~NOW~
Setelah sembilan bulan berkencan, Bayu dan Melody memutuskan hubungan cukup stabil untuk diketahui anak. Mereka tidak menyampaikan bersama-sama lebih dulu. Setiap orang tua berbicara kepada anak masing-masing dengan mantan pasangan mengetahui waktu dan isi umum.
Melody serta Arkan bertemu dengan psikolog anak. Levi sudah berusia delapan tahun dan memahami bahwa Bayu terkait perceraian, meski telah dijelaskan bukan penyebab tunggal. Kabar hubungan dapat memicu marah.
'Jangan minta izin Levi untuk berpacaran,' kata psikolog. 'Tapi dengarkan reaksinya dan beri waktu.'
Melody berbicara di ruang keluarga. Arkan tidak hadir agar Levi bebas bereaksi, tetapi sudah menelepon anak sebelumnya dan mengatakan dia mengetahui percakapan penting.
'Mommy dan Om Bayu sedang saling mengenal sebagai pasangan,' ujar Melody. 'Kami belum akan menikah atau tinggal bersama.'
Levi langsung berdiri.
'Berarti Mommy bohong. Dulu bilang bukan gara-gara Om Bayu.'
'Perceraian Mommy dan Papa terjadi karena masalah pernikahan kami. Setelah itu lama sekali baru Mommy mulai berkencan.'
'Tapi Mommy senang Papa pergi.'
'Mommy sedih pernikahan selesai dan tetap boleh membangun hidup baru. Dua hal bisa benar.'
Levi masuk kamar serta membanting pintu. Melody tidak mengejar segera. Dia memberi kabar kepada Arkan. Malam itu Levi menelepon Papa dan menangis. Arkan tidak menjelekkan Melody.
'Papa juga pernah sakit hati,' katanya. 'Tapi pilihan Mommy sekarang bukan pengkhianatan kepada Papa.'
Di rumah Jasmine, Bayu menyampaikan kepada Lody. Jasmine sudah memberi pengantar bahwa Ayah mungkin suatu hari punya pasangan. Lody tampak senang.
'Aunty Mel jadi ibu baru Lody?'
'Tidak. Bunda tetap Bunda. Aunty Mel tetap mamanya Levi dan orang yang sedang dekat dengan Ayah.'
'Terus kita tinggal bareng?'
'Tidak sekarang.'
Kegembiraan Lody membuat Jasmine sedih ketika mendengar laporan. Dia meminta Bayu tidak memuji reaksi anak seolah mendukung hubungan adalah sikap yang benar. Lody kelak boleh marah atau bingung.
Perkenalan pertama sebagai pasangan dilakukan di taman selama satu jam. Jasmine mengantar Lody dan pergi setelah memastikan rencana. Arkan mengantar Levi, yang memilih duduk jauh dari Melody.
Bayu tidak mencoba mengambil peran ayah bagi Levi. Dia menyapa dan bertanya permainan apa yang ingin dilakukan. Levi menjawab tidak mau bermain. Lody berlari ke ayunan.
Melody ikut duduk dekat putranya.
'Kamu nggak harus senang hari ini.'
'Kalau aku nggak suka Om Bayu, Mommy putus?'
'Perasaan kamu akan Mommy dengar. Tapi keputusan pasangan milik orang dewasa, sama seperti Mommy nggak memilih temanmu.'
'Nggak adil.'
'Memang terasa begitu.'
Levi akhirnya bermain bola dengan Lody. Bayu dan Melody duduk terpisah beberapa langkah, tidak bergandengan. Pertemuan berakhir sesuai waktu meski anak-anak mulai menikmati permainan. Konsistensi menunjukkan orang dewasa memegang rencana.
Pada minggu berikutnya Levi menolak hadir. Melody tidak memaksa. Pertemuan berikut dijadwalkan sebulan kemudian. Hubungan Bayu dan Melody tetap berlangsung pada waktu tanpa anak.
Lody mulai menggambar empat rumah dan menempatkan Melody dekat Bayu. Jasmine merasa tergantikan. Dia membawa perasaan ke terapi, bukan meminta anak menghapus gambar. Damar mendengarkan tanpa memaksa mengambil peran baru.
Arkan juga kesulitan ketika Levi bercerita Bayu pandai fotografi. Dia hampir menanggapi sinis, lalu bertanya apa yang dipelajari. Levi mengatakan Bayu mengajarinya tidak memotret orang tanpa izin. Arkan mengakui itu pelajaran baik.
