~NOW~
Konselor meminta Melody membayangkan Bayu tidak pernah kembali. Apakah dia ingin mempertahankan pernikahan dengan Arkan? Melody tidak dapat menjawab pada sesi pertama. Dia sadar selama ini setiap keputusan diukur terhadap Bayu: menikah karena Bayu pergi, dingin karena Bayu masih tinggal dalam hati, dan kini ragu karena Bayu muncul.
'Saya ingin Anda menilai Arkan tanpa menjadikannya pilihan kedua atau penghalang pilihan pertama,' kata konselor.
Melody pulang membawa tugas menuliskan kehidupan yang dia jalani, bukan yang gagal terjadi. Delapan tahun bersama Arkan berisi kelahiran Levi, usaha kafe, kematian kerabat, pertengkaran, liburan, dan ribuan makan malam. Beberapa kenangan hangat tidak langsung tampak karena tidak memiliki intensitas cinta mudanya.
Dia mengingat Arkan menunggu di luar ruang bersalin sepanjang malam. Arkan belajar mengganti popok meski canggung. Ketika Melody mengalami perdarahan setelah melahirkan, Arkan menangis di musala rumah sakit. Semua itu nyata. Begitu juga kesepiannya saat Arkan terus bekerja dan rasa terpaksa di ranjang.
Pada jadwal bicara berikutnya, Melody meminta Arkan menceritakan alasan menikahinya. Arkan mengatakan awalnya tertarik sejak diperkenalkan Ana. Dia tahu Melody tidak mencintainya, tetapi percaya kesabaran akan membuatnya menang.
'Kamu menikah dengan harapan aku berubah,' kata Melody.
'Iya. Dan aku pakai semua yang kuberikan sebagai alasan kamu seharusnya mencintai aku.'
Arkan mengakui kebaikannya tidak selalu tanpa tuntutan. Dia menerima pernikahan yang timpang karena posisi di Khawas Group, kedekatan dengan keluarga, dan kebanggaan dipilih Melody juga menguntungkannya. Cinta tulus dapat bercampur ambisi.
'Kak Ana yang mengenalkan kita. Apa dia tahu tentang Bayu?'
'Aku nggak tahu waktu itu. Tapi Kak Ana selalu bilang ada laki-laki yang nggak pantas buat kamu.'
Melody menemui Ana. Hubungan Ana dan Luthfi sudah lama retak karena sengketa saham, tetapi Ana tetap ibu Dani dan bagian masa lalu keluarga. Pertemuan dilakukan di tempat umum.
Ana tidak menyangkal pernah mengetahui Bayu. Dia melihat Melody beberapa kali dijemput laki-laki sederhana di Bandung dan meminta staf mencari informasi. Menurutnya Bayu tidak akan mampu mengikuti kehidupan keluarga Khawas.
'Kak Ana menyuruh orang mengawasi aku?'
'Saya melindungi keluarga.'
'Apa Kak Ana pernah bicara sama Bayu?'
Ana menjawab tidak. Dia hanya mempercepat perkenalan dengan Arkan ketika Melody kembali ke Jakarta dalam keadaan patah hati. Melody marah, tetapi tidak dapat menimpakan seluruh pernikahannya kepada Ana. Keputusan menerima Arkan tetap miliknya.
'Kak Ana membantu menciptakan keadaan, tapi aku yang bilang iya,' ujar Melody.
Ana tampak tidak menyesal. Dia mengatakan Arkan memberi hidup stabil. Melody menjawab stabilitas tanpa kejujuran telah melukai semua orang.
Setelah pertemuan, Melody tidak menghubungi Bayu untuk memberitahu. Informasi itu tidak mengubah fakta Bayu pergi atas pilihannya sendiri. Dia membawanya ke konseling dan kemudian menceritakan kepada Arkan.
Arkan merasa dipakai Ana sebagai alat, tetapi mengakui dia bersedia. Mereka mulai memisahkan pernikahan dari utang keluarga. Arkan berkonsultasi mengenai pilihan bekerja di luar Khawas Group. Dia tidak ingin keputusan bertahan bersama Melody dipengaruhi takut kehilangan jabatan.
