~NOW~
Pihak sekolah mengizinkan penggunaan perpustakaan untuk belajar tambahan dengan syarat ada petugas sekolah dan persetujuan kedua orang tua. Melody menyampaikan aturan itu di grup kecil bersama Jasmine, Bayu, dan Arkan. Grup tersebut dibuatnya sengaja agar komunikasi tentang anak tidak berubah menjadi ruang privat dirinya dengan Bayu.
Arkan baru mengetahui rencana les secara lengkap dari pesan pertama grup. Malam sebelumnya Melody hanya mengatakan akan membantu teman Levi. Kini nama Lody dan Bayu Aksara muncul di layar ponselnya.
'Bayu Aksara siapa?' tanya Arkan.
Melody sedang melipat seragam Levi. Tangannya berhenti.
'Ayahnya Lody.'
'Aku bisa baca. Kamu kenal sebelumnya?'
Pertanyaan itu tidak mungkin lagi dijawab dengan setengah kebenaran.
'Dia mantan pacarku sebelum aku menikah dengan kamu.'
Arkan terdiam lama. Wajahnya tidak langsung marah, justru kehilangan warna.
'Laki-laki yang selama ini masih kamu simpan?'
Melody tidak sanggup mengatakan tidak. Dia menceritakan pertemuan di acara parenting dan percakapan di kafe. Arkan bertanya apakah mereka bertemu berdua. Melody menjawab iya.
'Kenapa kamu nggak bilang sebelum pergi?'
'Aku takut kamu melarang sebelum aku mendapat penjelasan.'
'Jadi kamu sadar aku berhak tahu, tapi memilih bohong.'
Melody meminta maaf. Arkan meninggalkan kamar dan tidur di ruang kerja. Dia tidak berteriak, tetapi keheningan tersebut terasa lebih berat.
Esoknya, Arkan tetap mengantar Levi ke sekolah. Dia mengatakan kepada anaknya bahwa orang dewasa sedang punya masalah, bukan kesalahan Levi dan bukan urusan yang harus diselesaikan anak. Melody mengamati dari pintu dengan mata bengkak.
Di rumah Bayu, Jasmine pulang dari Manado dan membaca grup belajar. Dia senang sekolah memberi tempat. Saat melihat nama lengkap Melody sebagai pengajar, dia bercerita bahwa nama itu sama dengan Lody.
'A'a sudah pernah ketemu Bu Melody?' tanyanya.
'Sudah. Di sekolah.'
'Gimana orangnya?'
Bayu menjawab baik. Dia belum mengungkap masa lalu. Setiap kali hendak bicara, Lody masuk membawa cerita atau Jasmine menerima telepon kantor. Bayu tahu kesempatan sempurna tidak akan datang; dia hanya terus menunda karena takut.
Hari pertama belajar berlangsung di perpustakaan. Arkan memutuskan hadir. Jasmine masih bekerja dan Bayu meminta izin keluar kantor satu jam. Empat orang dewasa berdiri canggung sementara Levi dan Lody berebut pensil warna.
Melody menjelaskan bahwa sesi bukan bimbingan profesional. Dia membantu sebagai wali murid, tanpa biaya, dan hasil Lody akan dievaluasi bersama guru. Jika ada kebutuhan khusus, mereka harus mencari pendidik terlatih.
'Saya setuju,' kata Arkan. Tatapannya sesekali berpindah kepada Bayu.
Bayu mengangguk tanpa mengetahui Arkan sudah mendengar semuanya. Ketika anak-anak mulai membaca, Arkan mengajak Bayu keluar sebentar.
'Saya tahu hubungan Anda dan istri saya dulu,' katanya langsung.
Bayu menegang.
'Melody cerita?'
'Setelah saya tanya. Bukan sebelum dia bertemu Anda diam-diam.'
Bayu mengakui kesalahannya ikut menyembunyikan pertemuan. Arkan tidak meminta detail percintaan lama. Dia hanya ingin batas sekarang jelas.
'Anak-anak boleh berteman. Tapi jangan gunakan mereka sebagai alasan menemui istri saya.'
'Saya nggak berniat merusak rumah tangga kalian.'
'Niat bukan satu-satunya yang punya akibat.'
Bayu menerima kalimat itu. Dia tidak mengatakan rumah tangganya sendiri juga tidak bahagia. Membandingkan luka hanya akan terdengar seperti pembenaran.
