~NOW~
Atasan Jasmine menawarkan promosi menjadi kepala biro. Jabatan itu disertai kenaikan gaji, tetapi juga perjalanan lebih sering. Dulu Jasmine akan langsung menerima lalu meminta Bayu menyesuaikan jadwal Lody. Kini dia meminta satu minggu untuk mempertimbangkan.
Dia tidak ingin menolak hanya agar tampak menjadi ibu yang lebih baik setelah rumah tangganya terguncang. Dia juga tidak ingin menerima sebagai pelarian. Jasmine meminta rincian beban kerja, kewenangan mendelegasikan, serta dukungan untuk orang tua.
Atasannya terkejut karena sebelumnya Jasmine terkenal selalu siap.
'Saya tetap serius bekerja, Pak. Justru karena itu saya perlu tahu pekerjaan yang sebenarnya, bukan hanya gelarnya.'
Di konseling, Jasmine membahas tawaran tanpa menanyakan izin Bayu. Mereka sedang terpisah, tetapi jadwal Lody akan terdampak. Bayu mengatakan sanggup mengambil hari lebih banyak jika promosi diterima.
'Aku nggak mau keputusan karierku dibayar Lody dengan kehilangan Bunda lagi,' ujar Jasmine.
'Kamu bisa negosiasi. Kalau perusahaan menolak, baru kamu memilih berdasarkan informasi.'
Jasmine mengajukan jadwal perjalanan maksimum, satu hari kerja dari rumah, dan wakil yang berwenang. Dua syarat diterima, satu dinegosiasikan. Dia akhirnya menerima jabatan dengan masa evaluasi enam bulan.
Keputusan itu membuat ibunya di Pontianak marah. Menurut sang ibu, Jasmine seharusnya mengurangi karier untuk menyelamatkan pernikahan.
'Pernikahan saya bukan rusak karena satu perjalanan kerja, Bu,' jawab Jasmine.
'Tapi laki-laki butuh dilayani.'
'Bayu butuh jujur. Saya juga.'
Jasmine tidak lagi menceritakan seluruh masalah kepada ibunya karena nasihat tersebut selalu menempatkan tanggung jawab pada istri. Dia memilih seorang teman lama, Ratna, sebagai pendamping emosional di luar konseling.
Ratna mendengarkan tanpa langsung menyuruh cerai. Dia bertanya apa yang Jasmine inginkan jika rasa malu terhadap orang lain dihapus. Jasmine ingin rumah tempat dirinya tidak harus memohon disentuh, ditanya kabar, atau dianggap penting.
'Apa Bayu bisa memberi itu?'
'Aku belum tahu. Selama ini aku juga nggak pernah benar-benar meminta. Aku cuma berharap dia tahu.'
Pada pertemuan dengan Bayu, Jasmine menyampaikan kebutuhan secara konkret: percakapan tanpa ponsel dua kali seminggu, pembagian tugas yang terlihat, dan afeksi yang tidak hanya muncul ketika dia sedih. Bayu berkata dapat mencoba, tetapi tidak mau memalsukan hasrat.
'Aku nggak minta kamu berpura-pura cinta,' kata Jasmine. 'Aku sedang mencari tahu apakah ada hubungan yang bisa dibangun dari kejujuran yang terlambat.'
Mereka mencoba makan malam bersama setelah Lody tidur. Lima belas menit pertama dipenuhi pembahasan sekolah. Jasmine lalu menceritakan ketakutannya memimpin biro. Bayu mendengarkan dan bertanya, bukan memberi solusi. Sebaliknya Bayu mengakui dirinya takut kehilangan Lody jika mereka bercerai.
'Aku nggak akan menjauhkan Lody selama kamu aman buat dia,' ujar Jasmine.
'Terima kasih.'
'Tapi jangan jadikan rasa takut itu alasan pulang sebelum kita siap.'
Bayu tetap di apartemen. Mereka mulai berkencan seminggu sekali dengan aturan tidak membahas Melody lebih dari waktu yang disepakati. Tujuannya mengenal siapa mereka sekarang, bukan meniru awal hubungan yang tidak pernah benar-benar intim.
