~NOW~
Mediasi aset dimulai setelah emosi cukup stabil. Jasmine ingin mempertahankan rumah utama demi Lody, tetapi hasil penilaian menunjukkan dia harus membayar bagian Bayu dalam jumlah besar. Bayu menawarkan mengurangi nilai bagiannya. Mediator meminta mereka menjelaskan apakah itu hadiah, tanggung jawab, atau cara Bayu mempertahankan pengaruh.
'Aku cuma mau Lody tetap punya rumah,' kata Bayu.
'Lody punya rumah di mana pun kami tinggal aman,' jawab Jasmine. 'Aku nggak mau menerima kemurahan yang nanti membuatku berutang.'
Mereka memilih skema pembayaran bertahap dengan nilai wajar. Bayu tetap menanggung bagian biaya pendidikan Lody sesuai penghasilan. Aset pribadi sebelum menikah dipisahkan. Tidak ada pihak yang menyembunyikan bonus atau rekening.
Rumah Bandung yang dulu dibeli Bayu untuk masa depan bersama Melody masih dimilikinya dan disewakan. Jasmine baru mengetahui sejarah emosional rumah itu dalam konseling. Secara hukum rumah dibeli sebelum pernikahan, tetapi sebagian renovasi memakai uang bersama.
'Aku nggak mau rumah itu,' ujar Jasmine. 'Aku hanya minta kontribusi renovasi dihitung.'
Bayu setuju. Dia berniat menjual karena sadar selama ini mempertahankan bangunan sebagai monumen. Agen menemukan pembeli setelah beberapa bulan. Bayu tidak memberi tahu Melody atau menawarkan melihatnya terakhir kali.
Sementara itu Melody dan Arkan membahas rumah mereka. Melody mampu membeli bagian Arkan, tetapi Arkan khawatir Levi menganggap dirinya diusir sementara Mommy tetap memiliki semua yang familiar.
Mereka mengajak ahli anak menilai pilihan. Yang terpenting bukan kesamaan bangunan, melainkan akses, rutinitas, dan rasa memiliki di kedua tempat. Arkan memilih apartemen dua kamar dekat sekolah. Levi dilibatkan memilih warna kamar, bukan harga atau pembagian aset.
Melody membayar bagian Arkan melalui penilaian independen. Hadiah awal dari Luthfi dicatat sebagai aset pribadinya, sementara kenaikan nilai selama pernikahan dibagi sesuai kesepakatan. Luthfi tidak ikut menawar.
Ana mencoba meyakinkan Melody agar menuntut hak asuh utama karena Arkan tak lagi bekerja di perusahaan keluarga. Melody menolak.
'Pekerjaan Arkan tidak menentukan cintanya sebagai ayah.'
'Kamu terlalu lunak.'
'Aku sedang adil kepada Levi.'
Proses hukum berlangsung tanpa drama ruang sidang, tetapi tetap melelahkan. Dokumen berulang kali salah menulis nama, jadwal mediasi berbenturan, dan biaya terus muncul. Melody memahami orang tanpa uang serta dukungan akan jauh lebih sulit keluar dari pernikahan.
Dia dan Jasmine secara terpisah mencari informasi layanan bantuan hukum keluarga untuk dibagikan kepada komunitas sekolah, tanpa memakai cerita pribadi sebagai kampanye. Sekolah menyusun daftar rujukan yang dapat diakses semua wali murid.
Ketika rumah Bandung terjual, Bayu menerima satu kotak barang dari penyewa: tirai pilihan Melody dahulu, slip pinjaman lama, dan dua cangkir yang belum pernah dipakai bersama. Dia duduk di lantai apartemen dan membiarkan kenangan datang.
Bayu memotret slip untuk arsip lalu menghancurkan salinan fisiknya. Tirai disumbangkan. Cangkir dipakai bersama Lody untuk minum cokelat, setelah Bayu memastikan tidak menceritakan asalnya sebagai legenda cinta.
'Ayah kok sedih?' tanya Lody.
'Ayah baru melepas rumah lama.'
'Rumahnya nakal?'
'Nggak. Sudah waktunya dimiliki orang lain.'
Di rumah Melody, Arkan mengambil barang terakhir. Mereka membagi buku, peralatan, dan hadiah pernikahan tanpa menghitung setiap kenangan. Kamera milik Arkan tetap padanya; koleksi piring Melody tinggal. Benda dari keluarga masing-masing kembali kepada pemilik.
