Pak Suryo tidak menelepon selama empat hari, dan Fahmi merasakan ketidakhadiran itu seperti kursi kosong di meja makan.
Ia tidak menyadari seberapa ia menanti panggilan pukul sepuluh pagi itu sampai panggilan itu tidak datang. Hari pertama, ia pikir Pak Suryo sedang sibuk. Hari kedua, ia mulai memeriksa log diam-diam, mencari nomor pelanggan yang ia hafal, dan tidak menemukan aktivitas. Hari ketiga, ia gelisah. Hari keempat, pukul sebelas, panggilan itu akhirnya masuk, dan suara Pak Suryo terdengar berbeda — lemah, serak, terengah.
"Mas Fahmi? Ini... Bapak. Maaf ya, Bapak nggak nelpon. Bapak sakit. Masuk angin, mungkin. Atau apa." Napasnya pendek-pendek. "WiFi Bapak... ah, sebenarnya WiFi-nya nggak apa-apa. Bapak cuma... pengen denger ada yang ngomong. Sepi banget di sini, Mas."
Fahmi mencengkeram tepi mejanya. Ada yang tidak beres dengan napas itu. Sebagai anak teknik ia tidak tahu apa-apa soal medis, tapi sebagai manusia ia tahu suara orang tua yang sendirian dan sakit dan mungkin tidak makan dengan benar selama empat hari adalah suara yang membunyikan alarm di dadanya.
"Pak, Bapak udah makan?" Pertanyaan itu meluncur sebelum naskah mana pun.
"Sedikit. Nggak ada yang masak. Bapak males ke warung, badannya nggak enak."
"Bapak ada keluarga deket? Tetangga? Ada yang bisa Bapak panggil?"
Keheningan panjang yang menyakitkan. "Anak Bapak di Surabaya, Mas. Jauh. Tetangga... ada, tapi Bapak nggak enak ngerepotin."
Nggak enak ngerepotin. Fahmi mengenali kalimat itu seperti mengenali wajahnya sendiri di cermin. Itu kalimatnya sendiri. Itu penyakitnya sendiri, dipantulkan kembali dari ujung telepon oleh seorang kakek tujuh puluh tiga tahun yang sedang sakit sendirian.
Dan di sinilah godaan itu datang, besar dan jelas. Fahmi bisa memberi Pak Suryo nomornya. Nomor pribadinya. Ia bisa bilang, Pak, kalau Bapak butuh apa-apa, telepon saya, saya bantu cariin tetangga, saya hubungin RT setempat, saya pastiin ada yang ngecek Bapak. Itu manusiawi. Itu benar, secara hati. Dan itu melanggar salah satu aturan paling keras di tempat ini, aturan yang diulang Wulan di setiap briefing: kamu tidak boleh memberi nomor pribadi. Tidak pernah. Aturan itu ada karena alasan yang masuk akal — keamanan agen, batas profesional, perlindungan dua arah. Fahmi tahu alasannya. Ia juga tahu, saat ini, di telinganya, alasan itu terasa sekecil debu dibanding napas pendek seorang kakek.
Tangannya sudah memegang pena. Ia hampir menyebut angka-angka itu.
Lalu sesuatu menahannya — bukan aturan, melainkan ingatan. Pram, di lantai yang basah oleh kelelahan, berkata ini baru permulaannya. Wajah Pram yang takut. Tangannya sendiri yang gemetar tiga hari lalu. Dan ia sadar: jika ia memberi nomornya, ia tidak menyelamatkan Pak Suryo. Ia hanya memindahkan beban itu ke pundaknya sendiri, pundak yang sudah retak, dan ketika ia akhirnya runtuh — dan ia akan runtuh, ia mulai paham itu — Pak Suryo akan ditinggalkan dengan nomor yang tidak lagi menjawab. Itu lebih kejam daripada tidak memberi sama sekali.
