~NOW~
Arkan mengusulkan pertemuan empat orang dewasa setelah mengetahui Jasmine sudah mendengar kebenaran. Melody menolak pada awalnya. Dia khawatir pertemuan berubah menjadi pengadilan atau pertengkaran. Arkan mengatakan justru tanpa pembicaraan, sekolah anak-anak akan dipenuhi kecurigaan.
Mereka memilih ruang konseling keluarga di sekolah. Konselor sekolah hanya menjadi fasilitator soal batas anak, bukan menangani pernikahan masing-masing. Bayu dan Jasmine datang bersama tetapi duduk terpisah. Melody duduk di samping Arkan dengan jarak kecil di antara kursi mereka.
Konselor membuka dengan tujuan sederhana: Levi dan Lody berhak belajar serta berteman tanpa dijadikan alasan pertemuan, pembawa pesan, atau saksi konflik orang tua.
'Saya nggak mau Lody kehilangan satu-satunya teman dekat karena kesalahan ayahnya,' ujar Jasmine.
'Levi juga sayang sama Lody,' jawab Melody.
Bayu dan Arkan lebih banyak diam. Ketika konselor menanyakan pengaturan penjemputan, mereka sepakat komunikasi dilakukan melalui grup dan pihak sekolah. Tidak ada orang tua yang boleh membawa anak lain tanpa izin langsung.
Les tambahan dihentikan. Sekolah akan mengevaluasi Lody dan menawarkan pendamping belajar resmi. Melody boleh membantu hanya dalam kegiatan kelas yang terbuka untuk semua siswa.
Setelah urusan anak selesai, konselor memberi kesempatan membahas batas antardewasa. Arkan bicara lebih dulu.
'Saya tidak bisa melarang istri saya punya masa lalu. Tapi saya minta tidak ada pertemuan atau pesan pribadi yang disembunyikan.'
Jasmine mengatakan permintaan yang sama. Bayu mengangguk. Melody pun setuju.
'Kalau komunikasi soal anak, tetap di grup,' ujar Jasmine. 'Kalau ada hal masa lalu yang belum selesai, selesaikan melalui terapi masing-masing, bukan berdua.'
Melody menerima meski bagian dalam dirinya ingin mengatakan masih banyak pertanyaan. Keinginan bukan hak.
Pertemuan berakhir tanpa jabat tangan. Di lorong, Bayu berjalan beberapa langkah di belakang Melody. Tidak ada sapaan. Arkan melihat, tetapi tidak mengucapkan apa pun sampai mereka masuk mobil.
'Kamu menyesal setuju?' tanyanya.
'Aku menyesal membuat kamu harus duduk di sana.'
'Itu bukan jawaban.'
Melody jujur bahwa sebagian dirinya masih ingin berbicara dengan Bayu. Dia juga ingin menyelamatkan pernikahannya, tetapi belum tahu apakah karena cinta atau takut menjadi orang jahat.
'Aku nggak butuh kamu bertahan karena kasihan,' kata Arkan.
'Aku tahu.'
Arkan mengusulkan konseling berdua. Melody setuju. Dalam sesi pertama, Arkan menceritakan delapan tahun merasa ditolak tanpa berani menanyakan sebab. Dia bekerja semakin lama karena di kantor merasa dibutuhkan. Melody mengakui menggunakan peran istri dan ibu untuk menghindari kedekatan emosional.
Konselor menanyakan apakah hubungan intim mereka selalu berdasarkan keinginan bersama. Melody terdiam lalu berkata sering menurut agar Arkan tidak kecewa. Arkan tampak terpukul. Dia mengira ketiadaan penolakan berarti persetujuan.
'Kenapa kamu nggak bilang?'
'Karena aku merasa itu kewajiban istri.'
Konselor menjelaskan persetujuan tetap diperlukan dalam pernikahan. Arkan meminta maaf karena tidak lebih peka, tetapi Melody juga perlu belajar mengungkap tidak tanpa bersembunyi dalam tidur atau diam. Mereka sepakat menghentikan hubungan fisik sementara sampai rasa aman dibangun kembali.
