~NOW~
Bayu menandai kalender apartemen dengan dua warna. Biru untuk hari Lody menginap bersamanya, kuning untuk hari dia menjemput lalu mengantar kembali ke rumah Jasmine. Jadwal tersebut disusun bersama, bukan berdasarkan siapa paling berhak menjadi orang tua.
Pada malam pertama Lody menginap, anak itu membawa tiga boneka dan bertanya kamar mana milik Bunda. Bayu menjelaskan Bunda belum tinggal di sana.
'Ayah sama Bunda cerai?'
'Belum ada keputusan begitu. Ayah dan Bunda sedang tinggal terpisah supaya bisa berpikir dan bicara lebih baik.'
'Karena Aunty Mel?'
Bayu terdiam. Nama tersebut mungkin didengar Lody dari percakapan yang mereka kira aman.
'Ada masalah orang dewasa yang berkaitan dengan masa lalu Ayah. Tapi itu bukan salah Aunty Mel, bukan salah Bunda, dan paling penting bukan salah Lody.'
Dia tidak memberikan detail. Lody menerima jawaban itu dengan wajah tidak puas, lalu meminta mi. Anak-anak dapat beralih topik tanpa berarti kecemasannya selesai.
Apartemen Bayu hanya memiliki satu kamar. Dia tidur di sofa dan memberikan kamar kepada Lody. Pagi harinya punggung Bayu sakit, sementara putrinya mengeluh tidak menemukan sisir. Kehidupan terpisah ternyata tersusun dari kesulitan kecil, bukan hanya percakapan besar.
Jasmine menggunakan malam tanpa Lody untuk pulang terlambat. Dia duduk sendiri di rumah yang biasanya dipenuhi suara anak. Kebebasan mendadak itu tidak menyenangkan. Dia membuka laptop, lalu menutupnya karena sadar pekerjaan selama ini juga menjadi tempat bersembunyi dari rumah tangga yang dingin.
Dalam sesi konseling pribadi, Jasmine mengaku takut meninggalkan Bayu karena tidak ingin Lody tumbuh tanpa ayah di rumah. Konselor bertanya apakah tinggal dalam satu rumah selama ini benar-benar membuat Bayu hadir sebagai suami.
'Dia ayah yang baik,' jawab Jasmine.
'Pertanyaannya tentang pasangan, bukan ayah.'
Jasmine tidak memiliki jawaban yang menenangkan. Dia juga harus memeriksa bagiannya sendiri: berkali-kali mengambil perjalanan kerja tanpa diskusi, menganggap penghasilan dan prestasi cukup menggantikan waktu, serta menerima jarak Bayu karena takut jawaban jika ditanyakan.
Di rumah Melody, Arkan tidur di kamar lagi tetapi tidak menyentuhnya. Mereka membuat jadwal bicara dua kali seminggu agar setiap malam tidak menjadi ruang pemeriksaan. Pada hari lain, mereka berusaha menjalani rutinitas Levi.
Melody merasa aneh ketika Arkan tidak lagi meminta ditemani makan atau menghubunginya untuk menyiapkan kebutuhan. Arkan belajar mengurus sebagian barang sendiri. Perubahan yang seharusnya meringankan justru membuat Melody takut tidak dibutuhkan.
'Kamu marah makanya nggak mau minta apa-apa?' tanyanya.
'Aku sedang belajar membedakan kebutuhan dan kebiasaan dilayani.'
'Aku nggak pernah keberatan menyiapkan.'
'Tapi kamu juga memakai itu untuk membuktikan kamu istri baik, supaya kita nggak membahas hal lain.'
Melody hendak membantah, lalu berhenti. Kegiatan domestik memang sering menjadi bahasa aman. Dia bisa menyetrika kemeja Arkan tanpa perlu mengatakan tidak mencintainya dengan cara yang diharapkan.
Levi menyadari perubahan. Dia bertanya mengapa Papa sekarang membuat kopi sendiri. Arkan menjawab karena bisa. Melody menambahkan bahwa semua orang di rumah harus mampu mengurus dirinya sesuai umur.
Di sekolah, Levi dan Lody tetap bermain. Guru mengawasi tanpa memperlakukan mereka sebagai anak bermasalah. Evaluasi Lody menunjukkan kesulitan literasi ringan yang dapat dibantu dengan metode multisensori. Bayu dan Jasmine menghadiri penjelasan bersama.
