, makan tetap berlangsung tanpa rasa bersalah.
Lody suatu hari bertanya apakah Ayah akan menikah dengan Aunty. Bayu menjawab sedang dibicarakan dan belum ada keputusan.
'Kalau menikah, nama Aunty jadi Melody Aksara juga?'
'Itu keputusan Aunty.'
Melody kemudian menjelaskan dia akan mempertahankan nama sendiri. Kesamaan nama dengan Lody sudah cukup rumit; pernikahan tidak mengharuskannya mengambil nama Bayu.
Soal aset, mereka menemui penasihat hukum. Perjanjian pranikah bukan tanda tidak percaya, melainkan perlindungan bagi bisnis, anak, serta kewajiban lama. Aset sebelum menikah tetap terpisah. Biaya rumah bersama kelak dibagi berdasarkan kemampuan dan kepemilikan dicatat.
Bayu merasa tidak nyaman karena kekayaan Melody jauh lebih besar. Dia takut perjanjian menegaskan jarak kelas. Penasihat mengingatkan keadilan tidak selalu setengah sama rata; transparansi memungkinkan mereka memilih tanpa rasa rendah diri.
Melody juga harus melepaskan refleks menawarkan membeli rumah seluruhnya. Mereka dapat menyewa dulu atau membeli dengan porsi tercatat. Rumah bukan ujian kemampuan Bayu.
Pertanyaan medis membuka isu lain. Setelah perceraian, Arkan dan Jasmine tetap kontak darurat kedua untuk anak, bukan untuk mantan pasangan. Jika Bayu dan Melody menikah, pasangan menjadi kuasa medis sesuai dokumen, tetapi keputusan tertentu tetap mengikuti arahan tertulis.
Mereka menyusun kehendak kesehatan dasar. Percakapan mengenai sakit serta kematian membuat rencana pernikahan terasa jauh dari pesta, tetapi justru lebih nyata.
Pada akhir enam bulan diskusi, Bayu bertanya apakah Melody siap bertunangan secara privat. Tidak ada cincin di tangan. Melody menjawab belum. Dia ingin satu tahun lagi melihat stabilitas anak serta hubungan.
Bayu merasa kecewa. Dia mengatakan terus terang dan meminta dua hari untuk memproses, dengan janji menelepon Jumat malam. Melody takut, tetapi menerima jeda.
Jumat malam Bayu menelepon tepat waktu.
'Aku masih kecewa, tapi aku nggak menganggap kamu menolak aku sebagai manusia,' katanya.
'Aku masih memilih hubungan ini.'
'Aku dengar.'
Mereka menetapkan peninjauan satu tahun, bukan ultimatum. Jika salah satu berubah keinginan, dibicarakan lebih awal. Bayu tidak menyimpan cincin rahasia. Melody tidak memberi janji setengah hati untuk menenangkannya.
Pertanyaan pernikahan belum dijawab, tetapi kali ini belum tidak menjadi jurang. Ia menjadi ruang yang punya tanggal, alasan, dan jalan kembali. Dulu dua orang itu kehilangan sembilan tahun karena satu permintaan waktu tidak didengar. Kini mereka memilih menjaga satu tahun dengan percakapan, membuktikan bahwa menunggu dapat menjadi tindakan bersama, bukan hukuman yang dijalani sendirian.
Selama tahun penantian, hubungan tidak diperlakukan seperti masa ujian menuju jawaban iya. Mereka tetap boleh menemukan alasan tidak menikah. Terapi pasangan dilakukan dua bulan sekali, sementara setiap orang mempertahankan terapi pribadi seperlunya.
Bayu pernah merasa sudah berkorban karena menunggu dan hampir mengucapkannya saat bertengkar. Dia berhenti lalu mengakui pikiran tersebut.
'Menunggu ini keputusan kita bersama. Bukan utang yang harus kamu bayar dengan iya,' katanya.
Melody juga memeriksa apakah permintaan satu tahun merupakan kebutuhan atau cara mempertahankan kuasa setelah dahulu merasa ditinggalkan. Dia menetapkan indikator konkret: kestabilan jadwal anak, kemampuan menyelesaikan konflik, rencana tempat tinggal, dan rasa aman dirinya. Bukan menunggu perasaan seratus persen pasti.
Mereka mencoba simulasi anggaran rumah bersama tanpa benar-benar menyatukan uang. Biaya hunian, sekolah, bantuan rumah, kesehatan, serta dukungan orang tua dihitung. Hasilnya menunjukkan rumah besar tidak diperlukan. Menyewa dekat sekolah lebih fleksibel daripada membeli sebagai simbol.
Jasmine dan Arkan menerima informasi bahwa pembicaraan pernikahan ada, tetapi belum ada keputusan. Damar juga diberi tahu oleh Jasmine karena kelak jadwal mereka mungkin terdampak. Tidak ada rapat untuk memberi restu.
Anak-anak hanya diberi jawaban konsisten bahwa orang dewasa sedang memikirkan masa depan dan tidak ada perubahan tahun itu. Levi lega. Lody kecewa. Keduanya boleh merasakan berbeda.
Menjelang tanggal tinjau, Bayu tidak membeli cincin. Melody tidak menyiapkan jawaban demi mencegah kecewa. Mereka datang ke satu tahun tersebut dengan daftar yang sudah berkali-kali dicoret dan diperbarui. Pertanyaan belum dijawab, tetapi kini setiap kemungkinan memiliki konsekuensi yang terlihat, bukan sekadar bayangan bahagia di balik sebuah kata ya.