~NOW~
Dara's Bakery berkembang menjadi lima cabang. Jinan mengusulkan struktur perusahaan baru karena keputusan tidak lagi aman jika hanya bergantung pada hubungan keluarga. Melody setuju, tetapi persoalan pembagian saham memunculkan ketegangan.
Modal awal sebagian berasal dari keluarga Khawas, sementara Jinan membangun resep, sistem produksi, dan merek bersama Melody. Luthfi menyarankan Melody tetap memegang saham mayoritas karena aset keluarga. Jinan merasa kerja bertahun-tahun kembali dianggap lebih kecil daripada uang awal.
'Aku nggak mau kita jadi seperti konflik Kak Ana dan Bang Luthfi,' kata Melody.
'Kalau begitu jangan tunggu sampai marah baru hitung kontribusi,' jawab Jinan.
Mereka menyewa penilai independen. Resep, merek, jaringan, manajemen, modal, dan kerja tanpa bayaran dihitung. Hasilnya menunjukkan porsi Jinan seharusnya lebih besar daripada dokumen lama.
Melody merasa defensif. Dia telah meninggalkan karier dan menganggap toko sebagai bukti kemandirian. Mengurangi porsi terasa seperti kehilangan. Konselor bisnis mengingatkan kepemilikan adil tidak menghapus kontribusinya.
Bayu tidak ikut menilai. Ketika Melody meminta pendapat, dia mengatakan dapat mendengar tetapi tidak tepat menentukan angka. Hubungan mereka akan membuat rekomendasinya sulit dianggap netral.
Melody akhirnya menyetujui restrukturisasi. Jinan mendapat saham serta jabatan operasional sesuai kerja. Karyawan inti memperoleh program kepemilikan bertahap. Laporan keuangan diaudit dan keputusan besar tidak dapat dibuat satu orang.
Sagara, yang mengelola Melody's Coffee, menggunakan kesempatan itu untuk meminta skema serupa. Melody hampir menjawab kedua usaha berbeda. Dia kemudian meminta proposal dan menilai tanpa menjadikan permintaan sebagai ketidaksetiaan.
Proposal menunjukkan kafe terlalu bergantung pada Sagara, tetapi dia tetap berstatus karyawan tanpa perlindungan keuntungan. Mereka menyusun bonus berbasis kinerja, opsi saham kecil, serta mekanisme keluar. Melody tetap pemilik utama, namun bukan satu-satunya orang yang dianggap menciptakan nilai.
Perubahan memicu komentar Ana bahwa Melody membagi harta keluarga kepada orang luar. Melody menjawab kekayaan tumbuh melalui kerja banyak orang dan tidak semua harus diwariskan berdasarkan nama belakang.
Luthfi lebih terbuka. Konfliknya dengan Ana membuat dia memahami dokumen serta batas. Dia meminta Melody memastikan keputusan bukan rasa bersalah sesaat. Melody menunjukkan penilaian dan rencana tata kelola.
'Kalau angkanya bisa dipertanggungjawabkan, Abang dukung,' katanya.
Bayu menghadapi perubahan karier sendiri. Proyek sistem keuangan di kantornya berhasil dan dia ditawari jabatan strategis di Jakarta. Kali ini dia memberi tahu Melody serta Jasmine pada hari yang sama setelah menerima informasi, bukan menunggu keputusan.
Jabatan itu tidak mengubah jadwal kota tetapi menambah jam kerja pada fase awal. Jasmine meminta jadwal pengasuhan cadangan. Bayu membahas dengan tim dan menolak budaya lembur tanpa batas. Dia menerima jabatan setelah perusahaan menyetujui target serta kewenangan delegasi.
Mereka merayakan secara sederhana. Melody membayar makan karena baru menerima dividen restrukturisasi; Bayu membeli pencuci mulut. Tidak ada perbandingan siapa lebih sukses.
Dalam satu percakapan, Bayu mengatakan kelak ingin meninggalkan aset kepada Lody. Melody bertanya apakah dia juga membayangkan Levi. Bayu menjawab warisan untuk anak kandung tetap tanggung jawab utama, tetapi hubungan dengan Levi dapat diatur jika berkembang. Mereka tidak menyatukan aset sebelum menikah atau membuat janji kepada anak.
