Kebahagiaan mereka tidak berlangsung selamanya. Kehidupan Alessandro tidak bisa dia sembunyikan selamanya.
Suatu sore, saat Naya sedang sibuk melayani pembeli, beberapa mobil mewah berhenti mendadak di depan warungnya. Puluhan pria berjas hitam dengan earpiece keluar berbaris rapi.
Mereka berlutut serentak saat Alessandro keluar dari gubuk dengan penampilan yang sudah jauh lebih segar dan rapi.
"Selamat datang kembali, Bos!" seru mereka serentak.
Suasana langsung ricuh. Pembeli pada panik dan lari. Naya berdiri terpaku di belakang wajan, tangannya gemetar melihat pemandangan itu.
Alessandro berjalan dengan wibawa yang luar biasa. Tatapan dingin dan tajam itu kembali. Dia bukan lagi Alessandro yang canggung memegang spatula, dia adalah Raja yang kembali ke kerajaannya.
"Siapkan semua. Kita pulang," perintah Alessandro singkat.
Dia menoleh ke arah Naya yang berdiri kaku. Wajah gadis itu pucat pasi.
"Naya..." Alessandro berjalan mendekat.
"Jangan dekati saya!" teriak Naya mundur selangkah. Air matanya mulai jatuh. "Jadi selama ini... Bapak bohongin saya? Bapak itu orang besar? Orang yang... yang berbahaya?"
"Aku tidak bermaksud membohongimu, Naya. Aku cuma..."
"Sudah cukup!" Naya menggeleng keras. "Dunia kita beda jauh, Pak. Saya ini cuma penjual nasi goreng miskin. Dan Bapak... Bapak itu seperti di film-film. Kita tidak mungkin bersama. Orang-orang Bapak pasti akan membenci saya. Dan musuh Bapak... mereka bisa menyakiti saya."
Naya merasa sangat bodoh. Dia sudah menaruh hati, tapi ternyata pria itu hidup di dunia yang penuh darah dan kekerasan.
"Naya, dengarkan aku. Siapa pun aku, perasaanku padamu itu nyata. Aku mau melindungimu. Aku mau kita bersama," kata Alessandro berusaha memegang tangan Naya, tapi gadis itu mundur lagi.
"Tidak bisa! Tolong pergi saja, Pak Alessandro. Kembali ke dunia Bapak. Lupakan gubuk kecil ini. Lupakan Naya penjual nasi goreng ini."
Hati Alessandro terasa diremas sakit. Melihat air mata Naya jatuh, rasanya lebih perih daripada ditembak peluru.
"Baiklah..." Alessandro menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya. "Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat satu hal, Naya. Hati ini sudah milikmu. Dimanapun aku berada, aku akan selalu kembali untukmu."
Alessandro masuk ke dalam mobil mewahnya. Barisan mobil itu pergi meninggalkan debu dan kepulan asap, meninggalkan Naya yang menangis tersedu di tengah jalan.