~NOW~
Ulang tahun Lody jatuh pada masa pisah rumah. Jasmine ingin merayakan di rumah, sedangkan Bayu mengusulkan tempat bermain agar anak tidak melihat kamar ayah kosong. Perdebatan mereka berlangsung melalui pesan selama dua hari sampai konselor meminta keduanya bertanya kepada Lody.
'Lody mau makan kue sama Ayah, Bunda, Levi, dan Aunty Mel,' jawabnya.
Nama terakhir membuat Jasmine menegang. Bayu tidak mencoba membujuk. Dia mengatakan daftar tamu tetap keputusan bersama orang tua dan beberapa orang mungkin tidak dapat hadir.
Jasmine menghubungi Melody sendiri. Dia tidak mengundang sebagai teman, hanya menanyakan apakah Levi boleh datang ditemani Arkan. Melody menjawab Arkan yang akan mengantar dan menunggu. Dia tidak akan hadir jika Jasmine belum nyaman.
'Terima kasih sudah nggak membuat saya harus bilang tidak,' ujar Jasmine.
Pesta kecil berlangsung di tempat bermain sekolah. Bayu dan Jasmine menjadi tuan rumah bersama tanpa berpura-pura mesra. Arkan datang bersama Levi. Melody menyiapkan kue melalui Dara's Bakery, tetapi meminta nama tokonya saja yang dicantumkan.
Lody kecewa Aunty Mel tidak datang. Jasmine berjongkok dan menjelaskan orang dewasa kadang menjaga jarak agar semua merasa aman.
'Aunty marah sama Lody?'
'Tidak. Dia tetap sayang sebagai orang tua temanmu.'
Bayu mendengar dan bersyukur Jasmine tidak menanamkan permusuhan. Namun dia juga melihat harga yang dibayar istrinya untuk tetap tenang di pesta anak yang namanya mengandung rahasia.
Ketika meniup lilin, Lody meminta Ayah dan Bunda berdiri di sisi berbeda. Dia menarik Levi ke tengah. Foto itu tidak menyerupai keluarga sempurna dalam iklan, tetapi wajah anak-anak benar-benar gembira.
Seorang ibu wali murid bertanya mengapa Bayu tinggal terpisah. Jasmine menjawab singkat bahwa itu urusan keluarga. Ketika ibu tersebut terus menggali, Arkan mengubah topik ke kue. Untuk pertama kali dia membantu keluarga Bayu tanpa merasa sedang melindungi saingan.
Seusai pesta, Bayu dan Jasmine membagi hadiah berdasarkan tempat penggunaannya. Barang sekolah tinggal di rumah utama; boneka yang dipilih Lody ikut ke apartemen. Mereka tidak menyuruh anak memilih rumah mana yang lebih disukai.
Levi pulang dengan Arkan dan menceritakan Lody sedih karena Aunty Mel absen. Melody memeluk putranya, tetapi tidak meminta Levi menyampaikan pesan rahasia.
'Kalau Lody tanya, bilang Mommy nggak datang karena menghormati Bundanya. Cuma itu.'
'Kenapa orang dewasa rumit?'
'Karena kami sering terlambat bilang jujur.'
Levi berpikir sebentar lalu bertanya apakah Papa dan Mommy akan tinggal terpisah juga. Melody menjawab mereka sedang berusaha memahami hubungan, dan apa pun hasilnya Levi tetap dicintai. Dia tidak menjanjikan rumah tak akan berubah.
Malam itu Arkan memuji keputusan Melody tidak hadir. Melody mengaku hampir datang diam-diam hanya untuk melihat Lody meniup lilin. Dia membatalkan setelah menyadari kehadirannya akan memindahkan pusat pesta dari anak kepada konflik dewasa.
'Aku senang kamu jujur soal keinginannya,' kata Arkan.
'Meski jelek?'
'Keinginan bukan perbuatan. Aku perlu tahu kamu bisa memilih batas.'
Di apartemen, Bayu membuka hadiah buatan Lody: gambar rumah dengan dua pintu dan jalan di antara keduanya. Bayu bertanya siapa yang tinggal di sana.
