~NOW~
Perceraian Bayu resmi lebih dulu. Perceraian Melody menyusul dua bulan kemudian setelah seluruh kesepakatan pengasuhan disahkan. Kabar itu tidak diumumkan di media sosial. Hanya keluarga, sekolah, kantor, dan teman dekat yang perlu mengetahui.
Pada hari putusan Melody, Bayu tidak mengirim ucapan. Dia mengetahui dari perubahan nama kontak darurat Levi di grup sekolah. Jarinya sempat mengetik, tetapi dihapus. Keduanya telah sepakat tidak memakai perceraian sebagai izin otomatis.
Konselor masing-masing menyarankan masa tanpa hubungan romantis minimal enam bulan. Bukan aturan universal, tetapi ruang untuk memastikan keputusan perceraian tidak segera diisi fantasi lama. Bayu dan Melody setuju mempertahankan komunikasi hanya melalui grup anak.
Pertemuan pertama setelah keduanya resmi lajang terjadi di pertunjukan paduan suara. Bayu duduk bersama Jasmine di baris kanan; Melody bersama Arkan di kiri. Pengaturan itu dipilih anak-anak agar mereka dapat melihat orang tua masing-masing.
Lody salah nada dan tertawa. Levi menyenggolnya agar kembali fokus. Di akhir lagu, empat orang tua bertepuk tangan. Tidak ada yang berjalan menghampiri mantan kekasih.
Setelah acara, Arkan mengajak Levi makan. Jasmine membawa Lody ke rumah ibunya yang sedang berkunjung. Bayu dan Melody kebetulan tertinggal di lorong karena guru meminta tanda tangan.
'Kamu baik?' tanya Bayu.
'Sedang belajar. Kamu?'
'Sama.'
Mereka berdiri dalam jarak aman. Bayu mengatakan tidak akan menghubungi sampai masa jeda selesai. Melody berterima kasih.
'Aku juga nggak mau kita menganggap semua ini jalan yang dibuat untuk kita,' katanya.
'Aku tahu.'
'Kalau suatu hari bicara lagi, kita datang sebagai orang sekarang. Bukan melanjutkan kalimat sembilan tahun lalu.'
Bayu mengangguk. Mereka berpisah tanpa pelukan.
Masa enam bulan berjalan lambat. Bayu menata apartemen dua kamar, mengikuti terapi, dan belajar mengasuh Lody tanpa menjadikan Jasmine petugas cadangan. Dia mulai kelas fotografi pada akhir pekan ketika bukan jadwal anak.
Melody memperluas kafe dan kembali mengikuti komunitas bisnis. Dia menjalani terapi pribadi, bukan hanya konseling pernikahan. Dia belajar membedakan kesepian dari cinta dan rasa bersalah dari tanggung jawab.
Arkan membangun rutinitas di apartemen bersama Levi. Dia berkencan sekali dengan teman kantor, lalu menyadari belum siap. Dia mengatakan jujur dan tidak memakai Melody sebagai alasan agar tampak setia.
Jasmine fokus pada jabatan barunya serta membangun hidup sosial. Ratna mengajaknya mengikuti kelas tari. Pada pertemuan pertama Jasmine merasa kikuk, tetapi senang tubuhnya bergerak bukan untuk dinilai suami atau kantor.
Anak-anak menjalani perubahan dengan naik turun. Lody kadang masih bertanya kapan Ayah pulang. Levi sesekali meminta kedua orang tuanya liburan bersama. Jawaban tetap konsisten: keluarga sudah berubah, kasih tidak hilang, dan tidak ada rencana kembali tinggal bersama.
Pada bulan keempat, Bayu melihat foto Melody di akun toko. Dia tidak menyukai atau membuka berulang kali. Dia mencatat dorongan itu dalam jurnal terapi. Rindu diakui tanpa dituruti.
Melody menemukan cangkir lama serupa yang pernah dibeli bersama Bayu. Dia menyimpannya satu hari, lalu menjual dalam kegiatan amal toko. Melepas benda bukan menghapus masa lalu. Ia hanya berhenti memberi benda tugas menjaga perasaan.