Levi melihat kamar kerja Papa kosong dan menangis. Arkan menunjukkan kamar baru melalui video, termasuk rak yang menunggu buku Levi. Kekosongan tidak ditutup dengan janji palsu bahwa semua akan sama.
Harga rumah akhirnya bukan angka penilaian saja. Ada biaya kesempatan, tenaga perawatan, akses keluarga, dan kenangan yang tidak dapat dibagi dua. Mediasi tidak membuat hasil sempurna. Ia hanya mencegah orang yang lebih kaya atau lebih keras mengambil semuanya.
Bayu menyerahkan kunci rumah utama kepada Jasmine setelah pembayaran pertama. Arkan menyerahkan kunci rumah lama kepada Melody, tetapi menyimpan satu akses darurat atas persetujuan bersama sampai transisi selesai. Dua laki-laki itu pergi menuju rumah baru masing-masing.
Tidak ada yang menjadi tunawisma. Namun seluruhnya belajar sebuah alamat dapat menyimpan harapan tanpa wajib dipertahankan selamanya. Rumah yang sehat bukan bangunan yang menahan orang agar tetap tinggal; ia tempat setiap penghuninya dapat pergi tanpa seluruh hidupnya disita sebagai hukuman.
Penjualan rumah Bandung menghasilkan keuntungan setelah pinjaman lunas. Bayu menyisihkan pajak, mengganti kontribusi renovasi yang menjadi hak Jasmine, lalu menaruh sisanya dalam dana tempat tinggal dan pendidikan Lody. Dia tidak menggunakan uang itu untuk membeli rumah besar sebagai bukti kesuksesan yang terlambat.
Jasmine memeriksa laporan pembayaran melalui mediator. Ketika angka sesuai, dia menandatangani penerimaan. Proses bersih tersebut tidak menghapus kebohongan pernikahan, tetapi mencegah luka emosional berubah menjadi ketidakadilan finansial.
Melody juga memeriksa kerja tak berbayar selama pernikahan. Dia memang memiliki modal besar, tetapi Arkan selama bertahun-tahun mengurus legalitas usaha dan membantu kontrak tanpa honor terpisah. Mereka menghitung kontribusi secara wajar. Arkan menolak angka yang terlalu besar, lalu mediator mengingatkan rendah hati tidak boleh membuat kerja hilang.
Dara's Bakery dan Melody's Coffee tetap sepenuhnya milik struktur usaha lama, tetapi beberapa keuntungan selama pernikahan masuk aset bersama sesuai catatan. Jinan membantu menyediakan dokumen, bukan memihak adik ipar. Keterbukaan melindungi hubungan bisnis keluarga setelah perceraian.
Ketika Arkan pindah, tetangga bertanya apakah rumah dijual. Melody menjawab tidak dan tidak menjelaskan skandal. Dia mengganti nama kontak keamanan agar Arkan tetap boleh masuk saat menjemput Levi, tetapi wajib memberi kabar. Kunci akses darurat disimpan dalam amplop tersegel yang kelak dikembalikan.
Rumah Bayu, rumah Jasmine, rumah Melody, dan rumah Arkan akhirnya memiliki perlengkapan dasar anak masing-masing. Tidak semuanya sama mewah. Psikolog mengingatkan kenyamanan bukan kompetisi. Anak lebih membutuhkan orang tua yang tidak meremehkan rumah lain daripada dua kamar identik.
Pada akhir mediasi, keempat orang dewasa secara kebetulan bertemu di kantor notaris sekolah. Mereka saling menyapa dan menunggu nomor antrean. Tidak ada yang membahas siapa kini bebas. Kertas-kertas di tangan mereka memperlihatkan kebebasan memiliki biaya, tanggal, tanda tangan, dan kewajiban yang terus berjalan.
Saat nama Bayu dipanggil, dia berdiri dan menjatuhkan satu dokumen. Arkan membantu mengambil. Mereka berterima kasih singkat. Tidak ada persahabatan, tetapi juga tidak ada duel. Harga rumah dan pernikahan telah dihitung sejauh mungkin; harga martabat ditentukan oleh cara mereka berhenti membuat orang lain membayar lebih banyak.