~NOW~
Arkan menerima tawaran kerja dari perusahaan konstruksi yang tidak berhubungan dengan Khawas Group. Gajinya sedikit lebih rendah, tetapi jabatan dan kontraknya tidak bergantung pada Luthfi atau statusnya sebagai suami Melody.
Dia belum langsung menerima. Selama bertahun-tahun, Arkan merasa pekerjaannya adalah bukti dia pantas masuk keluarga Khawas. Keluar sekarang dapat dianggap lari karena masalah rumah tangga.
'Kalau kamu mau tetap di Khawas karena pekerjaannya, tetaplah,' kata Melody. 'Kalau karena takut orang mengira kita akan cerai, itu alasan lain.'
'Aku nggak tahu mana yang paling besar.'
Arkan berkonsultasi dengan mentor profesional dan membuka konflik kepentingan kepada perusahaan baru. Dia juga berbicara kepada Luthfi. Kakak iparnya tidak tersinggung.
'Saya merekrut kamu karena kemampuanmu, bukan karena menikahi adik saya. Tapi saya paham kalau kamu perlu membuktikan itu di tempat lain,' ujar Luthfi.
Ana mendengar kabar tersebut dan menuduh Melody merusak karier Arkan. Arkan sendiri yang menjawab.
'Ini keputusan saya. Kak Ana nggak perlu menjadikan Melody penyebab semua pilihan laki-laki di sekitarnya.'
Ana mengingatkan beasiswa serta perkenalan yang pernah diberikannya. Arkan mengakui bantuan itu, tetapi menolak menganggap seluruh hidupnya sebagai cicilan utang. Dia sudah bekerja bertahun-tahun untuk Khawas Group dan tidak membawa data, klien, atau hak yang bukan miliknya.
Proses pengunduran diri dilakukan profesional selama dua bulan. Arkan mendokumentasikan seluruh perkara dan membantu pengganti. Melody melihat betapa serius suaminya bekerja, sesuatu yang dulu hanya dia keluhkan sebagai ketidakhadiran.
'Aku bangga sama kamu,' katanya.
'Karena keluar dari perusahaan keluargamu?'
'Karena memilih dengan sadar.'
Arkan menerima pujian tanpa menjadikannya bukti Melody mencintai. Mereka masih menjalani evaluasi tiga bulan. Konseling mulai membahas kemungkinan berpisah dengan baik, bukan sebagai ancaman.
Mereka menghitung aset, pengasuhan Levi, dan tempat tinggal. Rumah dibeli selama pernikahan tetapi sebagian uang muka berasal dari hadiah keluarga Melody. Pengacara menyarankan perjanjian tertulis. Melody menolak memakai kekayaan keluarga untuk merebut porsi lebih besar.
'Kita belum memutuskan cerai,' kata Arkan.
'Justru lebih baik membahas saat belum saling membenci.'
Levi tidak dilibatkan dalam angka, tetapi diberi informasi sesuai usia bahwa Papa mungkin bekerja di kantor baru dan jadwal berubah. Dia senang karena kantor baru lebih dekat, lalu bertanya apakah Papa akan lebih sering pulang.
'Papa akan berusaha membuat jadwal yang lebih baik,' jawab Arkan. Dia tidak menjanjikan selalu ada.
Pada minggu pertama di perusahaan baru, Arkan pulang sebelum makan malam tiga kali. Dia membantu Levi mengerjakan proyek sains dan memasak satu menu yang terlalu asin. Melody tidak otomatis mengambil alih dapur. Mereka makan hasilnya sambil minum banyak air.
Kedekatan tumbuh kecil-kecil. Arkan mengetuk pintu kamar meski kamar itu juga miliknya. Melody mengatakan kapan ingin sendiri. Saat Arkan ingin memeluk, dia bertanya. Beberapa kali Melody menjawab tidak; Arkan menerima tanpa mendiamkan atau menghukum.
Hal itu justru membuat Melody berani menjawab iya pada kesempatan lain. Pelukan tidak langsung menuju ranjang. Mereka belajar sentuhan dapat berhenti sebagai sentuhan.
Namun pada satu malam, Melody menyebut nama Bayu ketika membicarakan sekolah. Arkan kembali dingin. Dia mengaku takut semua perubahan hanya latihan agar Melody dapat pergi tanpa rasa bersalah.