Enam bulan berakhir tanpa alarm. Bayu sadar pada minggu berikutnya. Dia menulis pesan panjang lalu menghapus. Akhirnya dia meminta melalui grup apakah Melody bersedia berbicara setelah urusan sekolah selesai, dengan pasangan pengasuhan mengetahui.
Melody memberi tahu Arkan meski tidak lagi wajib meminta izin. Arkan mengaku tidak nyaman tetapi menghargai keterbukaan. Bayu juga memberi tahu Jasmine. Jasmine mengatakan hidup pribadi Bayu bukan urusannya, selama batas Lody dijaga.
Melody menerima pertemuan di kafe yang sama tempat utang sembilan tahun dijelaskan. Kali ini tidak ada pasangan yang dibohongi, tidak ada anak yang dijadikan alasan, dan tidak ada batas waktu tersembunyi.
Mereka duduk berhadapan. Bayu tidak membuka dengan kata rindu.
'Aku ingin mengenal kamu yang sekarang,' katanya. 'Kalau kamu nggak mau, aku akan terima.'
Melody menatap wajah yang pernah memenuhi seluruh penantiannya. Perasaannya masih ada, tetapi kini bukan satu-satunya suara.
'Kita mulai sebagai dua orang yang bicara,' jawabnya. 'Bukan pasangan. Belum tentu akan menjadi pasangan.'
Bayu setuju. Mereka memesan minuman masing-masing dan membahas pekerjaan, terapi, anak, serta kesalahan tanpa mengubahnya menjadi rayuan. Pertemuan berakhir satu jam kemudian.
Mereka tidak langsung kembali. Justru untuk pertama kalinya, mereka benar-benar memulai: tanpa status yang dicuri, tanpa pasangan yang dikelabui, tanpa rumah lama menunggu dihuni. Hanya dua kursi, dua kehidupan yang telah berubah, dan kebebasan untuk mengetahui bahwa cinta lama mungkin bertahan, tetapi masa depan tetap harus mendapat persetujuan baru.
Pertemuan-pertemuan awal Bayu dan Melody dilakukan sebulan sekali. Keduanya tetap menjalani terapi sendiri. Mereka sepakat tidak memperkenalkan perubahan apa pun kepada anak sampai hubungan memiliki arah stabil minimal enam bulan.
Pada pertemuan kedua, Bayu meminta maaf karena dahulu menafsirkan permintaan waktu sebagai penghinaan. Melody mengakui dirinya juga menunggu tanpa menghubungi langsung ke kantor Medan setelah tahu alamatnya dari Teguh. Bukan untuk membagi salah rata, melainkan melihat pola mereka sama-sama berharap pihak lain membaca hati.
'Kita jago bikin asumsi jadi kenyataan,' kata Melody.
'Sekarang kalau bingung, kita tanya.'
'Dan jawaban tidak boleh dihukum.'
Mereka membuat aturan: tidak menghilang saat konflik; boleh meminta jeda dengan waktu kembali yang jelas; tidak memakai anak sebagai alasan; dan tidak membandingkan mantan pasangan. Bayu sempat menyebut Jasmine lebih sibuk daripada Melody, lalu langsung dikoreksi. Kehidupan Jasmine tidak boleh dijadikan pujian bagi perempuan lain.
Pada pertemuan keempat mereka membicarakan ketertarikan. Keduanya mengaku masih ada, tetapi sepakat tidak menyentuh lebih dari jabat tangan selama tahap awal. Batas itu terasa kaku, terutama ketika Melody menangis mengenang rumah Bandung. Bayu menawarkan tisu, bukan pelukan tanpa tanya.
Teman serta keluarga memberi reaksi berbeda. Luthfi khawatir Melody mengulang luka. Ibu Bayu menganggap kesempatan kedua sebagai jawaban doa. Keduanya menolak menjadikan restu atau kekhawatiran keluarga sebagai keputusan. Mereka belum kembali. Mereka sedang mengumpulkan bukti apakah dua orang yang kini lebih jujur benar-benar cocok, bukan hanya masih pandai merindukan.