Melody menyusun wasiat baru setelah perceraian. Levi menjadi penerima utama, Jinan memperoleh hak membeli saham agar usaha tidak terpecah, dan pengelola profesional ditunjuk jika Levi belum dewasa. Arkan menerima salinan bagian yang menyangkut pengasuhan tanpa mengontrol usaha.
Bayu pun memperbarui wasiat. Jasmine menjadi wali bersama sesuai hukum untuk kepentingan Lody, bukan penerima aset pribadi selain hak yang telah disepakati. Nama Melody belum dimasukkan hanya karena mereka berpacaran.
'Romantis banget kita ngobrol warisan,' kata Melody.
'Lebih romantis daripada bikin orang berantem nanti.'
Keduanya tertawa. Mereka tahu uang pernah menjadi sumber rendah diri Bayu dan alat kontrol dalam keluarga Melody. Kini uang dibicarakan sebelum berubah menjadi rahasia.
Usaha dan harta tidak diwariskan begitu saja kepada orang yang namanya paling dekat. Ia disusun agar kerja terlihat, anak terlindungi, dan pasangan tidak memperoleh kuasa otomatis. Melody belajar membagi kepemilikan tanpa merasa dirinya hilang. Bayu belajar menerima keberhasilan tanpa menjadikannya syarat pantas dicintai.
Restrukturisasi usaha menimbulkan satu konflik baru ketika cabang rugi harus ditutup. Karyawan menuduh pemilik membagikan saham hanya saat usaha untung, lalu memindahkan risiko ketika kondisi buruk. Melody serta Jinan membuka angka dan mengakui ekspansi terlalu cepat.
Mereka menawarkan pemindahan, pesangon di atas batas minimum, serta waktu mencari kerja. Program saham belum matang sehingga tidak digunakan sebagai pengganti hak tunai. Dua karyawan memilih pindah, sisanya menerima pesangon.
Melody ingin mempertahankan cabang dengan uang pribadi demi menghindari rasa bersalah. Jinan menolak karena proyeksi menunjukkan kerugian akan berlanjut dan keputusan emosional membahayakan cabang lain.
'Berbagi kepemilikan berarti kamu juga harus menerima ketika suaramu kalah,' kata Jinan.
Melody membawa keputusan ke rapat dewan kecil. Mereka memilih menutup. Di hadapan karyawan, Melody tidak menyalahkan pasar atau manajer cabang. Dia mengakui kesalahan strategi pemilik.
Sagara kemudian meminta kursi pengamat dalam rapat kafe. Melody setuju dengan masa uji dan akses informasi yang relevan. Dia mulai menyiapkan penerus operasional, meski belum berniat pensiun. Usaha yang sehat harus mampu berjalan saat pendiri sakit, sibuk, atau memilih pergi.
Bayu belajar pelajaran serupa ketika proyek sistem berhasil. Atasannya memuji dia seorang diri. Bayu mengoreksi dan menyebut tim yang membangun data. Bonus dibagi berdasarkan kontribusi tertulis. Dia juga menolak menyimpan seluruh kata sandi penting pada satu orang.
Mereka membicarakan bagaimana pekerjaan memengaruhi anak. Levi tertarik usaha dan bertanya apakah toko kelak miliknya. Melody menjawab mungkin mendapat warisan ekonomi, tetapi jabatan harus berdasarkan kemampuan dan aturan. Lody bertanya apakah boleh bekerja di sana. Melody mengatakan siapa pun boleh melamar saat dewasa tanpa janji diterima.
Anak-anak kecewa karena mengira keluarga memberi jalan otomatis. Justru itulah percakapan yang perlu dimulai. Warisan dapat memberi keamanan, tetapi tidak harus memberi kuasa atas pekerja lain.
Ketika laporan tahunan selesai, Melody mengirim salinan kepada pemegang saham dan ringkasan kepada karyawan. Nama Khawas masih memberinya akses serta modal. Dia tidak menghapus keuntungan itu, tetapi berusaha membuat keputusan berikut dapat diperiksa oleh orang yang ikut menanggung akibatnya.