'Aku nggak bisa jamin hasilnya,' jawab Melody. 'Tapi aku nggak sedang mempermainkan kamu.'
'Aku ingin dipercaya, tapi aku belum bisa.'
Mereka membawa kejadian itu ke konseling. Konselor mengatakan kepercayaan bukan keputusan tunggal; ia tumbuh dari pola yang konsisten dan tetap mungkin tidak cukup untuk mempertahankan hubungan.
Di hari terakhir Arkan di Khawas Group, Luthfi mengadakan makan siang sederhana. Tidak ada pidato keluarga. Arkan mengembalikan kartu akses dan laptop, lalu keluar gedung sebagai profesional yang menyelesaikan pekerjaan.
Ana menunggu di lobi. Dia sekali lagi meminta Arkan memikirkan loyalitas. Arkan menjawab loyalitas tidak berarti hidupnya dapat ditentukan oleh bantuan masa lalu.
'Tanpa saya, kamu nggak akan kenal Melody.'
'Benar. Saya berterima kasih. Tapi Melody bukan hadiah yang harus saya pertahankan agar bantuan Kak Ana berhasil.'
Arkan meninggalkan gedung. Di luar, Melody menunggu bersama Levi bukan untuk menjemput orang yang diselamatkan, melainkan merayakan awal kerja baru. Levi menyerahkan kartu bertuliskan selamat menjadi orang kantor baru.
Arkan tertawa dan memeluk anaknya. Dia menatap Melody, lalu mengulurkan tangan. Melody menerimanya. Mereka berjalan menuju mobil tanpa tahu apakah kelak tetap sebagai suami istri. Namun langkah Arkan tidak lagi berada di bawah bayangan Khawas atau Bayu. Jika Melody memilihnya nanti, dia ingin dipilih sebagai dirinya. Jika tidak, hidupnya tetap memiliki arah yang bukan sekadar sisa dari keluarga istrinya.
Perusahaan baru menguji Arkan dengan perkara sengketa lahan yang melibatkan anak usaha lama Khawas. Dia mengungkap hubungan keluarga dan meminta tidak menjadi pengambil keputusan tunggal. Pimpinannya menunjuk tim lain, tetapi tetap meminta analisis hukum terbatas yang tidak memakai informasi rahasia.
Luthfi menghubungi Arkan sebagai pihak perusahaan. Percakapan mereka formal, tidak membawa Melody. Arkan memberi jawaban sesuai prosedur dan menolak undangan makan yang dapat menimbulkan kesan negosiasi di luar catatan. Sengketa akhirnya diselesaikan melalui mediasi oleh tim berbeda.
Keputusan Arkan menjaga batas membuat perusahaan barunya percaya, tetapi beberapa mantan kolega menyebutnya sok bersih. Dia belajar kemandirian tidak selalu disambut tepuk tangan. Keluar dari bayangan Khawas berarti tidak menggunakan akses keluarga saat menguntungkan dan menyangkalnya saat merugikan.
Di rumah, perubahan jadwal kerja memberi Arkan kesempatan mengikuti pertemuan guru Levi. Dia datang sendiri karena Melody menjaga toko. Guru menjelaskan Levi pintar tetapi mulai menekan teman yang lebih lambat. Arkan tidak membanggakan kecerdasan anaknya. Dia berdiskusi tentang empati dan tantangan yang tidak menjadikan siswa lain alat latihan.
Malamnya Arkan serta Melody mengajak Levi membuat aturan belajar baru. Levi boleh membantu jika diminta, tetapi tidak mengambil alih atau mengejek. Arkan melihat peran ayah tidak otomatis hadir hanya karena tinggal serumah. Seperti karier dan pernikahan, ia membutuhkan waktu yang benar-benar dipilih, bukan sisa setelah semua ambisi selesai.
Saat menerima gaji pertama, Arkan membawa pulang martabak, bukan hadiah mahal. Melody membuat teh. Mereka merayakan pekerjaan yang menjadi miliknya sendiri. Apa pun hasil pernikahan nanti, Arkan tidak lagi perlu tinggal demi mempertahankan kartu akses, dan Melody tidak perlu mencintai sebagai pembayaran atas keamanan yang diberikan keluarganya.