~NOW~
Bayu meletakkan kartu nama Melody di atas meja kerjanya. Sejak pagi benda kecil itu sudah berpindah dari kantong kemeja ke dompet, lalu kembali ke tangannya. Nama Melody tercetak di bawah logo Dara's Bakery, lengkap dengan dua nomor telepon dan alamat toko.
Bayu membuka ponsel, mengetik nomor tersebut, tetapi tidak langsung menyimpannya. Selama sembilan tahun dia membayangkan bisa menghubungi Melody sekali lagi. Kini kesempatan itu berada satu sentuhan dari ibu jarinya, justru membuatnya takut.
Ketukan di pintu memaksanya meletakkan ponsel.
'Pak Bayu, laporan vendor sudah saya kirim lewat surel,' ujar stafnya.
'Baik. Nanti saya periksa.'
Setelah pintu menutup, Bayu menatap layar lagi. Dia menulis nama lengkap Melody, lalu menghapus kata Melody dan menggantinya dengan Dara's Bakery. Perbuatan itu terasa seperti kebohongan bahkan sebelum ada pesan yang dikirim. Akhirnya dia menyimpan nomor dengan nama aslinya.
Pada waktu bersamaan, Melody duduk di dalam mobil yang belum bergerak dari parkiran sekolah. Dia kesal karena Bayu kembali melarikan diri dari pertanyaan. Namun di balik kesal ada kegembiraan yang membuatnya lebih malu: Bayu menyimpan kartu namanya.
Ponselnya berdering. Jasmine menelepon dari Manado.
'Bu Melody, maaf mengganggu. Soal les Lody sepertinya harus dibatalkan dulu,' katanya.
'Ada masalah?'
'Suami saya kurang nyaman kalau les dilakukan di rumah ketika kami tidak ada.'
Melody memahami kalimat itu sebagai keputusan Bayu. Dia menelan kecewa yang tidak berhak muncul.
'Nggak apa-apa. Kita bisa cari tempat lain. Kalau pihak sekolah mengizinkan, mungkin perpustakaan setelah jam kelas.'
'Saya akan tanyakan. Maaf ya, saya terlanjur janji.'
'Nggak perlu minta maaf. Keselamatan anak memang harus disepakati.'
Setelah telepon berakhir, Melody menyadari betapa mudahnya dia membangun alasan bertemu Bayu melalui Lody. Niat membantu anak itu nyata, tetapi bukan satu-satunya niat. Kesadaran tersebut membuatnya tidak nyaman.
Dia pergi ke kafe dan mencoba bekerja. Sagara dua kali bertanya mengapa laporan pelamar dibaca terbalik. Melody mengusirnya dengan tatapan. Menjelang siang, sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul.
'Ini Bayu. Nomornya aku simpan.'
Hanya enam kata. Jantung Melody tetap berdegup seperti sembilan tahun lalu. Dia mengetik banyak jawaban lalu menghapus semuanya.
'Terima kasih. Jangan lupa utang penjelasannya.'
Balasan Bayu datang lima menit kemudian.
'Aku ingat.'
'Kapan dibayar?'
Tidak ada jawaban sampai satu jam. Melody mulai marah, lalu menertawakan dirinya sendiri. Dia tidak memiliki hak menuntut Bayu menjawab segera. Mereka bukan lagi pasangan. Bahkan percakapan tersebut belum diketahui Arkan atau Jasmine.
Saat menjemput Levi, Melody mendapati Lody berdiri dekat putranya. Mirna belum datang. Lody langsung memeluk pinggang Melody.
'Aunty jadi ngajarin Lody nggak?'
'Masih dibicarakan orang tua, sayang.'
'Ayah nggak boleh, ya?'
Melody berjongkok agar sejajar.
'Bukan begitu. Ayah dan Bunda Lody sedang mencari tempat yang aman dan nyaman. Orang dewasa memang harus bicara dulu.'
Levi menyela bahwa Lody bisa belajar di rumah mereka. Melody mengatakan keputusan bukan milik anak-anak saja. Ketika Mirna tiba, Melody menyampaikan bahwa dia tidak akan membawa Lody ke mana pun sebelum ada persetujuan tertulis orang tuanya.