Pada kencan kedua, Bayu bertanya musik yang disukai Jasmine. Dia tidak tahu meski sudah menikah tujuh tahun. Jasmine tertawa pahit, lalu menjawab. Jasmine pun tidak tahu Bayu ingin belajar fotografi. Mereka menyadari rumah tangga mereka dibangun lebih banyak dari jadwal daripada rasa ingin tahu.
Namun kemajuan tidak lurus. Suatu malam Jasmine melihat Bayu membaca pesan grup yang ditulis Melody. Wajah suaminya berubah lembut. Jasmine pulang lebih awal dan membatalkan makan malam.
Bayu tidak mengejar ke rumah. Dia mengirim satu pesan mengakui pemicu dan menawarkan bicara saat Jasmine siap. Keesokan harinya Jasmine mengatakan dia tidak dapat terus mengawasi setiap ekspresi Bayu.
'Perasaan kamu mungkin masih ada. Aku harus memutuskan apakah bisa hidup mengetahui itu.'
'Aku juga harus memutuskan apakah mampu benar-benar hadir, bukan cuma menahan diri.'
Masa evaluasi pernikahan diperpanjang dua bulan. Jasmine tidak menganggap penundaan sebagai kelemahan. Dia menjalani jabatan baru, mengurus Lody, menemui teman, dan belajar bahwa identitasnya tidak berhenti sebagai istri yang tidak dicintai.
Ketika diminta mengisi formulir kontak darurat kantor, dia menulis Ratna sebagai kontak kedua setelah Bayu. Dulu hanya nama suami yang dianggap cukup. Kini Jasmine membangun jaringan yang tidak bergantung pada satu hubungan.
Dia belum memilih bertahan atau pergi. Namun untuk pertama kali, pertanyaan itu dijawab dengan suaranya sendiri, bukan suara ibu, atasan, Bayu, atau ketakutan terhadap status janda. Apa pun keputusannya nanti, Jasmine tidak lagi bersedia menjadi tokoh baik yang diam agar cerita cinta orang lain tampak indah.
Dalam masa evaluasi jabatan, Jasmine melakukan kesalahan. Dia menyetujui perjalanan staf tanpa memeriksa apakah staf tersebut punya kebutuhan pengasuhan. Perempuan itu menerima karena takut dianggap tidak berdedikasi. Jasmine mengenali pola yang pernah menjeratnya.
Dia meminta maaf dan mengubah prosedur penugasan. Perjalanan dibicarakan lebih awal, alasan menolak tidak harus diumumkan kepada tim, dan kesempatan karier tidak hanya diberikan kepada orang yang bebas meninggalkan rumah kapan saja. Atasannya menilai aturan itu memperlambat, tetapi hasil uji coba justru mengurangi pembatalan.
Keberhasilan tersebut membuat Jasmine memahami ambisinya bukan musuh keluarga. Cara lembaga menganggap pekerja tidak memiliki hidup di luar kantorlah yang perlu ditantang. Dia tidak harus memilih menjadi ibu atau pemimpin jika struktur dan pembagian rumah benar-benar berubah.
Hubungannya dengan Bayu tetap rapuh. Pada satu kencan mereka tertawa sungguh-sungguh saat mengingat kesalahan memasang popok Lody. Jasmine kemudian menangis karena momen hangat membuatnya ingin melupakan semua luka. Bayu tidak memakai kelembutan itu untuk meminta pulang.
'Kita boleh senang malam ini tanpa memutuskan apa pun,' katanya.
Jasmine mengangguk. Dia mulai membedakan memaafkan dari mempertahankan pernikahan. Maaf dapat diberikan agar kemarahan tidak mengendalikan hari, sementara kepercayaan membutuhkan bukti dan keputusan tinggal tetap miliknya.
Dia mengatur konsultasi hukum untuk memahami hak jika berpisah. Bayu mengetahuinya dari Jasmine sendiri dan tidak menganggap langkah itu pengkhianatan. Informasi membuat pilihan lebih bebas. Setelah konsultasi, Jasmine justru merasa lebih tenang menjalani evaluasi karena bertahan tidak lagi terasa sebagai satu-satunya jalan aman secara ekonomi atau sosial.