Di dalam perpustakaan, Lody kesulitan membedakan huruf b dan d. Ketika salah untuk ketiga kali, matanya berkaca-kaca. Melody tidak langsung mengoreksi. Dia mengajak Lody membuat bentuk huruf dengan kedua tangan dan menghubungkannya dengan kata sederhana. Levi hendak menertawakan, tetapi Melody menghentikan.
'Pintar itu bukan siapa paling cepat,' katanya. 'Teman belajar tugasnya membantu, bukan bikin malu.'
Levi meminta maaf. Lody mencoba lagi dan berhasil. Senyumnya membuat seluruh ketegangan orang dewasa sejenak menghilang.
Setelah sesi, Arkan membawa Levi pulang. Dia tidak menunggu Melody. Bayu mengantar Lody ke mobil Mirna karena harus kembali bekerja. Melody berdiri bersama petugas perpustakaan, memastikan ruangan rapi.
'Aunty besok ngajarin lagi?' tanya Lody.
'Sesuai jadwal, iya.'
'Ayah ikut?'
'Itu tanyakan ke Ayah.'
Melody tidak menjanjikan pertemuan siapa pun. Dia mulai memahami anak-anak dapat merasakan ketegangan dan mencari kepastian dengan cara sederhana.
Malam itu Arkan mengajak Melody bicara setelah Levi tidur. Dia tidak melarang kegiatan belajar, tetapi meminta transparansi. Melody menyetujui. Arkan juga mengatakan kejujuran tidak otomatis menghapus rasa sakit.
'Aku butuh waktu untuk tahu apakah selama delapan tahun aku menikah dengan kamu atau dengan bayangan orang yang menunggu dia kembali,' katanya.
Melody menangis. Dia ingin mengatakan telah menjadi istri yang baik, tetapi tugas rumah dan kesetiaan fisik tidak membuktikan hatinya hadir. Untuk pertama kalinya dia melihat pernikahannya dari posisi Arkan.
Di rumah Bayu, pesan dari grup masuk. Jasmine menulis terima kasih karena sesi pertama berhasil. Bayu menatap istrinya yang tertidur di sofa setelah perjalanan. Besok, pikirnya, dia harus bicara. Bukan karena Arkan mungkin mengungkap, melainkan karena Jasmine berhak mengetahui siapa perempuan yang dia percaya mengajari putrinya.
Sebelum pulang, konselor sekolah berbicara singkat dengan Levi dan Lody secara terpisah. Dia tidak menanyakan konflik orang tua, hanya memastikan kegiatan belajar tidak membuat mereka tertekan. Levi mengaku senang membantu tetapi tidak suka ketika orang dewasa saling melihat seperti sedang marah. Lody mengatakan dia takut salah karena teman lain lebih cepat.
Hasil itu dikirim kepada seluruh orang tua. Melody mengubah rancangan belajar agar tidak menjadikan Levi contoh terus-menerus. Bayu meminta guru menilai apakah kesulitan membaca Lody masih wajar atau membutuhkan pemeriksaan. Jasmine menyetujui evaluasi tanpa menganggap anaknya kurang pintar.
Arkan kemudian meminta ikut dalam satu sesi berikutnya bukan sebagai penjaga Melody, melainkan ayah Levi. Dia membawa permainan kartu angka. Awalnya anak-anak menganggap caranya membosankan, tetapi setelah aturan dibuat seperti perlombaan melawan waktu mereka tertawa. Melody melihat sisi Arkan yang jarang muncul karena selama ini dia lebih cepat mengkritik ketidakhadirannya daripada mengundangnya dengan jelas.
Bayu datang menjelang akhir dan menemukan Arkan sedang membantu Lody membaca. Ada rasa cemburu yang memalukan, bukan kepada Arkan sebagai suami Melody, melainkan karena laki-laki itu melakukan sesuatu bagi putrinya. Bayu mengucapkan terima kasih. Arkan menjawab singkat bahwa semua orang berada di sana untuk anak-anak.
Pertemuan di perpustakaan tidak menyembuhkan pernikahan mana pun. Namun tempat terbuka, jadwal tercatat, dan tujuan yang dapat diperiksa mencegah nostalgia menentukan arah. Untuk pertama kali sejak bertemu kembali, Bayu dan Melody berada dalam satu ruangan tanpa membuat dunia mengecil hanya menjadi mereka berdua.