Ketika sekolah mengadakan hari keluarga, formulir hanya menyediakan dua kursi per anak. Levi memilih Melody dan Arkan. Lody memilih Jasmine dan Bayu. Pasangan baru tidak hadir. Bayu serta Melody menerima tanpa merasa disembunyikan.
Enam bulan berlalu sebelum Levi bersedia makan bersama Bayu. Dia menetapkan Arkan harus tahu tempatnya. Melody menunjukkan pesan persetujuan pengasuhan tanpa membuat Levi menjadi pengawas. Saat makan, Bayu tidak membahas masa lalu atau mengatakan pernah mencintai Mommy sejak dulu.
'Om mau nikahin Mommy?' tanya Levi langsung.
'Belum ada rencana. Kalau suatu hari ada, kamu akan diberi tahu sebelum perubahan terjadi.'
'Om jangan bikin Mommy nangis terus pergi.'
Bayu menahan rasa bersalah.
'Om pernah melakukan itu. Om sedang belajar tidak mengulang. Tapi Om nggak akan minta kamu percaya cepat.'
Jawaban itu tidak membuat Levi memeluknya. Anak tersebut kembali makan. Kepercayaan anak bukan hadiah bagi pengakuan orang dewasa.
Memberi tahu anak bukan tahap yang selesai dalam satu percakapan. Pertanyaan muncul lagi saat jadwal berubah, gambar dibuat, atau teman sekolah bergosip. Bayu dan Melody mengulang jawaban tanpa meminta Levi serta Lody memberkati kisah cinta mereka. Anak-anak diberi informasi, waktu, dan batas. Masa depan orang dewasa tetap tidak diletakkan di tangan kecil mereka.
Sekolah ikut membantu mencegah gosip. Guru tidak mengumumkan hubungan orang tua dan mengingatkan wali murid tidak membahas keluarga lain di depan anak. Ketika seorang siswa mengatakan Mommy Levi merebut Ayah Lody, sekolah menanganinya tanpa menyebut siapa sumber rumor.
Melody serta Bayu ingin membela diri di grup, tetapi Jasmine dan Arkan menilai pernyataan publik justru memperbesar. Mereka sepakat meminta sekolah menyampaikan aturan privasi umum. Anak-anak diberi kalimat untuk menjawab bahwa keluarga mereka bukan bahan permainan.
Levi tetap mendengar kata perebut. Dia bertanya kepada Arkan apakah Melody merebut Bayu. Arkan menelan sakit hati sebelum menjawab.
'Ayah Lody sudah bercerai sebelum Mommy mulai berkencan. Mommy pernah membuat kesalahan karena bertemu diam-diam, tapi perceraian orang dewasa punya banyak sebab.'
'Papa masih marah?'
'Kadang. Marah Papa bukan tugas Levi.'
Lody bertanya hal serupa kepada Jasmine. Jasmine tidak memutihkan sejarah Bayu, tetapi menegaskan dirinya memilih perceraian dan tidak direbut.
'Bunda bukan barang yang bisa diambil orang,' katanya.
Jawaban terkoordinasi tersebut melindungi anak tanpa membuat mantan pasangan berbohong demi citra Bayu dan Melody. Kesalahan disebut dengan bahasa sesuai umur, sementara rincian tetap privat.
Pada ulang tahun Levi, dia mengundang Bayu sebagai pasangan Mommy tetapi meminta Bayu datang hanya saat makan, bukan seluruh acara keluarga. Bayu menerima. Arkan hadir sejak awal. Melody tidak memaksa foto bersama.
Bayu membawa buku fotografi anak dan mengucapkan selamat. Levi membuka hadiah, berterima kasih, lalu kembali bermain dengan Papa. Bayu tidak merasa disisihkan. Hubungan dengan anak tidak tumbuh lewat satu gestur besar; ia mengikuti kecepatan anak dan tempat ayah kandung yang tetap ada.
Di akhir hari, Levi sendiri meminta satu foto dengan Bayu dan Melody. Foto itu disimpan privat. Bukan pengumuman keluarga baru, hanya bukti bahwa pada hari tersebut seorang anak merasa cukup aman untuk berdiri dekat dua orang tanpa mengkhianati papanya.