~NOW~
Melody datang lebih dulu ke kafe. Dia memilih meja dekat jendela, bukan sudut tersembunyi. Tempat itu ramai oleh pegawai kantor dan orang tua yang menunggu anak sekolah. Jika pertemuan mereka memang hanya percakapan, dia tidak perlu bersembunyi.
Bayu tiba tepat pukul dua belas. Kemeja birunya digulung sampai siku. Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap, seperti masing-masing mencari wajah lama di dalam orang yang telah berubah.
'Mau pesan apa?' tanya Bayu.
'Aku sudah pesan teh. Duduk saja.'
Bayu menarik kursi. Dia meletakkan ponsel di atas meja dengan layar menghadap bawah. Melody memperhatikan gerakannya.
'Jasmine tahu kamu bertemu aku?'
Pertanyaan pertama itu membuat Bayu terdiam.
'Belum.'
'Arkan juga belum tahu.'
Mereka sama-sama memahami pertemuan yang tidak salah dapat berubah salah ketika sengaja disembunyikan. Namun Melody belum ingin pulang sebelum menerima jawaban.
'Kenapa kamu pergi ke Medan tanpa bilang?'
Bayu menarik napas. Dia menceritakan promosi jabatan, rumah yang dibelinya di Bandung, pinjaman yang memotong hampir separuh gaji, dan rasa rendah diri terhadap keluarga Melody. Dia mengira keberhasilan di Medan akan membuktikan keseriusannya. Ketika Melody meminta menunda pernikahan, dia mendengarnya sebagai penolakan.
'Jadi kamu menghukum aku dengan menghilang?'
'Waktu itu aku merasa kalau terus bicara, aku bakal memohon pada orang yang nggak memilih aku.'
'Aku memilih kamu. Aku cuma belum siap menikah.'
'Aku tahu sekarang.'
Melody tertawa pendek dengan mata mulai basah.
'Sekarang? Setelah sembilan tahun, dua pernikahan, dan dua anak?'
Bayu tidak membela diri. Dia mengakui bahwa kepergiannya pengecut. Dia berharap Melody mengejarnya, sementara dirinya menolak memberi alamat emosional untuk dikejar. Setiap bulan yang berlalu membuat rasa malu semakin besar. Ketika akhirnya mendengar Melody menikah, dia menganggap pintu sudah tertutup.
'Dari siapa kamu dengar aku menikah?'
'Teguh. Dia lihat foto dari teman kantor lama.'
'Kenapa nggak datang sebelum itu?'
'Karena aku masih bodoh dan gengsi.'
Jawaban jujur itu tidak menyembuhkan apa pun. Melody membayangkan seluruh malam ketika dia menunggu telepon. Ternyata tidak ada musibah besar, tidak ada larangan keluarga, hanya dua orang yang membiarkan asumsi tumbuh sampai menjadi kehidupan baru.
'Aku menikah dengan Arkan karena kupikir kamu nggak akan kembali,' katanya.
'Kamu bahagia?'
Melody menatapnya tajam.
'Itu bukan pertanyaan yang berhak kamu pakai untuk membuka pintu lain.'
Bayu mengangguk. Dia meminta maaf. Melody lalu menanyakan nama Lody. Bayu menjelaskan bahwa ketika Jasmine hamil, dia meminta jika anak mereka perempuan diberi nama Melody. Jasmine tidak tahu asalnya.
'Kamu menjadikan anakmu monumen untuk perempuan lain tanpa sepengetahuan ibunya.'
Kalimat tersebut menghantam Bayu lebih keras daripada yang dia duga.
'Aku pikir itu cara menyimpan kenangan baik.'
'Bagi kamu mungkin. Bagaimana kalau suatu hari Jasmine tahu? Bagaimana perasaan Lody kalau tahu namanya membawa rahasia pernikahan orang tuanya?'
Bayu mengusap wajah. Selama ini dia menganggap nama itu bentuk doa, bukan pengkhianatan. Kini dia melihat orang lain yang menanggung makna tanpa persetujuan.
'Aku nggak akan bilang ke Lody,' katanya.
'Bukan itu maksudku. Jangan tambah rahasia tanpa memikirkan siapa yang berhak tahu.'
