~NOW~
Pertemuan Bayu dan Melody berlangsung sebulan sekali selama enam bulan. Mereka tidak memilih tempat yang menyimpan kenangan lama. Tidak ada kolam pemancingan, restoran rooftop, atau rumah Bandung yang sudah menjadi milik orang lain.
Pada pertemuan kelima, Bayu mengajak Melody ke pameran foto hasil kelasnya. Dia tidak menyebut acara itu kencan. Melody datang setelah memastikan jadwal Levi bersama Arkan dan memberi tahu konselornya.
Sebagian foto Bayu menampilkan bangku kosong, pintu, dan orang yang berjalan membelakangi kamera. Melody tersenyum geli.
'Masih dramatis ternyata.'
'Tugas kelasnya memang tentang ruang.'
'Ruang kosong semua.'
'Yang motret juga lagi belajar mengisi.'
Bayu tidak meminta pujian. Ketika Melody mengatakan satu foto terlalu gelap, dia menerima tanpa merajuk. Perubahan kecil itu membuat Melody lebih percaya daripada semua kalimat rindu.
Mereka makan di warung setelah pameran. Melody menceritakan kesulitan mengelola dua usaha dan rasa bersalah karena sering meminta Jinan mengambil alih. Bayu mendengarkan tanpa menawarkan mengatur keuangan. Dulu dia mudah menjadikan solusi sebagai bukti kegunaan.
'Kamu nggak mau kasih saran?' tanya Melody.
'Kamu minta?'
'Belum.'
'Ya aku dengar dulu.'
Melody tertawa. Dia kemudian meminta pandangan tentang pemisahan rekening dua usaha. Bayu memberi kerangka umum dan menyarankan akuntan independen karena hubungan pribadi membuatnya tidak tepat terlibat langsung.
Pada pertemuan berikutnya, Melody mengajak Bayu berjalan pagi. Bayu terlambat dua puluh menit karena Lody lupa tugas di rumah Jasmine. Dulu dia mungkin hanya berkata macet. Kini dia mengirim kabar sebelum waktu janji, menjelaskan keterlambatan, dan memberi pilihan menjadwal ulang.
Melody menunggu. Ketika Bayu tiba, dia tetap kesal.
'Aku menghargai kabarnya, tapi waktu aku tetap terbuang.'
'Iya. Maaf. Lain kali kalau jadwal anak terlalu rapat, aku nggak akan pasang janji pagi.'
Tidak ada pembelaan panjang. Mereka melanjutkan jalan dan rasa kesal mereda tanpa dipaksa hilang.
Masa lalu tetap muncul. Seorang penjual bunga memanggil Bayu dengan sebutan A'a. Melody terdiam karena panggilan itu dahulu miliknya. Bayu tidak menggunakan kesempatan untuk merayu.
'Kalau kamu ingin panggil aku begitu lagi, jangan karena kebiasaan,' katanya.
'Aku belum ingin.'
'Oke.'
Mereka juga membahas agama, uang, keluarga, seksualitas, dan ekspektasi pernikahan dengan bantuan daftar dari konselor. Bukan percakapan romantis, tetapi hal-hal itulah yang dahulu mereka gantikan dengan asumsi.
Bayu mengatakan dia tidak ingin menikah cepat jika akhirnya berpacaran. Melody juga tidak mau tinggal bersama sebelum anak-anak siap dan hubungan stabil. Mereka sepakat tidak memiliki anak bersama; keduanya ingin fokus pada Levi dan Lody. Keputusan itu dapat ditinjau, tetapi tidak dijadikan janji tersembunyi.
Tentang keluarga, Melody menegaskan Ana tidak akan diberi ruang menilai kelayakan Bayu. Namun Bayu juga tidak boleh memakai pengalaman lama untuk menganggap seluruh keluarga Khawas merendahkannya. Luthfi dinilai dari tindakannya sekarang.
Bayu bertemu Luthfi secara kebetulan ketika menjemput dokumen sekolah. Luthfi menyapanya dan meminta bicara lain waktu, bukan menginterogasi di lorong. Bayu setuju setelah berdiskusi dengan Melody.
