Di tempat persembunyian itu, hidup mereka jauh dari keramaian. Udara segar, pemandangan indah, dan hanya ada mereka berdua.
Tapi situasi di luar semakin memanas. Perang antar geng semakin besar. Alessandro harus membagi waktu antara melindungi Naya dan mengatur strategi perangnya.
Suatu malam, Naya terbangun dan melihat Alessandro sedang duduk di teras sambil memegang foto masa kecilnya dan memegang pistol di tangan lainnya.
Naya mendekat dan duduk di sampingnya.
"Mas tidak bisa tidur?"
"Aku tidak bisa membiarkan mereka menyentuhmu, Naya. Tapi cara hidupku ini kotor dan berbahaya. Aku takut menodai kesucianmu."
Naya mengambil tangan Alessandro yang memegang pistol itu, lalu meletakkannya ke samping. Dia menggantikannya dengan menggenggam tangan pria itu erat-erat.
"Dimana ada Mas, di situ ada rumah saya. Kalau Mas harus berperang, saya akan jadi pendukung nomor satu. Kalau Mas lelah, saya akan jadi tempat istirahat. Kita hadapi bersama-sama, ya?"
Alessandro menatap mata indah itu. Dia tidak tahan lagi menahan perasaannya. Dia mendekatkan wajahnya dan akhirnya...
Cup!
Dia mencium Naya. Ciuman pertama yang penuh cinta, rindu, dan ketulusan. Dunia seakan berhenti berputar. Hanya ada mereka berdua di bawah sinar bulan.
"Naya... maukah kau menikah denganku? Resmi, di hadapan Tuhan dan manusia. Aku ingin kau menjadi Nyonya De Luca yang sebenarnya."
Naya menangis bahagia, mengangguk kuat. "Aku mau, Alessandro. Aku mau menjadi istri Bapak, apapun resikonya."
Mereka bertunangan malam itu juga. Alessandro memberikan kalung berlian yang sangat indah yang selalu dia simpan. "Ini hadiah untuk calon istriku."
Mereka akhirnya sampai di tempat persembunyian rahasia milik Alessandro yang terletak di tengah pegunungan yang asri dan jauh dari keramaian kota. Di sana hidup mereka sangat sederhana namun penuh kehangatan. Alessandro harus membagi waktunya antara memimpin pasukan lewat jarak jauh dan meluangkan waktu bersama Naya. Suatu malam Naya terbangun dan melihat Alessandro duduk sendirian di teras sambil memegang senjata api dan foto masa kecilnya. Wajahnya tampak sangat lelah dan penuh beban. Naya mendekat dengan pelan lalu duduk di sampingnya. "Mas belum tidur?" "Aku tidak bisa tidur Naya. Hidupku ini penuh dengan darah dan kekotoran. Aku takut kalau aku terus bersamamu, kesucian dan kebaikanmu akan ikut ternoda oleh dunia gelapku ini." Naya tersenyum lembut lalu mengambil pistol dari tangan Alessandro dan meletakkannya jauh. Dia menggantikannya dengan menggenggam tangan besar itu erat-erat. "Dimana ada Mas di situ ada rumahku. Kalau Mas harus berperang aku akan menjadi pendukung terkuatmu. Kalau Mas lelah aku akan menjadi tempatmu bersandar dan beristirahat. Kita hadapi semua masalah ini bersama-sama ya?" Mendengar ucapan tulus itu hati Alessandro seakan meleleh. Dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Dia mendekatkan wajahnya perlahan dan akhirnya mencium bibir Naya dengan lembut namun penuh gairah. Itu adalah ciuman pertama mereka yang begitu indah dan penuh makna. Dunia seakan berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. "Naya... maukah kau menikah denganku? Secara resmi di hadapan Tuhan dan semua orang. Aku ingin kau menjadi Nyonya De Luca yang sesungguhnya dan ibu dari anak-anakku nanti." Naya menangis bahagia sambil mengangguk berkali-kali. "Aku mau Alessandro! Aku mau menjadi istrimu apapun yang terjadi, apapun resikonya aku siap menerimanya." Malam itu mereka bertunangan. Alessandro memberikan kalung berlian paling indah yang dia simpan selama bertahun-tahun sebagai tanda cinta abadi mereka.