'Ayah di sini, Bunda di sana. Lody bisa jalan, tapi kalau hujan Ayah antar.'
Bayu menahan air mata. Anak itu sedang membuat peta agar perpisahan sementara dapat dipahami. Dia mengatakan Lody tidak perlu berjalan sendiri dan jadwal adalah tanggung jawab orang tua.
Beberapa hari kemudian guru melaporkan Levi membela Lody saat teman mengejek kemampuan bacanya. Levi mendorong anak tersebut. Melody dan Arkan tidak memuji kekerasan meski niatnya membela. Mereka meminta Levi meminta maaf karena mendorong dan mengajarinya memanggil guru.
Bayu serta Jasmine juga berbicara kepada Lody agar tidak merasa harus dilindungi Levi setiap saat. Mereka berlatih kalimat sederhana: aku sedang belajar, jangan mengejek. Sekolah menangani siswa yang mengejek tanpa mempermalukannya di depan kelas.
Pertemanan Levi dan Lody berkembang bukan sebagai takdir yang menyatukan orang tua mereka. Anak-anak boleh dekat atau suatu hari menjauh berdasarkan hidup sendiri. Empat orang dewasa menyepakati tidak mengatur tempat duduk, kegiatan, atau undangan demi menciptakan pertemuan.
Saat kegiatan paduan suara, Melody duduk jauh dari Bayu dan Jasmine. Arkan datang terlambat tetapi tetap hadir. Levi dan Lody bernyanyi dengan nada tidak selalu tepat. Mereka mencari wajah orang tua masing-masing, bukan memastikan semua duduk bersama.
Melody melambaikan tangan kepada Levi. Bayu memberi jempol kepada Lody. Di antara mereka ada banyak kursi kosong. Untuk pertama kali, jarak tersebut tidak dipakai anak-anak sebagai jembatan. Ia hanya ruang yang dibuat orang dewasa agar dua anak dapat berdiri di panggung tanpa harus menanggung cerita sebelum kelahiran mereka.
Sekolah kemudian mengadakan diskusi bagi orang tua tentang konflik keluarga. Semua wali murid diundang agar Levi dan Lody tidak ditandai. Fasilitator menjelaskan anak sering menganggap dirinya penyebab perubahan karena dunia mereka memang berpusat pada diri sendiri. Orang tua harus mengulang bahwa masalah bukan kesalahan anak, bahkan jika pertanyaan yang sama muncul berkali-kali.
Bayu dan Jasmine membuat kalimat bersama agar jawaban mereka tidak bertentangan. Arkan serta Melody melakukan hal serupa. Mereka tidak mengatakan semuanya baik-baik saja; anak dapat melihat kebohongan. Mereka mengatakan orang tua sedang mencari cara paling aman dan kasih tidak hilang meski bentuk rumah mungkin berubah.
Levi suatu hari menawarkan membuat acara supaya Bayu dan Melody bisa bicara lagi. Melody menyadari putranya menangkap lebih banyak daripada dugaan mereka.
'Mommy dan Om Bayu nggak perlu dibantu bertemu,' katanya. 'Tugas Levi cuma jadi teman yang baik buat Lody dan tetap cerita kalau ada hal yang bikin nggak nyaman.'
'Tapi kalau mereka baikan, semua senang.'
'Belum tentu. Orang dewasa bisa saling memaafkan tanpa harus dekat.'
Lody juga meminta Bayu mengantar ke rumah Levi. Bayu menjawab penjemputan mengikuti grup orang tua. Dia tidak memakai permintaan anak sebagai celah. Kekecewaan Lody dibiarkan ada tanpa segera dipenuhi.
Guru mencatat setelah beberapa minggu kedua anak berhenti mengatur tempat duduk orang tua saat pertunjukan. Perubahan kecil itu menunjukkan beban perlahan kembali ke tangan orang dewasa. Anak-anak tetap berteman karena menyukai permainan dan cerita satu sama lain, bukan karena harus menyelesaikan cinta yang gagal sebelum mereka lahir.