~NOW~
Bayu menunggu sampai Lody tidur. Jasmine sedang membongkar koper ketika dia meminta waktu bicara. Nada Bayu membuat Jasmine menghentikan tangannya.
'Ada masalah sama Lody?'
'Bukan. Tentang Bu Melody.'
Bayu menceritakan bahwa Melody adalah mantan kekasihnya. Dia tidak mengawali dengan alasan atau menyebut pertemuan sebagai takdir. Dia mengakui mereka bertemu berdua dan bahwa nama Lody dipilih karena kenangan tersebut.
Jasmine duduk di lantai di antara pakaian perjalanan. Wajahnya membeku.
'Jadi selama enam tahun aku memanggil anakku dengan nama perempuan yang kamu cintai?'
'Aku pikir waktu itu cuma nama yang indah.'
'Jangan bohong lagi. Kamu yang mensyaratkan kalau anak perempuan harus bernama Melody.'
Bayu meminta maaf. Jasmine berdiri dan masuk kamar Lody. Bayu mengikuti sampai pintu, tetapi Jasmine menyuruhnya berhenti.
'Aku mau lihat anakku tanpa kamu menjelaskan apa pun.'
Bayu menunggu di lorong. Jasmine keluar beberapa menit kemudian dengan mata merah. Dia bertanya apakah Bayu pernah mencintainya. Bayu tidak bisa memberi jawaban yang cukup cepat.
'Sudah. Diam kamu jawabannya.'
'Aku peduli sama kamu, Jas.'
'Aku bukan rekan kerja yang butuh kepedulian. Aku istrimu.'
Jasmine mengambil bantal dan tidur di kamar tamu. Sebelum menutup pintu, dia meminta seluruh les dihentikan sementara. Bayu menyetujui tanpa bernegosiasi.
Pagi hari Lody bertanya mengapa Bunda tidak sarapan. Bayu mengatakan Bunda sedang sedih dan membutuhkan ruang. Dia tidak menyebut penyebab atau menjadikan anak sebagai pembawa pesan.
Jasmine tetap pergi bekerja, tetapi mengirim pesan kepada Melody bahwa sesi belajar dibatalkan. Melody membaca kalimat singkat itu dan langsung memahami Bayu telah mengaku.
'Apakah Ibu mau bicara?' balas Melody.
'Tidak sekarang.'
Melody menghormati. Dia memberi tahu sekolah dan Arkan. Levi kecewa karena tidak jadi belajar bersama Lody. Melody menjelaskan keluarga Lody sedang mengatur sesuatu dan mereka tetap boleh berteman di sekolah.
Selama tiga hari Bayu dan Jasmine hanya bicara tentang kebutuhan rumah. Bayu mengambil lebih banyak tugas Lody karena Jasmine mengaku tidak sanggup mendengar nama itu tanpa mengingat rahasia. Bayu tidak menyuruhnya memisahkan anak dari makna nama. Luka tersebut memang dia yang ciptakan.
Jasmine akhirnya mengajak Bayu menemui konselor pernikahan. Bukan untuk menjamin mereka tetap bersama, melainkan agar percakapan tidak berubah menjadi saling menghina. Pada sesi pertama, Jasmine mengatakan selama ini dia tahu Bayu dingin, tetapi mengira itulah sifatnya.
'Ternyata dia bisa hangat. Hanya saja bukan untuk saya,' katanya.
Bayu menunduk. Konselor meminta dia tidak segera membantah. Peduli, mencari nafkah, dan menjadi ayah aktif tidak sama dengan hadir sebagai pasangan. Bayu mengakui sering menghindari sentuhan Jasmine dan menutup percakapan ketika merasa dituntut.
'Kenapa menikah dengan saya?' tanya Jasmine.
Bayu bertemu Jasmine saat bekerja di Medan. Setelah mendengar Melody menikah, dia ingin memulai hidup yang dianggap benar. Jasmine hangat, tegas, dan tidak menuntut dia menceritakan masa lalu. Bayu mengira rasa sayang akan tumbuh menjadi cinta jika mereka membangun rumah.
'Jadi saya obat gagal cintamu.'
'Aku nggak berpikir seperti itu waktu menikah.'
'Tapi kamu juga nggak memberi saya informasi untuk memilih.'
Konselor mencatat bahwa persetujuan pernikahan tidak mungkin diulang, tetapi kejujuran sekarang menentukan pilihan berikut. Jasmine belum tahu ingin bertahan atau berpisah. Bayu mengatakan akan menerima apa pun, lalu konselor mengingatkan menerima bukan berarti pasif. Dia tetap harus menunjukkan perubahan jika meminta kesempatan.
