Hujan turun sangat deras malam itu, membasahi aspal jalanan kota yang mulai sepi. Suara deru mesin motor dan klakson mobil sudah jarang terdengar, hanya tersisa suara rintik air yang menghantam atap warung-warung kecil.
Di sebuah sudut jalan yang agak gelap, Naya sibuk mengaduk wajan besar. Asap mengepul membawa aroma harum nasi goreng spesial buatannya. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu tersenyum ramah pada setiap pelanggan yang lewat, meski tubuhnya sudah terasa lelah setelah berdiri seharian.
"Mas, nasi gorengnya pedas ya!" seru seorang pengendara ojek online.
"Siap, Mas! Sebentar ya," jawab Naya lembut.
Naya tahu hidupnya tidak mudah. Sejak orang tuanya meninggal, dia harus bertahan hidup sendiri. Jualan nasi goreng adalah satu-satunya cara dia bertahan. Tidak ada kemewahan, tidak ada harta, tapi hatinya selalu penuh keikhlasan.
Tiba-tiba, suara derum mobil sport yang sangat kencang memecah keheningan. Suara itu disusul dengan bunyi BRAAKK! yang sangat keras. Sebuah mobil hitam mewah menabrak pembatas jalan beberapa meter dari tempat Naya berjualan.
Naya terkejut dan hampir menjatuhkan spatulanya. Beberapa pelanggan langsung berlarian mendekat, tapi sebagian lain justru mundur ketakutan karena terdengar suara kaca pecah dan bensin yang bau menyengat.
"Ada apa itu?!" teriak salah satu pembeli.
Naya tidak peduli dengan rasa takutnya. Instingnya mengatakan seseorang mungkin butuh pertolongan. Dia segera meletakkan alat masaknya dan berlari kecil menuju lokasi kecelakaan itu.
Di dalam mobil yang sudah penyok parah, terlihat seorang pria tergeletak lemah di setir. Darah mengalir deras dari kepalanya dan bahunya. Pakaiannya compang-camping, terlihat bekas luka tembak yang mengerikan.
Tapi yang membuat Naya tertegun sejenak adalah wajah pria itu. Meski berlumuran darah dan wajahnya penuh luka, dia terlihat sangat tampan. Tatapan matanya yang tajam kini mulai meredup, seolah akan tertutup selamanya.
"Pak! Tuan! Bangun!" panggil Naya sambil mencoba membuka pintu mobil yang terkunci.
Untungnya pintu sebelah penumpang bisa dibuka. Naya langsung meraba leher pria itu untuk mengecek nadinya. Masih ada, tapi sangat lemah.
"Dia masih hidup! Cepat tolong dia!" seru Naya pada orang-orang yang sudah berkerumun.
Namun, beberapa orang justru tampak ragu. "Nay, jangan deket-deket. Lihat tuh baju dan mobilnya, kayaknya orang penting atau... atau orang berbahaya. Maling atau penjahat kali," bisik salah satu tetangga yang kenal Naya.
Naya menggeleng tegas. "Enggak bisa gitu, Pak. Sekarang dia cuma orang yang terluka. Kalau dibiarin, dia bisa mati."
Tanpa mempedulikan omongan orang lain, Naya mengerahkan seluruh tenaganya yang kecil untuk menarik tubuh kekar pria itu keluar dari mobil. Berat sekali, tapi entah dari mana datangnya kekuatan, akhirnya pria itu bisa ia bawa keluar dan diletakkan di tanah yang kering.
"Nay, kamu gila ya? Bawa ke rumahmu nanti kalau dia orang jahat gimana?"
"Kalau dibiarin di sini dia pasti mati kedinginan atau ditemukan musuhnya! Aku bawa ke gubukku dulu, obatin luka dia," tegas Naya.
Dengan bantuan salah satu pemuda baik hati, mereka menggotong pria itu menuju gubuk kecil semi permanen yang berada tepat di belakang warung nasi goreng Naya.
Sesampainya di sana, Naya langsung menidurkannya di atas kasur tipisnya sendiri. Dia mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan luka-luka di wajah dan tubuh pria itu.
Saat kain basah menyentuh kulitnya, pria itu mendesis kesakitan dan tiba-tiba tangannya yang besar mencengkeram pergelangan tangan Naya dengan sangat kuat.
JEDAR!
Naya tersentak kaget. Pria itu membuka matanya sedikit. Tatapannya begitu dingin, tajam, dan mematikan. Seolah-olah dia adalah seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.
"Siapa kau?!" suaranya parau tapi penuh wibawa dan ancaman.
Naya gemetar tapi berusaha tenang. "S-saya Naya. Saya nemu Bapak kecelakaan di depan. Saya mau obatin luka Bapak."
Pria itu mengerutkan kening, menatap gadis di depannya dengan curiga. Dia terbiasa melihat orang-orang gemetar ketakutan atau memandangnya dengan rasa iri dan serakah. Tapi gadis ini... matanya bersih. Tidak ada rasa takut yang berlebihan, hanya ada kekhawatiran tulus.
"Jangan sentuh aku," desis pria itu berusaha bangun, tapi rasa sakit di bahunya membuatnya meringis dan jatuh kembali ke bantal.
"Diam saja dulu! Luka Bapak parah sekali. Kalau Bapak paksa bergerak, darahnya makin banyak keluar," kata Naya kali ini dengan nada sedikit tegas, tapi tetap lembut.
Pria itu menatapnya lekat-lekat. Selama hidupnya, tidak ada satu orang pun yang berani berbicara padanya seperti itu. Semua orang tahu siapa Alessandro De Luca, pemimpin organisasi mafia terbesar di kota ini. Satu perintahnya, nyawa bisa melayang.
Tapi di hadapan gadis penjual nasi goreng ini, dia merasa tidak berdaya.
"Kau tidak tahu siapa aku..." gumam Alessandro lemah. "Kalau kau tahu, kau pasti akan lari menjauh sejauh mungkin."
Naya tersenyum tipis sambil terus membersihkan lukanya dengan hati-hati. "Saya tidak peduli siapa Bapak. Bapak itu manusia, sama seperti saya. Yang butuh pertolongan harus ditolong, itu saja."
Alessandro terpaku. Kata-kata sederhana itu seakan menembus dadanya yang keras selama puluhan tahun. Selama ini dia hanya dikelilingi orang yang mau uang, kekuasaan, atau takut padanya. Tidak pernah ada yang melihatnya sebagai 'manusia biasa'.
Malam itu, di gubuk sempit yang berbau obat merah dan sisa aroma masakan, Alessandro tertidur lelap untuk pertama kalinya tanpa rasa was-was. Di sampingnya, Naya terus berjaga, sesekali mengganti kompres di dahinya.