Pelayan datang membawa kopi Bayu. Percakapan berhenti sampai dia pergi. Melody melihat jam. Empat puluh menit berlalu.
'Kamu mencintai Jasmine?' tanyanya.
Bayu menoleh ke jendela. Dia mengatakan Jasmine perempuan baik dan ibu dari anaknya. Dia menghormati kerja kerasnya, tetapi sejak awal pernikahan ada bagian dirinya yang tidak pernah diberikan.
'Itu bukan jawaban.'
'Aku nggak tahu cara menjawab tanpa melukai orang.'
'Diam juga melukai.'
Bayu balik bertanya tentang Arkan. Melody tidak menjawab. Dia tidak mau membalas ketidakjujuran dengan membuka seluruh ranjang dan kesepian rumah tangganya kepada mantan kekasih. Arkan berhak menjadi manusia utuh, bukan hambatan dalam reuni mereka.
'Kita cukup membahas masa lalu hari ini,' ujar Melody.
'Setelah ini bagaimana?'
'Anak-anak tetap berteman. Soal les, lakukan di sekolah atau tempat profesional. Kita komunikasi hanya soal mereka.'
Bayu tampak kecewa. Melody juga merasakan hal sama, tetapi rasa itu bukan petunjuk moral.
'Aku masih punya banyak yang ingin dikatakan,' ucap Bayu.
'Tulis di kertas kalau perlu. Jangan kirim sebelum kamu tahu tujuanmu.'
Mereka membayar pesanan masing-masing. Di depan kafe Bayu ingin menyentuh tangan Melody, namun menghentikan gerakannya. Melody melihat itu dan merasa lega sekaligus kehilangan.
'Maaf sudah pergi,' kata Bayu.
'Aku dengar. Memaafkan bukan berarti kita boleh mengulang hubungan.'
Melody masuk mobil. Dia menangis sebelum menyalakan mesin, bukan karena ingin Bayu mengejar, melainkan karena jawaban yang ditunggu sembilan tahun ternyata sesederhana kesalahpahaman dan gengsi. Tidak ada alasan agung yang membuat luka lebih layak.
Bayu kembali ke kantor dengan dada kosong. Penjelasan telah dibayar, tetapi utang baru tampak jelas. Dia harus memutuskan apakah kejujuran hanya diberikan kepada Melody atau juga kepada perempuan yang selama ini hidup di sampingnya.
Dalam perjalanan pulang, Melody berhenti di musala dan duduk lebih lama setelah berdoa. Dia tidak meminta agar Bayu kembali menjadi miliknya. Dia meminta keberanian menanggung kenyataan bahwa hidup yang berbeda telah dibangun dari kesalahan mereka. Air mata tetap jatuh meski doa tidak memberi jawaban cepat.
Arkan menelepon menanyakan apakah Melody bisa membeli obat Levi. Melody menjawab seperti biasa dan mampir ke apotek. Percakapan domestik itu terasa aneh setelah satu jam membongkar cinta lama. Di rumah, Arkan mengucapkan terima kasih lalu kembali bekerja dari laptop.
Melody hampir menceritakan pertemuan saat itu. Namun Levi mengajak bermain dan Arkan menerima panggilan. Dia memakai gangguan tersebut sebagai alasan diam. Malamnya, dia menulis kronologi pertemuan supaya tidak mengubah detail ketika akhirnya bicara. Dia juga menuliskan bagian yang paling sulit: dirinya senang melihat Bayu.
Bayu melakukan hal serupa tanpa sengaja. Di apartemen kantor, dia membuat catatan tentang apa yang telah dijelaskan dan apa yang masih disembunyikan. Daftarnya lebih panjang pada bagian kedua. Nama Lody, pernikahan dengan Jasmine, dan perasaannya saat ini belum selesai hanya karena Melody menetapkan batas.
Esok pagi Bayu tidak mengirim salam kepada Melody. Melody pun tidak menghubungi. Keheningan kali ini disepakati oleh satu pihak saja, tetapi berbeda dari sembilan tahun lalu: nomor mereka tetap ada dan batasnya telah diucapkan. Kini yang perlu mereka hadapi bukan cara kembali, melainkan cara berhenti menjadikan diam sebagai tempat bersembunyi.