Di rumah, Jasmine membuka akta kelahiran Lody. Dia bertanya apakah nama anak mereka perlu diganti. Bayu mengatakan keputusan bukan miliknya seorang.
'Lody sudah mengenal namanya. Mengganti karena kesalahan kita bisa membuat dia merasa ada yang salah dengan dirinya,' ujar Bayu.
Mereka berkonsultasi dengan psikolog anak. Saran awalnya tidak membuat pengungkapan dramatis kepada Lody. Nama telah menjadi identitas anak, sementara makna awal dapat dibahas dengan bahasa sesuai umur kelak. Orang tua harus lebih dulu mengelola emosi agar Lody tidak diminta menenangkan mereka.
Jasmine setuju menunda keputusan. Namun dia meminta panggilan sehari-hari Lody tetap digunakan dan Bayu tidak pernah lagi menyebut nama tersebut sebagai bukti cintanya kepada Melody.
'Nama anak kita milik dia sekarang,' kata Jasmine.
'Iya.'
Di sekolah, Melody melihat Lody bermain dengan Levi. Dia tidak mendekat kecuali mereka memanggil. Ketika Lody berlari dan memeluknya, Melody membalas singkat lalu menanyakan apakah Bunda tahu dia bersama Aunty. Lody mengangguk karena Jasmine berada tidak jauh di belakang.
Kedua perempuan beradu pandang. Melody ingin meminta maaf, tetapi halaman sekolah bukan tempatnya. Jasmine menghampiri.
'Anak-anak tetap boleh berteman,' katanya. 'Tapi les berhenti.'
'Saya mengerti.'
'Saya belum siap bicara sama Ibu.'
'Saya juga mengerti.'
Jasmine menggandeng Lody pergi. Melody menahan diri tidak mengejar atau menjelaskan bahwa hubungan mereka telah lama selesai. Dari sudut pandang Jasmine, masa lalu itu baru meledak sekarang.
Nama Melody Shirrina Aksara tidak lagi terdengar sebagai rahasia romantis bagi Bayu. Setiap kali memanggil Lody, dia mendengar akibat keputusan yang pernah dianggap sederhana. Namun Lody bukan kesalahan. Anak itu berlari, tertawa, belajar, dan mengisi namanya dengan kehidupan sendiri. Tugas Bayu sekarang bukan menghapus nama, melainkan memastikan putrinya tidak harus memikul dosa orang dewasa yang menyematkannya.
Jasmine juga meminta akses pada keuangan keluarga dan dokumen rumah. Selama ini Bayu mengurus sebagian besar tabungan karena pekerjaannya di bidang keuangan. Dia tidak pernah menyalahgunakan, tetapi ketergantungan membuat pilihan Jasmine untuk pergi terasa lebih sulit. Mereka membuka rekening, kewajiban, serta aset bersama konselor keuangan.
'Aku nggak sedang menyiapkan perceraian diam-diam,' kata Jasmine.
'Kamu berhak menyiapkan pilihan meski akhirnya tetap tinggal,' jawab Bayu.
Bayu memindahkan sebagian dana darurat ke rekening yang dapat diakses Jasmine tanpa meminta izin. Mereka mencatat pembagian biaya Lody jika berpisah. Percakapan itu menakutkan, tetapi lebih jujur daripada bersumpah tidak akan pernah berakhir.
Melody mendengar dari grup bahwa evaluasi Lody akan dilakukan psikolog pendidikan. Dia menawarkan memberikan catatan belajar, lalu menunggu Jasmine meminta. Jasmine akhirnya mengizinkan catatan akademik saja, tanpa percakapan pribadi. Melody mengirim melalui sekolah.
Psikolog menyatakan Lody membutuhkan latihan terstruktur dan suasana tanpa perbandingan, bukan label malas. Bayu teringat berapa kali dia menghela napas ketika putrinya menjawab tidak tahu. Jasmine mengingat tugas yang sering dia periksa sambil membalas pesan kantor. Keduanya sepakat menjalani sesi pendampingan orang tua secara bergantian.
Nama yang dulu dipilih Bayu untuk menyimpan masa lalu kini memaksa dia hadir pada masa kini. Setiap latihan membaca menjadi kesempatan kecil untuk melihat Lody sebagai dirinya sendiri, bukan jejak perempuan lain atau bukti kegagalan pernikahan.