Pertemuan dua laki-laki itu berlangsung di kantor Luthfi. Luthfi mengatakan tidak akan menghalangi, tetapi memprioritaskan kestabilan Levi. Bayu menjawab dirinya juga bertanggung jawab kepada Lody dan tidak meminta penerimaan keluarga sebagai syarat harga diri.
'Dulu saya minder sebelum keluarga Anda sempat menolak,' ujar Bayu.
'Dulu saya juga terlalu membiarkan Ana mengatur siapa yang pantas berada dekat adik saya.'
Mereka tidak menjadi akrab. Namun percakapan tersebut menutup satu ruang asumsi yang pernah menghancurkan banyak tahun.
Setelah enam bulan, Bayu bertanya apakah Melody bersedia menyebut pertemuan berikutnya sebagai kencan. Dia bertanya melalui percakapan langsung, bukan pesan yang memungkinkan keduanya bersembunyi.
Melody meminta waktu tiga hari. Bayu tidak menghilang atau menagih setiap jam. Dia mengurus Lody, bekerja, dan menunggu jawaban pada waktu yang disepakati.
'Iya,' kata Melody pada hari ketiga. 'Satu kencan. Bukan langsung balikan.'
'Aku mengerti.'
'Dan kalau nanti aku bilang tidak lanjut, jangan pindah kota.'
Bayu tertawa lalu serius.
'Aku akan jawab, bukan menghilang.'
Kencan pertama mereka terjadi sembilan tahun terlambat dan setelah terlalu banyak kehidupan berubah. Tidak ada janji selamanya. Mereka hanya makan malam, membayar bergantian, dan pulang ke rumah masing-masing. Justru karena tidak ada yang direbut atau disembunyikan, satu malam sederhana itu terasa seperti perkenalan yang dahulu mereka lewatkan.
Kencan pertama sebagai kencan resmi tidak berjalan sempurna. Restoran yang dipilih Melody terlalu ramai dan Bayu tampak tegang melihat harga. Melody hampir menawarkan membayar seluruhnya dengan nada mengejek, lalu berhenti.
'Kalau tempat ini bikin nggak nyaman, kita pindah,' katanya.
'Aku mampu bayar, cuma belum terbiasa memilih makanan semahal ini.'
'Aku yang memilih. Kita bisa bagi atau aku bayar bagian lebih besar.'
Bayu menerima pembagian proporsional tanpa menganggap harga dirinya runtuh. Mereka pindah ke meja luar yang lebih tenang dan memesan lebih sedikit. Uang dibicarakan sebagai kondisi, bukan ukuran siapa lebih berkuasa.
Di tengah makan, Melody menerima telepon dari toko. Seorang pemasok gagal mengirim bahan. Refleksnya mengambil alih seluruh masalah. Bayu mengingatkan mereka punya batas waktu kencan, tetapi tidak meminta Melody mematikan ponsel saat usaha benar-benar membutuhkan keputusan.
Melody menghubungi Sagara, memberi kewenangan mengganti pemasok sampai nilai tertentu, lalu kembali ke meja. Dia meminta maaf karena sistem usaha masih terlalu bergantung padanya.
'Aku dulu mengeluh kamu sibuk,' kata Bayu. 'Ternyata kita sama-sama mudah merasa hanya kita yang bisa menyelesaikan.'
Mereka menutup kencan dengan mengevaluasi, sesuatu yang terdengar tidak romantis tetapi berguna. Melody menyukai Bayu bertanya sebelum memberi nasihat. Bayu menyukai Melody menyatakan ketidaknyamanan tanpa sindiran. Keduanya juga mencatat hal yang perlu diperbaiki.
Saat berpisah, Bayu tidak menawarkan mengantar karena kendaraan Melody ada. Dia hanya menunggu mobil keluar dari parkiran setelah Melody mengatakan nyaman. Kencan itu tidak membangkitkan masa muda. Ia memberi gambaran lebih sederhana: dua orang dewasa dengan pekerjaan, anak, uang, dan waktu terbatas yang tetap ingin menyediakan satu meja bagi satu sama lain.