Mereka duduk berdampingan karena meja sempit. Bayu tidak menggunakan kedekatan itu untuk membahas pernikahan. Mereka fokus pada jadwal latihan, target wajar, dan cara tidak membandingkan Lody dengan Levi.
'Kalau Lody nangis saat salah, apa yang harus kami lakukan?' tanya Jasmine.
Psikolog menyarankan memberi jeda, menamai frustrasi, lalu menawarkan pilihan mencoba atau berhenti sementara. Memaksa saat anak kewalahan hanya menghubungkan belajar dengan malu.
Bayu teringat caranya menghela napas. Jasmine mengingat malam ketika tugas Lody dikerjakan pengasuh karena dia harus rapat. Keduanya meminta maaf kepada Lody dengan bahasa sederhana dan mengubah rutinitas.
Pada minggu ketiga, Lody membaca satu halaman tanpa menangis. Dia menelepon Bunda dari apartemen Ayah dan menunjukkan stiker penghargaan. Jasmine memuji usaha, bukan kecepatannya. Bayu berdiri di belakang kamera dan tidak ikut mengambil kredit.
Setelah Lody tidur, Jasmine tetap tersambung beberapa detik.
'Terima kasih sudah latihan sama dia,' katanya.
'Kamu juga. Catatanmu membantu.'
Keheningan berikutnya tidak langsung menyakitkan. Mereka berhasil bekerja sebagai orang tua meski belum tahu bentuk pernikahannya.
Satu bulan berakhir tanpa keajaiban. Bayu belum pulang, Jasmine belum mengajukan cerai. Melody dan Arkan belum kembali intim, tetapi sudah mampu bicara tanpa selalu menyerang. Tidak ada pasangan yang dapat menyebut keadaan membaik hanya karena tidak bertengkar.
Masa jeda ternyata tidak kosong. Di dalamnya ada tugas sekolah, cucian, rekening, rasa sepi, pengakuan, dan kesempatan melihat kebiasaan tanpa penutup rutinitas. Empat orang itu mulai memahami keputusan akhir tidak boleh dibuat sekadar untuk menghentikan ketidaknyamanan. Mereka harus memilih kehidupan yang dapat dijalani setelah semua orang berhenti tampil baik di depan orang lain.
Pada hari terakhir masa satu bulan, Bayu membawa kembali pakaian Lody yang tertinggal ke rumah Jasmine. Dia tidak masuk sebelum diizinkan. Jasmine mempersilakan minum teh setelah Lody tidur, dan mereka meninjau apa yang berhasil serta gagal.
Jadwal pengasuhan cukup adil di atas kertas, tetapi Jasmine masih mengurus seragam serta janji dokter meski Lody berada bersama Bayu. Bayu mengira mengambil separuh malam berarti mengambil separuh tugas. Mereka lalu membagi kepemilikan penuh: Bayu mengurus kebutuhan sekolah dan evaluasi membaca; Jasmine menangani kesehatan serta kegiatan seni. Informasi tetap dibagikan, tetapi satu orang tidak menjadi manajer diam-diam.
Mereka juga membahas rumah. Bayu masih membayar cicilan dan kebutuhan bersama. Jasmine meminta rincian karena selama ini hanya menerima angka akhir. Bayu membuka catatan tanpa bersikap seolah pengetahuan finansial membuat suaranya lebih sah.
'Kalau kita tetap terpisah, apartemen ini cukup buat Lody?' tanya Jasmine.
'Untuk sementara. Kalau permanen, aku cari dua kamar.'
Kata permanen membuat keduanya diam. Bayu ingin meraih tangan Jasmine, tetapi tidak tahu apakah gerakan itu untuk menenangkan dia atau dirinya sendiri. Dia bertanya. Jasmine menggeleng.
'Aku belum siap disentuh hanya karena percakapan sulit.'
Bayu menerima. Mereka mengakhiri malam dengan jadwal baru, bukan pelukan. Satu bulan tidak menghasilkan jawaban, tetapi memberi bukti bahwa hubungan orang tua dapat dipelajari tanpa memaksa hubungan suami istri langsung pulih.