Maka Fahmi melakukan hal yang lebih sulit daripada melanggar aturan. Ia menahan dirinya, dan ia mencari jalan yang benar. "Pak, sebentar, ya. Jangan ditutup teleponnya." Ia menahan Pak Suryo di jalur, dan dengan tangan satunya, ia mengetik, mencari. NetraLink punya alamat pemasangan tiap pelanggan. Ia tahu Pak Suryo di Klender. Ia menelepon, lewat jalur resmi yang ia gali sendiri, layanan darurat kelurahan setempat, lalu menghubungi tim lapangan yang kebetulan punya teknisi di area Klender hari itu. Bukan kewenangannya. Ia melewati batas, ia tahu, tapi ia melewatinya lewat pintu yang benar, bukan lewat jendela. Ia meminta, dengan suara yang membuat orang sulit menolak, agar seseorang sekadar mengecek Pak Suryo. Mengetuk pintunya. Memastikan ia makan.
Butuh empat puluh menit dan tiga panggilan dan satu teguran kecil dari sistem karena AHT-nya meledak. Tapi sore itu, Fahmi menerima konfirmasi: teknisi lapangan, dengan alasan memeriksa perangkat, mampir ke rumah Pak Suryo, mendapatinya lemah tapi sadar, dan menghubungi puskesmas terdekat serta seorang tetangga yang ternyata baik hati dan hanya tidak tahu Pak Suryo sakit. Pak Suryo dibawa berobat. Ia akan baik-baik saja.
Fahmi tidak memberi nomornya. Dan entah bagaimana, itu terasa seperti kemenangan yang lebih besar daripada jika ia memberikannya.
Malam itu, di rooftop, ia menceritakannya pada Pram. Pram mendengarkan, menghisap rokoknya, dan lama tidak bicara. Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, ia berkata, "Aku dulu kasih nomorku."
Fahmi menoleh.
"Tiga tahun lalu. Ada pelanggan. Mirip Pak Suryo-mu. Sendirian, sakit. Aku kasih nomorku." Pram menatap kota di bawah, matanya jauh. "Awalnya cuma dia. Terus aku kasih ke yang lain. Terus aku jadi orang yang ditelepon tengah malam sama orang-orang asing yang nggak punya siapa-siapa lagi. Dan aku nggak bisa bilang nggak. Sama kayak kamu." Ia tertawa, kering, tanpa kegembiraan. "Setahun. Aku tahan setahun. Terus aku ambruk. Beneran ambruk, Mi. Tiga bulan aku nggak bisa angkat telepon sama sekali, telepon apa pun, denger nada dering aja tanganku gemeteran. Aku ganti nomor. Aku nggak pernah tahu gimana nasib mereka semua. Sampai sekarang aku kepikiran." Ia membuang puntung rokoknya. "Aku jadi sinis ini bukan karena aku nggak peduli, Mi. Aku jadi sinis karena aku terlalu peduli, dan itu ngancurin aku. Sinis ini baju zirah. Biar aku bisa tetap dateng ke sini tiap hari tanpa abis."
Fahmi memandang Pram, dan untuk pertama kalinya seluruh sosok itu masuk akal. Sinisme yang melindungi luka. Datar yang menyembunyikan terlalu banyak. "Kenapa kamu nggak resign aja?"
Pram tersenyum tipis, getir dan jujur. "Karena di mana lagi orang kayak kita kerja, Mi? Aku, kamu, Tari. Lulusan pas-pasan, dari keluarga yang butuh kiriman tiap bulan. Ini bukan pilihan. Ini satu-satunya pintu yang kebuka." Ia menatap Fahmi. "Makanya, kalau pintu ini ketutup—" Ia berhenti, seakan baru ingat sesuatu, dan wajahnya berubah. "Mi. Aku denger sesuatu. Dari Wulan, nggak sengaja. Ada rapat tertutup Pak Hendra sama NetraLink. Soal sesuatu yang gede. Aku nggak tahu detailnya. Tapi dari nada Wulan—" Ia menggeleng pelan. "Aku punya firasat buruk. Soal kita semua."