Beberapa minggu berlalu, kondisi Alessandro sudah pulih total. Kekuatan dan wibawanya sudah kembali seperti sedia kala. Namun, dia enggan pergi. Dia ingin tetap di sini bersama Naya.
Suatu hari, Naya memberanikan diri bertanya tentang keluarga Alessandro.
"Mas Alessandro, Bapak tidak punya orang tua atau keluarga?"
Alessandro terdiam lama, wajahnya tampak sedih. "Aku punya orang tua. Tapi mereka sudah meninggal sejak aku kecil. Mereka dibunuh oleh saingan bisnis. Sejak saat itu, aku dibesarkan oleh pamanku dan diajarkan untuk menjadi kuat, kejam, dan tidak boleh percaya pada siapa pun kecuali uang dan kekuasaan."
Naya tertegun mendengarnya. Jadi selama ini Alessandro hidup dengan rasa dendam dan kesepian.
"Kasihan sekali Bapak..." Naya memeluk pinggang Alessandro erat-erat. "Sekarang Bapak tidak sendirian lagi. Ada saya di sini."
Alessandro membalas pelukan itu, menghirup aroma tubuh Naya yang menenangkan. "Terima kasih, Sayang. Karena kau, aku belajar untuk memaafkan dan belajar untuk mencintai lagi."
Tiba-tiba, ponsel Alessandro berdering keras. Itu panggilan darurat dari markasnya.
"Halo?"
"Bos! Bahaya! Kelompok 'Black Shadow' sudah tahu keberadaan Anda dan gadis itu! Mereka sedang bergerak ke arah sana sekarang! Banyak sekali!" teriak suara di ujung telepon.
Wajah Alessandro berubah pucat. Dia tidak takut pada musuh, tapi dia takut Naya akan terluka.
"Naya! Cepat kemas barang-barang penting! Kita harus pergi sekarang!" seru Alessandro panik.
"Kenapa? Ada apa?"
"Tidak ada waktu jelasin! Mereka datang untuk membunuhku dan mungkin akan menyakitimu! Ayo!"
Alessandro menarik tangan Naya lari menuju mobil tua yang dia sembunyikan di dekat sana. Mereka baru saja pergi, beberapa detik kemudian sekelompok orang bersenjata datang dan menghancurkan warung nasi goreng itu sampai rata dengan tanah.
Naya menangis melihat warungnya yang sudah menjadi rumahnya bertahun-tahun hancur begitu saja. "Warung saya... itu satu-satunya harta saya..."
"Aku janji, Naya. Suatu hari nanti aku akan membangunkanmu tempat yang jauh lebih indah dan besar dari ini. Tapi sekarang, keselamatanmu adalah nomor satu."
Mereka melaju kencang meninggalkan kota, menuju tempat persembunyian rahasia Alessandro di pegunungan.
Semakin lama mereka bersama semakin banyak cerita yang terungkap. Naya akhirnya tahu bahwa Alessandro bukanlah orang sembarangan. Dia adalah pemimpin organisasi terbesar yang menguasai hampir seluruh bisnis di kota. Namun di balik kekayaan dan kekuasaan itu tersimpan luka mendalam di masa lalu. "Aku punya orang tua Naya, tapi mereka sudah tiada sejak aku masih kecil. Mereka dibunuh oleh saingan bisnis yang licik. Sejak saat itu aku dibesarkan oleh pamanku yang mengajarkanku satu hal saja, bahwa dunia ini kejam dan hanya yang kuat yang bisa bertahan hidup. Aku diajarkan untuk tidak percaya pada siapa pun kecuali uang dan kekuasaan," cerita Alessandro dengan wajah sendu sambil menatap jauh ke depan. Naya merasa sangat kasihan pada pria itu, dia tidak pernah tahu bahwa di balik tubuh kekar dan wajah tampan itu tersimpan kesepian yang begitu dalam. Tanpa berpikir panjang Naya langsung memeluk pinggang Alessandro erat-erat. "Sekarang Mas tidak sendirian lagi. Ada saya di sini yang akan selalu menemani, mencintai, dan menerima Mas apa adanya." Alessandro membalas pelukan itu dengan sangat kuat seolah takut kehilangan. "Terima kasih Naya, kau seperti malaikat yang turun dari langit untuk menyelamatkan jiwaku yang gelap ini." Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba telepon genggam Alessandro berdering keras dengan nada darurat. "Halo! Apa terjadi?" tanyanya cepat. "Bahaya Bos! Kelompok Black Shadow sudah tahu lokasi Anda dan gadis itu! Mereka sedang bergerak ke sana dengan pasukan besar! Segera lari sebelum terlambat!" teriak suara panik di seberang sana. Wajah Alessandro berubah pucat pasi. Dia tidak takut mati tapi dia sangat takut jika Naya sampai terluka karenanya. "Naya! Cepat ambil barang penting kita harus pergi sekarang!" serunya panik sambil menarik tangan Naya. "Kenapa Mas? Ada apa ini?" tanya Naya bingung. "Tidak ada waktu untuk jelaskan! Musuh datang mereka ingin membunuhku dan kau bisa jadi sasaran! Ayo cepat!" Mereka segera berlari menuju mobil yang disembunyikan di dekat sana. Baru saja mobil mereka melaju kencang meninggalkan lokasi, puluhan orang bersenjata lengkap datang dan menghancurkan warung nasi goreng itu hingga rata dengan tanah. Naya menangis melihat harta satu-satunya hancur begitu saja. "Warungku... itu semua yang aku punya..." "Aku janji Naya, suatu hari nanti aku akan membangunkan tempat yang jauh lebih indah dan megah dari ini. Tapi sekarang keselamatanmu adalah prioritas utamaku," ucap Alessandro tegas sambil memacu kendaraannya menjauh dari bahaya.