Malam hari Arkan pulang lebih cepat. Dia membawa makanan kesukaan Levi dan duduk menemani anak mereka mengerjakan tugas. Melody memperhatikan dari pintu. Arkan mungkin sering tenggelam dalam pekerjaan, tetapi bukan ayah yang tidak peduli. Kehadiran Bayu membuat Melody mudah menghitung kekurangan suaminya sambil melupakan usaha yang ada.
'Kamu kenapa lihat-lihat?' tanya Arkan.
'Nggak apa-apa.'
'Sini bantu. Anakmu bilang cara hitungku kuno.'
Melody duduk di sebelah Levi. Selama setengah jam mereka menjadi keluarga yang terlihat biasa. Perasaan bersalah menyelinap ketika ponselnya bergetar di atas meja.
Pesan Bayu berbunyi, 'Besok makan siang di tempat umum. Aku jelaskan sebisaku.'
Melody membalik ponsel sebelum Arkan melihat. Gerakan itu cepat, tetapi Arkan menangkapnya.
'Siapa?'
'Orang toko,' jawab Melody.
Kebohongan tersebut keluar terlalu lancar. Arkan mengangguk lalu kembali pada buku Levi. Melody tidak lagi bisa menikmati kebersamaan mereka. Pesan sederhana telah membuat satu dinding tipis di meja makan.
Di rumah lain, Bayu mengirim pesan itu setelah menidurkan Lody. Jasmine menelepon melalui video, bercerita tentang studi banding. Bayu mendengarkan sambil sesekali menjawab pendek. Ketika Jasmine bertanya apakah ada masalah di kantor, dia berkata tidak.
'A'a kelihatan kepikiran.'
'Cuma capek.'
Bayu menyembunyikan ponsel kedua tangannya di bawah bantal ketika layar kembali menyala. Tidak ada pesan baru dari Melody. Meski demikian, dia merasa seperti baru saja menutup pintu saat istrinya masih berbicara di seberang layar.
Setelah telepon selesai, Bayu menghapus rancangan pesan yang ingin menanyakan kabar Melody. Dia hanya membutuhkan pertemuan untuk menjelaskan masa lalu, katanya kepada diri sendiri. Namun orang yang berniat sekadar menyelesaikan utang tidak seharusnya berkali-kali memeriksa apakah pesannya sudah dibaca.
Melody akhirnya membalas menjelang tengah malam.
'Jam dua belas di kafe dekat sekolah. Satu jam saja.'
Bayu mengetik setuju. Keduanya menatap kata itu dari rumah masing-masing, di samping pasangan yang tidak mengetahui apa-apa. Nomor yang tersimpan telah membuka jalan menuju penjelasan. Namun sebelum satu kebenaran lama terucap, kebohongan baru sudah lebih dulu lahir.
Keesokan paginya Melody hampir membatalkan pertemuan. Dia menulis pesan kepada Bayu bahwa percakapan mungkin seharusnya dilakukan dengan pasangan mereka tahu. Bayu menjawab keputusan ada padanya. Tidak ada rayuan, tetapi justru sikap itu membuat Melody bertahan pada rencana.
Sebelum berangkat, dia meminta Jinan menggantikan urusan toko satu jam. Jinan bertanya apakah Melody sakit. Melody berkata ada urusan lama. Jawaban kabur itu menambah satu orang lagi yang diminta menutup ruang tanpa memahami isinya.
Bayu pun mengubah jadwal makan siangnya tanpa alasan lengkap. Seorang staf harus menunda presentasi. Dia baru menyadari pertemuan pribadi tidak hanya mengambil waktu dari Jasmine; pekerjaan orang lain ikut bergeser. Dia mengembalikan jadwal dan memilih menggunakan jam istirahat tepat satu jam.
Di sekolah, Levi dan Lody tidak mengetahui apa pun. Mereka menggambar keluarga masing-masing. Levi menggambar Arkan membawa tas kerja dan Melody memegang loyang. Lody menggambar Jasmine di depan gedung tinggi serta Bayu mengikat rambutnya. Dua gambar sederhana itu menunjukkan pasangan mereka bukan tokoh sampingan, betapa pun masa lalu memenuhi kepala Bayu dan Melody.
Melody menyimpan foto gambar Levi yang dikirim guru. Sebelum masuk kafe, dia menatapnya lama. Pertemuan ini harus menjawab pertanyaan, bukan membuka hubungan. Dia mengulang batas tersebut pada dirinya sendiri, karena keinginan yang tidak diberi nama mudah menyamar sebagai kebetulan.