Sementara itu Bayu mengikuti konseling dengan Jasmine. Jasmine membawa daftar pertanyaan, salah satunya apakah Bayu masih mencintai Melody.
'Iya,' jawab Bayu akhirnya. 'Tapi aku nggak akan menjadikan perasaan itu alasan mengejarnya.'
Jasmine menangis. Kejujuran tersebut melukai, namun untuk pertama kali dia tidak dibuat menebak.
'Kamu mencintai saya?'
'Aku punya kasih dan tanggung jawab. Aku nggak mau memakai kata cinta cuma supaya kamu bertahan.'
Jasmine meminta masa pisah rumah selama satu bulan. Bayu pindah ke apartemen sewa dekat sekolah agar tetap dapat mengantar dan menjemput Lody sesuai jadwal. Mereka menjelaskan kepada anak bahwa Ayah dan Bunda sedang belajar memperbaiki cara berbicara, bukan karena Lody nakal.
Lody menangis dan bertanya apakah Ayah akan pindah ke Medan. Bayu terkejut mendengar nama kota itu. Rupanya Lody pernah mendengar percakapan orang tuanya. Bayu meyakinkan dia tetap tinggal di Jakarta dan menunjukkan kalender hari bersama Ayah.
Levi mengetahui temannya sedih. Dia membuat kartu dengan gambar empat kursi dan dua anak di tengah. Di atasnya tertulis orang tua boleh duduk jauh tetapi anak tetap berteman. Ejaannya tidak sempurna.
Saat Melody melihat kartu itu, dia menangis. Orang dewasa telah membuat anak-anak memperhatikan jarak yang seharusnya tidak perlu mereka ukur.
Pada akhir bulan, belum ada pasangan yang mengambil keputusan final. Arkan kembali tidur di kamar, tetapi batas fisik tetap dijaga. Jasmine belum meminta Bayu pulang. Mereka semua berhenti menuntut resolusi cepat hanya agar keadaan tampak normal.
Empat kursi dalam ruang konseling tidak menyatukan siapa pun. Kursi-kursi itu hanya memberi tempat agar setiap orang dapat bicara tanpa berdiri di atas luka orang lain. Untuk sementara, itu cukup. Bayu dan Melody akhirnya berhadapan dengan akibat masa lalu, bukan sebagai dua kekasih yang dipisahkan semesta, melainkan dua orang dewasa yang pernah memilih diam dan kini harus memastikan anak serta pasangan mereka tidak membayar seluruh harganya.
Pada pertemuan konseling berikutnya, fasilitator meminta setiap orang menyebut satu batas dan satu tanggung jawab. Jasmine menetapkan tidak ada pesan pribadi; tanggung jawabnya tidak memakai Lody untuk menghukum Bayu. Arkan meminta kejujuran; tanggung jawabnya berhenti memakai pekerjaan untuk menghindari percakapan. Melody meminta ruang menjawab tanpa dipaksa; tanggung jawabnya tidak lagi menyembunyikan pertemuan. Bayu meminta keputusan tidak dibuat melalui ancaman; tanggung jawabnya menerima akibat tanpa memohon simpati.
Mereka menuliskannya dan meminta salinan. Kertas itu bukan perjanjian damai. Ia hanya ukuran ketika emosi membuat masing-masing merasa paling disakiti. Di luar ruangan, Levi dan Lody sedang menyusun balok menjadi jembatan. Salah satu sisi beberapa kali runtuh karena terlalu tinggi. Mereka tidak menyalahkan balok. Mereka membongkar, membagi beban, dan mencoba lagi.
Empat orang dewasa melihat dari pintu tanpa mengubah permainan menjadi simbol di depan anak-anak. Namun masing-masing membawa gambarnya pulang: hubungan tidak berdiri karena satu orang menahan semua berat. Jika fondasi salah, keberanian bukan terus menumpuk, melainkan bersedia membongkar sampai susunannya aman bagi orang yang berada di bawah.