Hari berganti pagi. Sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah dinding papan.
Alessandro membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat, tapi rasa sakitnya sudah berkurang drastis. Dia menoleh ke sekeliling dan terkejut melihat tempat di mana dia berada.
Sangat sederhana, bahkan bisa dibilang kumuh bagi standar hidupnya. Tapi sangat bersih dan rapi. Bau harum rempah-rempah dan makanan yang dimasak memenuhi udara.
Dia menoleh ke samping dan melihat Naya yang sedang duduk di bangku kecil, sibuk mengupas bawang merah. Wajah gadis itu terlihat lelah, ada kantung mata hitam di bawah kelopaknya karena semalam tidak tidur.
Melihat Alessandro sudah bangun, Naya langsung tersenyum cerah. "Oh, Bapak sudah bangun! Gimana rasanya? Masih sakit?"
Alessandro diam memandangnya. "Di mana ini?"
"Di tempat saya tinggal. Di belakang warung nasi goreng," jawab Naya santai. "Semalam Bapak kecelakaan parah, ingat nggak?"
Alessandro mengingatnya. Ingatan tentang penyergapan anak buah musuhnya, tembakan, dan tabrakan itu kembali muncul. Dia mengecek tubuhnya. Lukanya sudah dibalut perban rapi.
"Kau yang merawatku semalaman?" tanyanya.
"Iya. Soalnya kalau dibawa ke rumah sakit, Bapak kan tidak bawa uang dan identitas. Takutnya malah jadi masalah. Lagian luka tembak... eh, maksudnya luka goresnya itu lumayan parah, jadi saya obatin dulu pakai obat yang ada," kata Naya sedikit terbata-bata. Dia sebenarnya sadar itu luka tembak, tapi dia memilih tidak bertanya agar pria itu tidak merasa terancam.
Alessandro menatapnya tajam. "Kau tahu ini luka tembak?"
Naya mengangguk pelan. "Iya. Tapi saya tidak akan tanya apa-apa kok. Itu rahasia Bapak. Saya cuma mau tolong."
Kejujuran dan ketulusan gadis itu membuat pertahanan Alessandro runtuh. Dia menghela napas panjang. "Namamu Naya, benar?"
"Betul. Naya."
"Aku Alessandro."
"Oke, Pak Alessandro. Sekarang Bapak harus makan. Saya sudah masak bubur ayam hangat. Biar cepat pulih," kata Naya sambil mengambil mangkuk kecil dan mendekat ke kasur.
Alessandro tertegun. Dia adalah orang yang paling ditakuti, orang yang makan di restoran bintang lima dengan piring emas, tapi sekarang dia disodori bubur sederhana di gubuk reyot.
"Aku tidak makan..."
"Harus makan! Kalau tidak makan, lukanya nggak bakal kering. Ayo buka mulutnya, saya suapi," kata Naya dengan wajah memelas yang lucu.
Entah kenapa, Alessandro tidak bisa menolak. Dia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama. Rasanya... luar biasa enak. Hangat, gurih, dan terasa seperti... rumah.
Selama berminggu-minggu, Alessandro terpaksa tinggal di sana karena kondisinya belum memungkinkan untuk bergerak. Dia menyuruh anak buahnya untuk tidak mencarinya dulu, dia ingin menikmati kedamaian yang jarang dia rasakan.
Hari-hari mereka lewat dengan indah. Naya mengajarinya banyak hal sederhana. Cara menyapu halaman, cara mencuci piring, bahkan cara mengaduk nasi goreng.
"Nah, gitu dong Pak Alessandro! Api jangan terlalu besar, nanti gosong," tertawa Naya melihat pria kekar itu canggung memegang spatula kecil.
Alessandro tersenyum. Senyum tulus yang sangat jarang dia tampilkan. "Ini lebih sulit daripada mengatur pasukan."
"Tentu saja! Karena ini soal hati, soal rasa. Kalau masak dengan hati yang tenang, rasanya pasti enak," jawab Naya bijak.
Alessandro menatap wajah Naya yang berseri-seri di bawah sinar lampu temaram. Jantungnya yang selama ini terbuat dari batu, tiba-tiba berdegup kencang.
"Naya..."
"Ya?"
"Kenapa kau baik sekali padaku? Kau tidak tahu siapa aku. Aku bisa saja orang jahat, pembunuh, penjahat..."
Naya meletakkan spatulanya dan menatap Alessandro dalam-dalam. "Di mata saya, Bapak itu Alessandro yang baik. Alessandro yang kalau diajari masak salah terus, Alessandro yang kalau tidur kadang ngigau takut, dan Alessandro yang sebenarnya kesepian."
Air mata hampir menetes di mata Alessandro. Tidak ada yang pernah melihat sisi itu darinya. Semua orang hanya melihat 'Bos' yang kejam.
"Naya..." Alessandro menggenggam tangan kecil Naya. "Aku... aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Rasanya hangat."
Naya tersipu malu, pipinya memerah seperti tomat. "I-itu karena Bapak lagi sakit makanya perasaannya sensitif."
"Bukan," potong Alessandro tegas. Dia mendekatkan wajahnya, membuat jarak mereka hanya beberapa senti. "Aku jatuh cinta padamu, Naya. Pada gadis penjual nasi goreng yang berhati malaikat."