Hari-hari setelah kejadian penyelamatan itu, hubungan mereka semakin dekat. Alessandro yang biasanya dingin dan tidak banyak bicara, kini menjadi sangat perhatian.
Setiap pagi, dia akan bangun lebih awal untuk membantu Naya menyiapkan bahan-bahan jualan. Meskipun tangannya yang besar dan kasar itu terlihat sangat tidak cocok memegang bawang merah atau cabai, dia melakukannya dengan senang hati.
"Naya, ini bawangnya mau diiris tipis atau agak besar?" tanya Alessandro dengan wajah serius seolah sedang memimpin rapat penting.
Naya tertawa melihatnya. "Iris tipis aja, Mas Alessandro. Tapi hati-hati jangan sampai terluka."
"Jangan khawatir. Tanganku ini biasa memegang benda berat," jawabnya bangga, tapi baru saja pisau menyentuh bawang, dia langsung meringis. "Aduh!"
Naya langsung berlari kecil memegang tangannya. "Ah, sudah bilang hati-hati. Coba sini, biar saya yang potong. Mas Alessandro lebih cocok jadi model aja sih, ganteng banget kalau diam."
Wajah Alessandro memerah. Jarang sekali ada orang yang menggodanya seperti ini. "Kau menggodaku, Naya?"
"Enggak kok, itu kan kenyataan," jawab Naya sambil tersenyum menggoda.
Meskipun mereka sangat bahagia, kadang bayang-bayang masa lalu dan perbedaan status itu muncul. Suatu sore, ada beberapa teman lama Alessandro yang tidak sengaja menemukan lokasi mereka.
"Hei, Bos! Apa yang Anda lakukan di tempat kumuh begini?" tanya salah satu pria berjas mahal itu dengan nada meremehkan sambil melirik Naya yang sedang sibuk mengaduk wajan. "Siapa gadis kampungan ini? Pembantu Anda?"
Suasana langsung menjadi tegang. Naya berhenti mengaduk, tangannya gemetar. Dia merasa sangat kecil dan tidak pantas berada di dekat Alessandro.
Alessandro yang biasanya tenang, tiba-tiba menatap temannya itu dengan tatapan membunuh. Suaranya rendah tapi penuh ancaman.
"Jaga mulutmu. Dia bukan pembantu, dan ini bukan tempat kumuh. Ini adalah tempat paling damai di dunia. Dan dia... dia adalah wanita yang akan menjadi nyawaku. Kalau kau tidak sopan lagi, jangan harap kau bisa keluar dari sini dengan utuh."
Pria itu terkejut dan langsung ketakutan. "Ma-maaf, Bos! Saya tidak tahu..."
"Pergi. Dan jangan pernah beri tahu siapa pun lokasi ini," perintah Alessandro dingin.
Setelah orang-orang itu pergi, Alessandro langsung berbalik menghadap Naya. Wajahnya berubah lembut seketika.
"Naya, jangan dengar omongan mereka. Kau cantik, baik, dan berharga di mataku. Status sosial itu tidak ada artinya bagiku."
Naya menunduk, air matanya jatuh ke wajan panas. "Tapi Mas... mereka benar. Saya ini cuma penjual nasi goreng. Bapak itu orang besar. Pasti banyak wanita cantik, kaya, dan berpendidikan yang lebih pantas buat Bapak."
Alessandro memegang kedua bahu Naya, memaksanya menatap matanya.
"Dengar baik-baik. Wanita kaya dan cantik itu banyak. Tapi wanita yang mau merawat orang asing yang terluka di tengah hujan, yang mau berbagi makanan terakhirnya, dan yang bisa membuatku merasa hidup... cuma ada satu. Itu kamu, Naya. Hanya kamu."
Kata-kata itu menenangkan hati Naya. Dia percaya pada cinta mereka.
Hari berganti hari, ikatan di antara mereka semakin kuat tak terpisahkan. Alessandro yang dulunya dingin dan tak tersentuh kini berubah menjadi sosok yang sangat perhatian dan lembut. Setiap pagi dia akan bangun lebih awal untuk membantu Naya menyiapkan bahan-bahan dagangan. Meskipun tangannya yang besar dan kokoh terlihat sangat tidak pas memegang pisau dapur atau mengupas bawang, dia melakukannya dengan senang hati karena tahu itu membuat Naya tersenyum. "Naya, ini irisan bawangnya sudah cukup tipis belum?" tanyanya dengan wajah serius seolah sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Naya selalu tertawa melihat tingkah lucu kekasihnya itu. "Sudah bagus kok Mas, tapi hati-hati jangan sampai terluka." "Jangan khawatir, tangan ini biasa memegang benda berat," jawabnya bangga, namun tak lama kemudian dia meringis kesakitan karena jarinya tersayat pisau. Naya langsung berlari kecil mengobati luka kecil itu dengan penuh perhatian. Saat itulah Alessandro sadar betapa berharganya sentuhan lembut seorang wanita dibandingkan kekerasan yang selalu dia rasakan selama ini. Namun kebahagiaan mereka tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan status sosial itu sering kali menjadi duri dalam daging. Suatu sore beberapa rekan bisnis Alessandro menemukan keberadaan mereka. Pria-pria berjas mahal itu menatap remeh ke arah warung nasi goreng yang sederhana dan juga ke arah Naya. "Wah Bos, ternyata Anda bersembunyi di tempat kumuh begini? Dan siapa gadis kampungan ini? Pembantu baru Anda?" ejek salah satu dari mereka dengan nada merendahkan. Suasana langsung menjadi hening dan tegang. Naya merasa sangat kecil dan tidak pantas berdiri di samping Alessandro. Tangannya gemetar dan dia menunduk malu. Namun di luar dugaan, Alessandro yang biasanya tenang tiba-tiba menatap orang itu dengan mata yang memancarkan aura membunuh. Suaranya rendah namun penuh ancaman yang membuat bulu kuduk merinding. "Jaga mulutmu baik-baik. Dia bukan pembantu dan ini bukan tempat kumuh, ini adalah tempat paling damai di dunia. Dan dia adalah wanita yang akan menjadi nyawaku. Kalau kau berani tidak sopan sekali lagi, jangan harap kau bisa keluar dari sini dengan tubuh utuh." Mendengar itu orang-orang tersebut langsung ketakutan setengah mati dan meminta maaf berkali-kali sebelum akhirnya pergi dengan ketakutan. Setelah mereka pergi Alessandro langsung memegang kedua bahu Naya dan menatap matanya dalam-dalam. "Jangan pernah dengarkan omongan mereka Naya. Bagiku kau adalah wanita paling cantik, paling baik, dan paling berharga di seluruh dunia. Uang dan jabatan itu tidak ada artinya kalau tidak ada cinta." Naya menangis terharu mendengarnya, dia sadar bahwa cintanya pada pria itu benar-benar tulus tanpa memandang apa-apa.