Luthfi mengetahui masalah mereka dari Arkan, bukan gosip. Dia datang menemui Melody tanpa menghakimi.
'Abang akan dukung apa pun keputusanmu, tapi jangan meminta perusahaan menghukum Arkan atau melindungimu dari akibat pribadi,' katanya.
'Aku nggak akan.'
Luthfi juga meminta maaf karena dahulu terlalu banyak membiarkan Ana mengatur hidup adiknya. Melody menerima permintaan maaf tanpa mengatakan semua sudah selesai.
Dalam sesi berikutnya, konselor mengulang pertanyaan: jika Bayu tidak ada, apakah Melody memilih Arkan? Kali ini Melody berkata dia belum memilih bertahan, tetapi ingin mengenal pernikahan mereka tanpa bayangan orang ketiga selama tiga bulan.
Dia menghapus nomor Bayu dari kontak pribadi setelah menyalin ke grup anak. Nomor itu tidak diblokir karena keadaan darurat mungkin terjadi, tetapi dia berjanji tidak membuka percakapan langsung. Bayu menerima saat mendapat pemberitahuan melalui grup.
Melody juga berhenti menunggu pesan. Setiap dorongan memeriksa ponsel dicatat, lalu dialihkan pada sesuatu yang dipilihnya sendiri: berjalan, bekerja di toko, atau duduk tanpa melakukan peran istri dan ibu.
Malam pertama terasa kosong. Arkan membaca di sisi lain ranjang. Melody bertanya apakah dia boleh menyandarkan kepala di bahunya. Arkan bertanya apakah itu benar-benar diinginkan. Melody menjawab iya. Mereka duduk begitu selama beberapa menit tanpa menganggapnya tanda pernikahan sudah pulih.
Melody yang dahulu menunggu Bayu menelepon telah menentukan banyak hidupnya dari ketidakhadiran seseorang. Kini dia tidak menunggu Bayu dan tidak menjanjikan Arkan kemenangan. Untuk pertama kali, dia berusaha memilih dari tempat yang tidak dibangun oleh siapa yang datang atau pergi.
Tiga bulan tanpa komunikasi pribadi tidak membuat bayangan Bayu lenyap. Melody malah bermimpi tentang Bandung dan bangun dengan rasa rindu. Dulu dia akan menganggapnya pertanda. Kini dia mencatat mimpi tersebut lalu melanjutkan hari. Pikiran tidak sama dengan perintah.
Dia kembali aktif di kafe bukan untuk menghindari rumah, tetapi menetapkan jam kerja yang jelas. Sagara diberi kewenangan lebih besar beserta kenaikan gaji, bukan hanya tambahan tugas. Melody menyadari selama ini dia menyebut usaha sebagai miliknya, padahal orang lain menjaga operasional ketika dia sibuk menjadi ibu.
Arkan datang sekali untuk makan siang tanpa pemberitahuan. Melody senang melihatnya, lalu menegaskan kunjungan mendadak tidak selalu nyaman. Arkan meminta maaf dan berikutnya membuat janji. Batas kecil tersebut menjadi latihan bagi percakapan yang lebih besar.
Pada akhir bulan kedua mereka berkencan di tempat baru, bukan lokasi yang pernah dikunjungi bersama Bayu. Melody memilih restoran tanpa membandingkan harga, makanan, atau cara Arkan memegang tangannya. Arkan pun tidak bertanya apakah dirinya lebih baik.
'Aku baru sadar kita jarang saling kenal di luar peran,' kata Melody.
'Apa yang mau kamu tahu?'
Melody bertanya hal sederhana: pekerjaan apa yang Arkan inginkan jika tidak perlu membuktikan diri, kota mana yang ingin dikunjungi, dan apa yang membuatnya takut. Arkan balik bertanya. Mereka menemukan jawaban yang tidak pernah muncul dalam delapan tahun.
Malam itu Melody memilih memeluk Arkan. Setelahnya dia tetap meminta tidur sendiri. Arkan menerima keduanya tanpa menghitung pelukan sebagai uang muka kedekatan berikutnya. Melody tidak tahu apakah cinta akan tumbuh, tetapi setidaknya hubungan mereka mulai berisi dua manusia yang terlihat, bukan istri yang menunggu dan suami yang berharap dibalas.